New York EKOIN.CO – Miliarder Ray Dalio mengeluarkan peringatan serius kepada Amerika Serikat terkait lonjakan utang nasional yang kini mencapai USD37 triliun atau sekitar Rp603.174 triliun. Pendiri hedge fund Bridgewater Associates tersebut menyamakan kondisi ini dengan ancaman ‘serangan jantung ekonomi’ yang mengancam stabilitas sistem keuangan negara.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Pernyataan Dalio disampaikan dalam serangkaian unggahan media sosial dan wawancara, termasuk dengan Diane Brady dari Fortune. Ia menekankan bahwa pemerintah AS saat ini menghabiskan 40% lebih banyak dari pendapatan yang diperoleh, sebuah kebijakan fiskal yang dinilainya tidak berkelanjutan.
Menurut Dalio, spiral utang yang memburuk ini menunjukkan tanda-tanda sistemik yang harus segera ditangani. Dalam wawancara dengan Fox Business, ia menjelaskan bahwa pembayaran bunga utang semakin membengkak dan mulai menggerus anggaran negara untuk pengeluaran lain yang bersifat prioritas.
Dalio menggunakan analogi medis untuk menggambarkan situasi ini. Ia menyebutkan bahwa pembayaran utang seperti plak di arteri yang mempersempit aliran darah, sehingga membatasi daya beli pemerintah. “Apa yang Anda lihat adalah pembayaran layanan utang … jauh masuk menyusut, jadi ini seperti plak di arteri yang mengurangi daya beli,” ujar Dalio.
Defisit Membengkak, Disiplin Fiskal Diabaikan
Peringatan tersebut datang di tengah kekhawatiran bipartisan di kalangan pembuat kebijakan AS terhadap meningkatnya defisit federal. Menurut Dalio, pemerintah saat ini terjebak dalam siklus utang yang mengharuskan penerbitan surat utang baru hanya untuk membayar bunga atas utang lama, bukan untuk membiayai program produktif.
Dalam kesempatan lain, Dalio mengingatkan agar pemerintah AS kembali menerapkan disiplin fiskal yang menjadi ciri pertumbuhan ekonomi pada dekade 1990-an. Ia mendesak para pembuat kebijakan untuk tidak menunda reformasi anggaran, agar sistem keuangan negara tidak masuk ke dalam krisis berkepanjangan.
Sebagai anggota dewan penasihat BPI Danantara, Dalio telah lama memperingatkan potensi dampak sistemik dari pengelolaan utang yang tidak terkendali. Ia juga menekankan perlunya strategi pengelolaan utang jangka panjang yang terintegrasi dengan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Risiko Sistemik dan Potensi Guncangan Keuangan
Dalam berbagai kesempatan, Dalio menyampaikan bahwa AS berisiko mengalami keruntuhan sistemik akibat beban utang yang terus meningkat. Ia menyebut, kondisi fiskal yang tidak sehat dapat memicu guncangan finansial besar yang berdampak luas pada perekonomian global.
Utang nasional yang mendekati USD37 triliun telah memicu diskusi di Kongres AS mengenai kebutuhan untuk mengendalikan belanja dan mengevaluasi kembali prioritas fiskal. Namun, hingga saat ini belum ada langkah konkret yang disepakati lintas partai.
Dalam analisisnya, Dalio juga menyebut bahwa tekanan ekonomi akibat utang dapat memicu ketegangan sosial dan politik. Ia memperkirakan, jika kondisi ini terus berlanjut, akan ada konsekuensi serius terhadap mata uang dan daya saing ekonomi AS di kancah global.
Dalio pun memperingatkan bahwa sistem keuangan AS dapat mengalami tekanan berat jika investor global mulai kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan negara membayar utangnya. Situasi ini menurutnya dapat mengakibatkan lonjakan suku bunga dan pelemahan nilai tukar dolar.
Sebagai bagian dari solusi, Dalio mendorong pembuat kebijakan AS untuk segera merancang kebijakan fiskal yang ketat, termasuk reformasi pengeluaran dan optimalisasi penerimaan negara. Ia juga menyarankan pembentukan dewan fiskal independen untuk mengawasi disiplin anggaran jangka panjang.
Sebagai Ray Dalio kembali menggarisbawahi bahwa tanpa langkah konkret dan reformasi mendasar, Amerika Serikat dapat menghadapi masa depan ekonomi yang penuh ketidakpastian. Ia mengajak publik dan pembuat kebijakan untuk berpikir jangka panjang demi menjaga stabilitas nasional.
dari peringatan Ray Dalio adalah bahwa krisis utang AS bukan sekadar persoalan teknis, melainkan ancaman sistemik terhadap masa depan ekonomi negara. Beban utang yang terus meningkat berisiko menurunkan kemampuan negara untuk membiayai kebutuhan prioritas warganya.
dari Dalio agar AS kembali ke disiplin fiskal harus menjadi perhatian serius, mengingat sejarah menunjukkan bahwa ketidakseimbangan anggaran sering menjadi pemicu krisis ekonomi besar. Evaluasi menyeluruh terhadap postur fiskal perlu dilakukan segera, dengan mempertimbangkan keberlanjutan dalam jangka panjang.
Langkah konkret harus segera diambil, termasuk pengendalian defisit dan transparansi dalam pengelolaan utang publik. Tanpa itu, tekanan terhadap ekonomi nasional akan semakin membesar dan memperparah ketimpangan sosial maupun ekonomi.
Pemerintah AS diharapkan tidak hanya fokus pada kebijakan jangka pendek, namun juga memikirkan strategi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan fiskal dan menjaga kepercayaan investor. Kegagalan dalam mengelola utang dapat berdampak pada perekonomian global.
Dalam menghadapi ancaman tersebut, konsensus politik sangat diperlukan agar reformasi fiskal dapat berjalan efektif. Ray Dalio telah memberikan sinyal kuat, dan kini tanggung jawab ada pada para pembuat kebijakan untuk bertindak tegas sebelum terlambat. (*)





