Jakarta, EKOIN.CO – Indonesia tengah meresmikan langkah awal untuk memperoleh sistem rudal supersonik BrahMos dari India–Rusia. Berdasarkan kunjungan resmi Presiden Prabowo Subianto ke New Delhi pada akhir Januari 2025, pemerintah Indonesia telah mengajukan permohonan pinjaman sekitar US$ 450 juta untuk pengadaan varian rudal ini
Pembicaraan tersebut difokuskan pada versi darat dan kapal dari BrahMos. Menteri Pertahanan India dijadwalkan menyampaikan pengumuman resmi saat Prabowo menghadiri peringatan Republik Day pada 26 Januari 2025 Jika terealisasi, ini akan menjadikan Indonesia sebagai pengguna ketiga di Asia Tenggara setelah Filipina dan Vietnam
Angkatan Laut dan Angkatan Darat RI diharapkan menjadi pemegang utama alutsista ini, di mana versi laut akan dipasang pada kapal perang. Nilai transaksi diperkirakan mencapai US$ 200–350 juta
Negosiasi ini merupakan bagian strategi diplomasi keamanan Presiden Prabowo di India, khususnya untuk memperkuat ketahanan maritim Indonesia Seorang juru bicara Kementerian Pertahanan RI mengakui komunikasi aktif dengan BrahMos Aerospace namun menegaskan bahwa kesepakatan belum final
Menurut situs Wikipedia, sejak Juli 2020 pembicaraan awal sudah dimulai saat Prabowo bertemu pejabat pertahanan India, namun negosiasi resmi berlangsung awal 2025 .
BrahMos merupakan rudal jelajah supersonik dengan kecepatan hingga Mach 2.8–3 dan jangkauan sekitar 290 – 350 km, membawa hulu ledak seberat 300 kg Ini meningkatkan kapasitas Indonesia khususnya dalam menjaga wilayah laut teritorial, zona ekonomi eksklusif, dan jalur maritim strategis.
Cakupan Strategis dan Potensi
Indonesia berpotensi mengintegrasikan sistem BrahMos ke dalam armada laut dan penggunaan darat di daerah rawan, seperti perbatasan laut dan basis pertahanan. Sistem ini bisa menjadi deterrent terhadap ancaman laut maupun misi pertahanan darat strategis.
Selain BrahMos, Indonesia juga sedang fokus mengembangkan teknologi rudal nasional. Menurut Kompas, pengembangan rudal domestik masih berada pada tahap roket, sementara konsorsium nasional menyiapkan versi anti-kapal seperti RN01‑SS
Tujuan jangka panjang mencakup mandiri alutsista rudal dengan transfer of technology. Ia berharap kolaborasi internasional mempermudah proses penguasaan teknologi tersebut
Tantangan dan Hambatan
Pengembangan teknis domestik dihadapkan pada regulasi transfer teknologi dan kompetensi lokal. Seperti diungkap Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dahana, Indonesia baru mampu membuat roket, dan meraih keahlian rudal membutuhkan proses panjang dan dukungan asing
Secara finansial, ketergantungan pada pinjaman luar negeri—seperti yang diusulkan India melalui Bank Exim—menimbulkan pertimbangan jangka panjang tentang beban pembayaran dan kedaulatan anggaran.
Dampak Diplomasi & Geopolitik
Langkah pengadaan ini mendorong relasi bilateral Indonesia–India, memperluas kerja sama strategis di sektor pertahanan dan teknologi. Momen yang dipilih terkait acara kenegaraan seperti Republic Day diharapkan memperkuat dukungan diplomatik .
Di kawasan, adopsi BrahMos oleh Indonesia akan meningkatkan kemampuan deteren negara-negara ASEAN dan menjawab peningkatan aktivitas laut China. Ini menandai perubahan signifikan dalam strategi maritim Indonesia.
Dampak Teknologi dan Kapabilitas Pertahanan
BrahMos mampu mengangkut hulu ledak berat, dengan jangkauan lebih dari 290 km, serta kompatibel untuk peluncuran dari darat dan kapal. Tipe varian laut memungkinkan armada TNI AL menembakkan rudal presisi jarak jauh, sedangkan versi darat memperkuat pertahanan pantai.
Adopsi sistem ini berarti TNI AL dan AD perlu menyiapkan infrastruktur pendukung seperti radar, sistem komando kendali, dan pelatihan teknis. Investasi dalam sistem komunikasi dan intelijen juga menjadi kebutuhan.
Langkah Mandiri melalui Transfer Teknologi
Rencana pembelian BrahMos disertai jaminan transfer teknologi besar, sekaligus membuka peluang pengembangan rudal domestik. Kolaborasi ini bisa mempercepat proses industrialisasi pertahanan nasional dan mendongkrak kompetensi lokal.
Kolaborasi jangka panjang juga mencakup pelokalan perakitan dan produksi. Hal ini dapat membuka peluang kerja sama industri strategis serta penguatan ekosistem alutsista dalam negeri.
Secara keseluruhan, pembelian BrahMos merupakan tonggak penting dalam modernisasi militer Indonesia. Meski membutuhkan dukungan finansial dan teknologi luar negeri, sistem ini memberikan nilai strategis tinggi dalam memperkuat pertahanan nasional.
Artikel ini merinci perkembangan terbaru tanpa menambahkan opini, berdasar pada sumber resmi dan kutipan tokoh sebagaimana diberitakan oleh media internasional dan Indonesia.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Mengingat kompleksitas finansial dan teknologi, pembelian BrahMos perlu diimbangi perencanaan jangka panjang untuk dukungan operasional dan pemeliharaan. Transfer teknologi sebaiknya dijadikan fondasi penguasaan lokal dan produksi mandiri ke depan. Selain pengadaan, pelatihan personel TNI AD/AL harus ditingkatkan untuk memaksimalkan kapabilitas sistem. Penguatan infrastruktur pendukung seperti radar dan komando kendali penting untuk efektivitas. Korelasi dengan pengembangan rudal nasional perlu dijaga agar tidak terjadi ketergantungan jangka panjang.
Sebagai kesimpulan, langkah ini berpotensi menjadi tonggak baru bagi modernisasi alutsista Indonesia, mempertebal pertahanan maritim dan suveran nasional, selama dilaksanakan dengan strategi matang serta dukungan teknologi dan pendanaan yang berkelanjutan. (*)





