Sragen EKOIN.CO – Kasus pencurian hasil pertanian kembali menggemparkan warga Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, setelah seorang petani di Dusun Sundoasri, Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan mengalami kehilangan padi jelang masa panen. Peristiwa ini mencuat ke publik setelah sebuah video yang memperlihatkan kondisi sawah korban tersebar luas melalui akun TikTok @bbbudiono.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Dalam video berdurasi singkat tersebut, tampak beberapa rumpun padi di sawah sudah dipotong dan hilang, diduga kuat digondol pencuri pada malam hari. Padahal, kondisi tanaman padi masih sebagian besar hijau dan belum mencapai puncak masa panen. Petani yang mengalami kejadian ini mengalami kerugian karena gagal memetik hasil jerih payahnya selama musim tanam.
Kejadian ini menambah panjang daftar pencurian hasil panen di wilayah Sragen, yang belakangan semakin sering terjadi. Para petani setempat pun merasa resah dan dirugikan secara ekonomi. Mereka mengaku telah mengeluarkan biaya cukup besar untuk pembelian benih, pupuk, serta pembayaran tenaga kerja.
Meskipun waktu kejadian secara pasti tidak disebutkan dalam unggahan video tersebut, lokasi sawah diketahui berada di kawasan Sundoasri, Desa Banaran. Warga yang menonton video itu pun merespons dengan beragam komentar, sebagian besar mengungkapkan rasa prihatin dan dorongan agar aparat keamanan lebih aktif melakukan patroli.
Salah seorang warganet menulis di kolom komentar, “Baru mau panen, sudah diambil duluan. Kasihan petaninya.” Ungkapan tersebut mencerminkan empati sekaligus kemarahan masyarakat terhadap tindakan pencurian yang dianggap tidak bermoral.
Petani resah, pencurian kian sering terjadi
Aksi pencurian padi tersebut diduga dilakukan saat malam hari, memanfaatkan situasi sepi dan minimnya pengawasan di area sawah. Petani yang menjadi korban kemungkinan tidak menyadari peristiwa itu hingga pagi harinya saat memeriksa lahannya. Kejadian serupa sudah beberapa kali terjadi di wilayah Sragen, terutama menjelang masa panen.
Menurut informasi yang dihimpun, pelaku biasanya melakukan pencurian dengan cara memotong rumpun padi secara cepat dan membawa hasil curian dalam jumlah terbatas agar tidak mencolok. Metode ini membuat pelaku sulit dilacak, terlebih tanpa adanya saksi mata atau rekaman CCTV di sekitar lokasi.
Sejumlah petani berharap aparat kepolisian segera bertindak untuk mengungkap kasus ini. Mereka juga meminta adanya patroli rutin, terutama di wilayah yang rawan pencurian hasil panen. Keresahan petani kian bertambah lantaran hasil panen merupakan sumber penghasilan utama bagi mereka.
Pihak desa dan kepolisian diharapkan bertindak cepat
Selain meminta peran aktif aparat keamanan, masyarakat berharap pemerintah desa bisa memfasilitasi sistem keamanan di area persawahan. Beberapa warga bahkan menyarankan penggunaan kamera pengawas sederhana atau ronda malam untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Sampai saat ini, belum ada informasi resmi dari pihak kepolisian terkait identitas pelaku maupun upaya penyelidikan. Warga sekitar berharap agar kejadian ini menjadi perhatian khusus, mengingat dampaknya tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga menimbulkan rasa tidak aman di kalangan petani.
Pencurian hasil pertanian bukan hanya terjadi di Sragen. Kasus serupa dilaporkan juga terjadi di beberapa daerah lain di Jawa Tengah. Namun, minimnya pelaporan dan bukti membuat penegakan hukum terhadap pelaku pencurian pertanian sering terkendala.
Hingga berita ini ditulis, petani korban pencurian belum memberikan keterangan resmi kepada media. Namun, beberapa warga sekitar menyatakan bahwa petani tersebut mengalami kerugian besar dan sempat berencana untuk meningkatkan keamanan secara mandiri di lahan pertaniannya.
Warga mendesak agar ada peningkatan pengawasan, terutama di musim panen. Mereka menilai aksi pencurian ini merugikan petani kecil yang selama ini bergantung sepenuhnya pada hasil pertanian untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
pencurian hasil pertanian di Sragen menjadi peringatan bahwa sistem keamanan di wilayah pedesaan masih perlu ditingkatkan. Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran dan keresahan di kalangan petani, yang semakin rentan terhadap kerugian.
Untuk menghindari kejadian serupa, diperlukan kerja sama antara petani, warga, dan aparat keamanan dalam menciptakan sistem pengamanan yang efektif. Pemerintah daerah diharapkan turut serta memberikan perhatian terhadap perlindungan hasil pertanian rakyat kecil.
Upaya seperti pemasangan penerangan, ronda malam, dan edukasi warga tentang deteksi dini aksi kriminal dapat menjadi solusi jangka pendek yang bisa diterapkan. Di sisi lain, sistem pelaporan dan penindakan hukum terhadap pelaku pencurian harus diperkuat.
Kejadian di Sragen ini menunjukkan bahwa pencurian hasil pertanian tidak bisa lagi dianggap sebagai kasus biasa. Dampaknya menyentuh banyak aspek, mulai dari kesejahteraan petani hingga stabilitas ketahanan pangan lokal.
Dukungan masyarakat terhadap petani harus diwujudkan dengan tindakan nyata, tidak hanya melalui kecaman di media sosial, tetapi juga penguatan solidaritas dalam menjaga aset pertanian bersama. ( * )





