Solo EKOIN.CO – Penggugat wanprestasi mobil Esemka, Aufaa Luqmana, akhirnya berhasil memperoleh satu unit mobil Esemka jenis pickup sesuai keinginannya. Namun, kendaraan tersebut bukanlah mobil baru, melainkan unit bekas atau second yang dibelinya secara tunai dari seseorang di Jakarta pada 21 Juli 2025.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Mobil Esemka tersebut diketahui memiliki nomor polisi B 9089 UAQ. Aufaa mengaku harus berjuang keras untuk menemukan mobil tersebut karena cukup sulit didapatkan di pasaran. “Perjuangan banget ya. Saya cari-cari di marketplace mana sulit lah. Pokoknya akhirnya ketemu ini langsung beli,” ungkap Aufaa saat ditemui di PN Solo pada Rabu (30/7/2025).
Ia menambahkan bahwa meskipun mobil dalam kondisi bekas, ia tetap membelinya karena kebutuhan yang mendesak. Harga awal mobil tersebut adalah Rp 50 juta, namun setelah proses tawar-menawar, disepakati harga Rp 45 juta.
Mobil Diperoleh untuk Mendukung Usaha Bertani
Aufaa menuturkan bahwa ia telah lama mencari mobil Esemka karena sangat dibutuhkan untuk mendukung aktivitas usaha. Mobil tersebut rencananya akan digunakan oleh pamannya untuk keperluan usaha bertani, terutama dalam mengangkut barang-barang.
“Dari lama cari mobil ini. Ini untuk usaha buat mengangkut barang-barang. Rencana mau diserahkan ke paman buat kebutuhan usaha bertani,” katanya. Alasan utamanya memilih Esemka adalah karena harga mobil relatif terjangkau, kapasitasnya luas, serta menjadi mobil nasional yang memiliki nilai tersendiri.
Ia menjelaskan bahwa dari segi performa, mobil tersebut sesuai dengan harganya. “Karena memang harganya murah sih dan jadi mobil nasional. Terus tempatnya luas, baknya panjang. Untuk performa sesuai harga lah,” jelas Aufaa.
Karena khawatir mobil mogok di jalan, Aufaa memutuskan agar kendaraan tersebut dikirim dari Jakarta ke Solo menggunakan towing. Setelah sampai, mobil langsung diservis di pabrik PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK).
Layanan Servis Langsung di Pabrik Esemka
Aufaa menyebutkan bahwa biaya servis mobil Esemka yang baru dibelinya sebesar Rp 415.000. Ia memilih langsung membawa kendaraan tersebut ke pabrik produksinya agar mendapatkan pelayanan optimal.
“Kemarin service habis Rp 415.000. Langsung ke tempat produksinya untuk service,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa meskipun telah mendapatkan satu unit mobil Esemka bekas, dirinya masih berencana membeli dua unit mobil Esemka baru.
Keinginannya untuk memiliki mobil Esemka baru tidak surut. Ia berharap mobil-mobil tersebut dapat segera tersedia dan dapat digunakan untuk menunjang aktivitas usaha secara maksimal.
Keberhasilan Aufaa mendapatkan mobil Esemka ini menjadi kisah menarik mengenai perjuangan konsumen dalam memperoleh produk nasional yang keberadaannya cukup terbatas di pasaran.
Proses panjang hingga pembelian akhirnya membuahkan hasil meskipun harus mengalah pada kondisi mobil yang tidak baru. Ia menekankan bahwa tujuan utamanya adalah mendapatkan mobil fungsional dan sesuai kebutuhan.
Di tengah keterbatasan stok mobil Esemka, konsumen seperti Aufaa terpaksa menelusuri berbagai sumber hingga luar kota demi memenuhi kebutuhan transportasi usaha. Usaha tersebut memperlihatkan adanya permintaan yang nyata terhadap produk Esemka.
Kehadiran mobil Esemka meskipun bekas tetap diapresiasi karena mampu menunjang produktivitas sektor usaha kecil dan menengah, terutama pertanian yang memerlukan mobil angkut.
Meskipun belum mendapatkan unit baru, Aufaa masih optimis bahwa dalam waktu dekat ia akan bisa menambah dua unit mobil Esemka baru ke dalam armadanya.
Bagi Aufaa, mobil Esemka bukan sekadar kendaraan, tetapi bagian penting dari roda usaha yang harus tetap berjalan. Ia berharap ke depannya mobil Esemka bisa lebih mudah diakses oleh masyarakat.
Secara umum, pengalaman Aufaa mencerminkan tantangan konsumen dalam mengakses mobil nasional. Ketersediaan produk menjadi faktor penting yang harus diperhatikan produsen untuk memenuhi permintaan pasar.
Kisah ini menunjukkan pentingnya komunikasi antara produsen dan konsumen, serta sistem distribusi yang efektif agar produk nasional tidak hanya dikenal, tetapi juga mudah dimiliki masyarakat.
Dalam jangka panjang, peningkatan produksi dan distribusi mobil Esemka bisa mendukung peran mobil nasional dalam perekonomian lokal, khususnya sektor usaha.
Sebagai penutup, keberhasilan Aufaa Luqmana mendapatkan mobil Esemka meskipun dalam kondisi bekas menandakan adanya ketertarikan masyarakat terhadap mobil nasional. Hal ini menjadi refleksi penting bagi PT SMK untuk terus memperbaiki aksesibilitas produk.
Penting bagi pihak produsen untuk meningkatkan layanan purna jual, distribusi, serta promosi agar produk nasional seperti Esemka lebih mudah dijangkau. Perjuangan konsumen seperti Aufaa bisa menjadi tolok ukur bagaimana persepsi dan harapan terhadap mobil Esemka.
Upaya untuk terus meningkatkan kualitas dan ketersediaan produk lokal dapat memperkuat kepercayaan masyarakat serta mendorong pertumbuhan industri otomotif nasional. Kebutuhan transportasi usaha kecil dan menengah harus menjadi prioritas pengembangan produk lokal agar lebih relevan.
Dengan demikian, kolaborasi antara produsen, distributor, dan konsumen menjadi kunci agar mobil nasional bisa tumbuh dan memberi manfaat ekonomi jangka panjang. Semoga ke depan, produk Esemka mampu menjawab kebutuhan pasar dengan lebih baik. (*)





