Jakarta Timur, EKOIN.CO – Walikota Administrasi Jakarta Timur, Munjirin, resmi membuka Program Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMA Negeri 39, Jalan RA. Fadillah, Kecamatan Pasar Rebo, Senin pagi. Dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas PPAPP DKI Jakarta, Iin Mutmainnah, juga turut hadir, memberikan penekanan pada pentingnya keamanan dan kenyamanan bagi siswa baru.
Pada hari pertama MPLS, Walikota menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pengenalan sekolah, melainkan momentum penting memperkuat pemahaman nilai-nilai sekolah. Ia juga menyampaikan harapannya agar kakak kelas bersikap sebagai pembimbing yang baik bagi adik-adik siswa baru.
Lebih lanjut, Munjirin menyoroti kekhawatiran terkait kekerasan dan perundungan (bullying) di lingkungan sekolah. Ia menekankan bahwa pihaknya sedang aktif mengedukasi siswa, orang tua, dan guru untuk menghindari tindakan yang bisa merugikan.
“Kami melakukan edukasi mulai dari orangtua, siswa dan guru supaya menghindari hal yang tak diinginkan,” kata walikota dengan tegas.
Selain itu, walikota juga menegaskan bahwa pencegahan tawuran pelajar menjadi prioritas. Meskipun pemerintahan kota bersama TNI-Polri sudah melakukan cipta kondisi di wilayah rawan, kolaborasi dengan masyarakat, khususnya orang tua pelajar, masih perlu diperkuat.
“Pencegahan terhadap tawuran juga harus dilakukan bersama-sama, khususnya orangtua,” ujarnya.
Ia menambahkan, ancaman lain berupa judi online dan penggunaan telepon genggam secara negatif bisa merusak masa depan siswa. Digital footprint negatif bisa berdampak panjang.
“Kalau telepon genggam digunakan untuk yang tidak-tidak pasti akan terekam jejak digitalnya, jadi saya minta hati-hati benar menggunakan medsos dan HP,” himbaunya.
Program MPLS dan Isu Keselamatan Pelajar
Kepala Dinas PPAPP, Iin Mutmainnah, saat memberikan sambutan dalam MPLS SMA Negeri 39 menyatakan bahwa peran pendidikan sangat strategis dalam mencegah kekerasan dan mempromosikan perubahan sosial.
“Diskusi MPLS hari ini mencakup integrasi topik seperti bullying, body shaming, dan kesehatan mental ke dalam kurikulum MPLS. Program hari ini melibatkan 355 siswa baru dan berlangsung selama lima hari, dari 14 Juli hingga 18 Juli,” jelas Iin Mutmainnah.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, termasuk orang tua dan guru, sangat vital dalam menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif dan aman bagi semua siswa.
Kegiatan MPLS, lanjutnya, disusun agar mampu mengajak siswa baru mengenal nilai-nilai toleransi, empati, dan tanggung jawab sejak awal.
Selain itu, ia menyoroti bahwa pengenalan aspek kesehatan mental masuk kurikulum MPLS untuk pertama kalinya, guna mengantisipasi potensi gangguan psikologis di masa adaptasi sekolah.
Penegakan Disiplin dan Lingkungan Kondusif
Kepala Sekolah SMAN 39, Icuk Yunadi, menjelaskan bahwa sekolah telah menyiapkan mekanisme disipliner terkait bullying. Prosesnya meliputi konseling dan sanksi, yang diputuskan melalui koordinasi dengan dewan siswa.
“Kegiatan pematerian terkait tata krama, stop bullying, kekerasan dan lainnya. Termasuk juga mengenalkan lingkungan sekolah dan sarananya,” tandas Icuk Yunadi.
Menurut dia, sesi tata krama bertujuan menanamkan sikap saling menghormati serta menumbuhkan rasa kebersamaan di antara siswa baru.
Selain itu, pihak sekolah memperkenalkan sarana—mulai dari laboratorium, perpustakaan, hingga fasilitas olahraga—sebagai bagian dari pengenalan lingkungan, agar siswa dapat mengenal fungsi tiap ruang sekolah.
Dalam rangka memperkuat iklim disiplin, Yunadi menyampaikan bahwa pantauan dilakukan setiap hari, sembari memberikan pendampingan bagi siswa yang kesulitan menyesuaikan diri.
Kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkuat peran guru bimbingan dan konseling, untuk membantu siswa melalui masa transisi.
Seiring jalannya MPLS, orang tua siswa baru ikut dilibatkan melalui sesi daring dan luring. Hal ini bertujuan membangun dukungan di rumah terhadap program anti kekerasan dan tawuran.
Di akhir kegiatan, walikota menegaskan kembali, sinergi antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan aparat keamanan sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan produktif.
Para siswa baru diimbau untuk memanfaatkan waktu MPLS sebaik mungkin. Mereka didorong untuk bertanya, belajar, dan bekerjasama, sekaligus membangun karakter sejak awal masa sekolah.
Acara kemudian ditutup dengan foto bersama antara pemangku kepentingan, guru, orang tua, dan siswa baru sebagai simbol komitmen bersama menjaga lingkungan sekolah di Jakarta Timur.
Sebagai tindak lanjut, sekolah dan orang tua disarankan terus menjalin komunikasi serta menjalankan edukasi anti bullying dan tawuran secara berkelanjutan.
Selanjutnya, program integrasi kesehatan mental dalam kurikulum MPLS perlu dikembangkan agar menjadi kebiasaan, bukan hanya kegiatan satu kali.
Keterlibatan aktif orang tua dalam memantau penggunaan gadget dan edukasi digital sangat krusial untuk menjaga jejak digital anak-anak.
Sekolah diimbau memperkuat koordinasi dengan aparat setempat untuk merancang kegiatan preventif di luar jam sekolah.
Terakhir, evaluasi berkala atas mekanisme disiplin, konseling, dan tata krama perlu dilakukan agar program kian efektif dan berkelanjutan.(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





