Jakarta, EKOIN.CO – Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan pentingnya pembongkaran harta karun pengetahuan dalam bentuk manuskrip. Pernyataan ini disampaikan dalam acara di Universitas Hasanuddin, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (7/7).
Kepala Pusat Riset Manuskrip BRIN, Sastri Sunarti, menjelaskan bahwa manuskrip merupakan sumber kekayaan budaya dan pengetahuan yang belum sepenuhnya diakses publik. Ia mendorong agar manuskrip tersebut dialih aksarakan, dialih bahasakan, dan disebarluaskan.
“Manuskrip sebagai harta karun, tetapi tidak banyak yang tahu isi harta karun itu. Jadi harta karun itu harus dibongkar untuk dialih mediakan, alih aksarakan, dan alih bahasakan. Kemudian informasinya disebarluaskan, terutama kepada generasi muda,” kata Sastri.
Ia juga menekankan pentingnya regenerasi periset filologi untuk memahami dan meneliti naskah-naskah kuno tersebut. “Hal seperti ini sangat kita harapkan agar tercipta riset berkesinambungan dan hasil riset yang berkualitas,” tambahnya.
Sastri menyatakan bahwa kolaborasi riset ini tidak hanya melibatkan pakar, tetapi juga mahasiswa dari berbagai daerah untuk memperluas jangkauan riset manuskrip nasional.
Mendorong Kolaborasi Riset Lintas Daerah
Kolaborasi tersebut, lanjut Sastri, mencakup berbagai wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, Lombok, Maluku, dan Kupang. Hal ini dilakukan untuk menggali kekayaan naskah lokal di berbagai pelosok Nusantara.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Andi Muhammad Akhmar, menyambut positif kerja sama ini. Ia menilai riset manuskrip dapat meningkatkan kualitas akademik institusinya.
“Riset menjadi salah satu pilar untuk meningkatkan kualitas kami di UNHAS sehingga akan membuka kolaborasi internasional,” tutur Andi.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan tersebut tak sebatas pada aspek transkripsi dan transliterasi. Namun juga diarahkan pada proses alih wahana agar hasil riset dapat menjangkau masyarakat luas.
Manuskrip sebagai Sumber Inovasi Kreatif
Periset BRIN, Husnul Fahimah Ilyas, menyatakan bahwa digitalisasi manuskrip adalah langkah awal untuk menyelamatkan konten penting. Namun, pengkajian teks tetap menjadi inti utama.
“Dibutuhkan juga kajian teks untuk mengungkap isi manuskrip tersebut. Naskah yang telah didigitalisasi dapat menjadi bahan riset dan kajian bagi periset, pengkaji, pemerhati, maupun akademisi, serta generasi penerus bangsa,” ujarnya.
BRIN juga telah menyebarkan formulir pendaftaran bagi calon periset manuskrip. Calon periset diuji kemampuannya dalam membaca aksara lontara dan serang serta penguasaan bahasa ibu, baik daring maupun luring.
“Keluaran dari program ini menghasilkan publikasi berupa buku, artikel, atau skripsi/tesis. Tetapi keluaran yang tidak kalah penting mengalihwahanakan dalam bentuk ekonomi kreatif dari kajian manuskrip Sulawesi Selatan,” tutup Husnul.
Upaya kolaboratif antara BRIN dan Universitas Hasanuddin menyoroti pentingnya menghidupkan kembali warisan pengetahuan lokal dalam bentuk manuskrip. Transformasi ini menyasar generasi muda sebagai penerus riset kebudayaan nasional.
Langkah ini tidak hanya menyelamatkan naskah-naskah kuno, tetapi juga menjadikannya sumber pembelajaran, inovasi, hingga pengembangan industri kreatif. Kolaborasi lintas daerah membuka potensi baru dalam riset manuskrip Indonesia.
Dengan melibatkan mahasiswa dan akademisi, program ini diharapkan mendorong keberlanjutan riset dan memperluas dampaknya ke ruang-ruang publik. Manuskrip kini bukan sekadar artefak, tetapi jembatan menuju masa depan budaya bangsa. (*)





