Washington EKOIN.CO – Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keterkejutannya terhadap perlakuan istimewa Hamas terhadap tentara Amerika Serikat yang menjadi tawanan dalam konflik di Gaza. Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam sebuah wawancara eksklusif yang dikutip dari media Fox News pada Selasa, 29 Juli 2025.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Trump mengaku tidak menyangka bahwa kelompok Hamas akan memperlakukan tawanan Amerika dengan baik. Ia menyebut informasi tersebut berdasarkan laporan dari pejabat militer AS yang mengetahui kondisi tawanan tersebut secara langsung. Meski tidak merinci identitas prajurit yang ditawan, Trump mengklaim mereka mendapatkan perlakuan yang tidak biasa dalam situasi perang.
Menurut laporan tersebut, para tentara Amerika yang ditangkap oleh Hamas menerima makanan layak dan akses medis yang cukup. Selain itu, mereka juga tidak mengalami kekerasan fisik maupun psikologis selama dalam tahanan. Trump menyatakan ini sebagai hal yang mengejutkan mengingat reputasi kelompok Hamas dalam konflik berkepanjangan dengan Israel.
Trump kemudian membandingkan perlakuan ini dengan kondisi tawanan Amerika dalam konflik di tempat lain. Ia menegaskan bahwa dalam konflik di Irak dan Afghanistan, tentara AS kerap mengalami perlakuan yang sangat buruk, termasuk penyiksaan. “Tapi di Gaza, justru terjadi sebaliknya,” ujarnya kepada Fox News.
Hamas sebut perlakuan berdasar kemanusiaan
Sementara itu, pihak Hamas membenarkan bahwa mereka memperlakukan tawanan sesuai prinsip kemanusiaan. Dalam pernyataan resmi yang disampaikan juru bicara Hamas, mereka menyatakan tidak memiliki niat menyiksa tawanan dan menghormati hak asasi manusia, termasuk terhadap tentara asing. Pernyataan itu dilansir dari kantor berita Al Jazeera pada hari yang sama.
Hamas menyebut bahwa para tawanan mendapat akses komunikasi terbatas untuk menghubungi keluarga mereka melalui perantara pihak ketiga. Kelompok ini juga menegaskan bahwa pengobatan diberikan kepada tawanan yang mengalami luka dalam pertempuran. Hal ini diklaim sebagai bagian dari strategi untuk memperoleh pengakuan internasional.
Pihak Hamas juga menyebutkan bahwa perlakuan tersebut diharapkan bisa mendorong pertukaran tawanan dengan pihak Israel maupun negara lain. Mereka menyatakan siap bernegosiasi jika ada tawaran konkret yang diajukan melalui mediator. Namun, tidak ada rincian lebih lanjut mengenai proses tersebut.
Pejabat Departemen Pertahanan Amerika Serikat, yang tak disebutkan namanya, membenarkan adanya komunikasi tidak langsung dengan Hamas melalui pihak ketiga. Komunikasi ini bertujuan untuk memastikan keselamatan para tawanan dan membahas kemungkinan pembebasan mereka. Namun, belum ada hasil konkret dari upaya diplomatik tersebut.
Reaksi publik dan pemerintah AS
Reaksi publik Amerika Serikat terhadap kabar ini cukup beragam. Sebagian menyambut positif dan berharap tawanan dapat segera dibebaskan. Namun, sejumlah pihak mempertanyakan motif di balik perlakuan tersebut. Mereka menduga Hamas memiliki agenda politik yang ingin dicapai melalui tawanan tersebut.
Pemerintah Amerika Serikat belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai klaim Trump. Namun, Juru Bicara Gedung Putih menyatakan bahwa keselamatan warga negara Amerika menjadi prioritas utama, dan semua upaya diplomatik akan dilakukan untuk memulangkan mereka dengan selamat.
Sementara itu, lembaga kemanusiaan internasional seperti Palang Merah juga menyatakan kesiapannya membantu proses pemulangan tawanan. Mereka menekankan pentingnya akses langsung untuk memverifikasi kondisi para tawanan sesuai standar hukum internasional.
Konflik di Gaza yang melibatkan Hamas dan militer Israel telah berlangsung intens selama beberapa bulan terakhir. Keterlibatan tentara asing, termasuk Amerika Serikat, menjadi perhatian serius di tingkat internasional karena berpotensi memperluas eskalasi konflik.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi independen dari pihak ketiga mengenai kondisi tawanan tersebut. Media internasional masih mencoba mendapatkan akses langsung atau pernyataan resmi dari pihak keluarga maupun lembaga pengawas HAM.
Pengamat hubungan internasional menilai bahwa pernyataan Trump bisa mempengaruhi dinamika diplomasi antara Amerika Serikat dan negara-negara Timur Tengah, terutama jika ada tawaran pertukaran tawanan yang melibatkan negara-negara mitra AS.
Dalam wawancara lanjutan, Trump juga menyerukan agar pemerintahan saat ini mempercepat proses negosiasi demi menyelamatkan nyawa warga Amerika yang tertawan. Ia menyebut perlakuan baik ini sebagai kesempatan langka yang perlu dimanfaatkan secepat mungkin.
Kesimpulannya, insiden ini memperlihatkan kompleksitas konflik di Gaza dan bagaimana dinamika perlakuan terhadap tawanan bisa menjadi bagian dari strategi perang dan diplomasi. Informasi dari berbagai pihak masih dibutuhkan guna memberikan gambaran utuh.
Meskipun belum jelas apakah perlakuan tersebut akan berdampak langsung terhadap kebijakan luar negeri Amerika, pernyataan Trump menyoroti pentingnya keterlibatan aktif pemerintah AS dalam menyelesaikan konflik ini secara diplomatis.
dari pemberitaan ini menunjukkan bahwa dalam konflik bersenjata, ada peluang untuk menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Jika perlakuan terhadap tawanan benar-benar sesuai standar internasional, hal ini bisa menjadi preseden positif.
Namun demikian, perlu ada verifikasi lebih lanjut agar informasi tersebut tidak menjadi bagian dari propaganda atau manipulasi politik. Media dan lembaga HAM memiliki peran penting dalam mengawasi dan melaporkan perkembangan terkait.
Masyarakat internasional juga diharapkan terus mendorong penyelesaian damai dan memberikan tekanan kepada pihak-pihak yang terlibat agar mengedepankan prinsip kemanusiaan. Langkah konkret seperti perundingan harus segera ditempuh.
Saran utama adalah agar pemerintah Amerika Serikat meningkatkan komunikasi diplomatik dengan semua pihak yang berkepentingan, termasuk melalui organisasi internasional. Ini penting demi menyelamatkan tawanan sekaligus meredakan konflik.
Peran lembaga kemanusiaan juga sangat penting untuk menengahi konflik serta memastikan bahwa hak tawanan tidak dilanggar. Selain itu, pendekatan multilateral dinilai lebih efektif dalam situasi yang kompleks ini.
Pemerintah perlu transparan kepada publik terkait kondisi tawanan dan upaya pemulangannya. Keterbukaan ini akan membantu membangun kepercayaan dan dukungan publik dalam penyelesaian konflik.
lainnya, semua pihak harus menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi karena dapat memperkeruh situasi. Media memiliki tanggung jawab besar untuk menyampaikan fakta yang akurat.
Akhirnya, insiden ini bisa menjadi momentum bagi dunia untuk mendorong penghentian kekerasan dan membuka ruang dialog antara pihak-pihak yang bertikai. Penyelesaian damai harus selalu menjadi tujuan utama dalam konflik apa pun. (*)





