EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
Beranda PERISTIWA INTERNASIONAL
Harga Minyak Dunia Turun Tajam Imbas Sanksi Rusia Pasar Cemas

Harga Minyak Dunia Turun Tajam Imbas Sanksi Rusia Pasar Cemas

Harga minyak melemah akibat ketidakpastian sanksi. Trump beri tenggat, pasar cemas imbasnya.

Akmal Solihannoer oleh Akmal Solihannoer
7 Agustus 2025
Kategori INTERNASIONAL, PERISTIWA
0
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Washington EKOIN.CO – Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Rabu, 6 Agustus 2025, seiring meningkatnya kecemasan pasar terhadap potensi perubahan kebijakan sanksi Amerika Serikat terhadap Rusia. Penurunan harga terjadi usai Presiden AS Donald Trump menyatakan adanya kemajuan diplomatik dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang memicu spekulasi tentang kemungkinan pelonggaran sanksi terhadap Moskow.

Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v

Menurut laporan Reuters, Kamis, 7 Agustus 2025, harga minyak mentah Brent mengalami penurunan sebesar 1,1 persen menjadi US$66,89 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga mencatat penurunan 1,2 persen ke level US$64,35 per barel. Keduanya mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap ketidakpastian kebijakan perdagangan AS-Rusia.

Dalam pernyataan resminya, Trump mengungkapkan bahwa utusan khusus Amerika Serikat telah melakukan pertemuan yang disebutnya produktif dengan Putin. Meskipun demikian, Gedung Putih tetap menyiapkan sanksi sekunder terhadap negara-negara yang tetap menjalin hubungan bisnis dengan Rusia, khususnya di sektor energi.

Ancaman Sanksi Baru dan Dampak Pasar

Berita Menarik Pilihan

Belasan Tahun Mangkrak, Tiang Beton Monorel di Jantung Jakarta Akhirnya Mulai Dibersihkan

Jakarta Membaik tapi Masih Timpang, Yuke Yurike Soroti Kesenjangan Antargenerasi yang Lebar

Sebelumnya, Presiden Trump telah mengancam akan menjatuhkan sanksi tambahan terhadap Rusia jika tidak ada langkah konkret dari negara tersebut untuk mengakhiri konflik bersenjata di Ukraina. Pernyataan ini memunculkan ketidakpastian di kalangan pelaku pasar mengenai keberlanjutan sanksi dan dampaknya terhadap pasokan minyak global.

Rusia saat ini merupakan produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia, sehingga setiap perubahan kebijakan yang membuka jalan bagi peningkatan ekspor minyak dari negara tersebut bisa berdampak signifikan terhadap harga minyak global. Hal ini membuat para investor dan analis terus memantau perkembangan hubungan diplomatik antara Washington dan Moskow.

Tak hanya soal Rusia, Trump juga menandatangani perintah eksekutif untuk memberlakukan tarif tambahan atas barang-barang impor dari India. Alasan di balik kebijakan ini adalah karena India dianggap mengimpor minyak Rusia secara langsung maupun tidak langsung, meski negara tersebut adalah salah satu pembeli utama minyak dari Rusia.

Direktur Futures Energi Mizuho, Bob Yawger, menyatakan bahwa ketidakpastian saat ini sangat mempengaruhi pasar. “Untuk saat ini, tenggat 21 hari sebelum tarif India diberlakukan, sementara Rusia mencoba menyusun semacam kesepakatan gencatan senjata sebelum batas waktu 8 Agustus dari Presiden Trump, masih menyisakan terlalu banyak ketidakpastian,” ujar Yawger.

Rencana OPEC+ dan Respons Arab Saudi

Selain isu sanksi dan tarif, pasar juga dibayangi oleh potensi peningkatan pasokan minyak dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan Sekutunya (OPEC+). Rencana ini semakin menambah tekanan pada harga minyak yang telah menurun dalam beberapa hari terakhir.

Arab Saudi, sebagai salah satu pemimpin OPEC, dilaporkan menaikkan harga ekspor minyak mentah untuk pembeli dari Asia mulai bulan September. Kenaikan harga ini merupakan yang kedua dalam dua bulan terakhir, di tengah permintaan yang tinggi dan ketersediaan pasokan yang terbatas.

Langkah Arab Saudi ini mencerminkan keyakinan negara tersebut terhadap kekuatan pasar Asia sebagai konsumen utama minyak dunia. Di sisi lain, keputusan ini juga menambah kompleksitas situasi pasar global yang sudah dibayangi ketidakpastian akibat ketegangan geopolitik.

Sementara itu, pelaku pasar terus menantikan hasil akhir dari pembicaraan antara AS dan Rusia. Setiap sinyal atau pernyataan resmi dari kedua pihak sangat mempengaruhi arah harga minyak, termasuk kemungkinan pelonggaran atau pengetatan sanksi.

Pasar minyak global kini berada dalam kondisi yang rapuh. Ketidakpastian terkait sanksi, tarif, serta kebijakan produksi OPEC+ membuat para investor berhati-hati dalam mengambil posisi di pasar energi.

Pengamat energi memperkirakan bahwa dalam beberapa pekan ke depan, harga minyak akan sangat volatil dan sensitif terhadap berita politik, terutama yang terkait dengan kebijakan luar negeri AS.

Beberapa analis juga memperingatkan bahwa jika kesepakatan antara AS dan Rusia gagal tercapai, harga minyak bisa melonjak kembali karena kekhawatiran terhadap kelangkaan pasokan.

Di sisi lain, jika Rusia berhasil meningkatkan ekspor minyaknya karena sanksi dilonggarkan, harga minyak dunia bisa tertekan lebih dalam, menimbulkan konsekuensi bagi negara-negara penghasil minyak lainnya.

Kebijakan tarif tambahan terhadap India juga menimbulkan potensi dampak ekonomi, mengingat negara tersebut adalah konsumen besar energi global dan mitra dagang utama AS di Asia.

Kondisi pasar yang penuh gejolak ini menuntut kewaspadaan dari seluruh pelaku industri energi, termasuk negara-negara pengimpor dan eksportir utama minyak di dunia.

Kesimpulan dari perkembangan terbaru menunjukkan bahwa ketidakpastian kebijakan luar negeri AS terhadap Rusia dan India menjadi faktor utama penurunan harga minyak. Meskipun ada kemajuan diplomatik, sikap tegas Gedung Putih terhadap sanksi dan tarif masih berpotensi memicu gejolak pasar.

Untuk menghindari risiko lebih lanjut, para pelaku pasar diharapkan terus mengikuti perkembangan negosiasi diplomatik antara negara-negara besar, terutama dalam menghadapi batas waktu kebijakan yang telah ditetapkan.

Ketegangan geopolitik yang terjadi saat ini bisa menjadi katalis bagi volatilitas pasar, namun juga membuka peluang untuk negosiasi lebih lanjut demi stabilitas harga energi global.

Diperlukan transparansi dari pemerintah AS terkait langkah kebijakan yang akan diambil, agar pasar memiliki gambaran yang lebih jelas untuk pengambilan keputusan.

bagi pemerintah dan pelaku industri energi adalah mendorong diplomasi yang konstruktif serta menciptakan mekanisme kerja sama yang dapat menjamin keberlanjutan pasokan energi global.

Langkah Arab Saudi menaikkan harga minyak ekspor ke Asia dapat dimanfaatkan untuk menstabilkan pasar, namun tetap dibutuhkan koordinasi erat antarnegara produsen untuk menghindari ketidakseimbangan suplai.

India sebagai importir besar perlu melakukan diversifikasi sumber energi agar tidak terlalu bergantung pada pasokan dari negara tertentu yang rentan terhadap sanksi.

Pasar juga membutuhkan sinyal positif dari OPEC+ tentang kesediaan untuk menyesuaikan pasokan demi mengimbangi fluktuasi harga akibat ketegangan geopolitik.

Semua pihak terkait perlu memperhatikan dinamika ini demi menghindari dampak negatif jangka panjang terhadap pertumbuhan ekonomi global dan kestabilan pasar energi.

( * )

 

Tags: IndiaminyakOPEC+Rusiasanksitrump
Post Sebelumnya

THE Impact Rankings: UPER Masuk 25 Besar Nasional

Post Selanjutnya

Harga Naik, Penjualan Rumah Menurun Anjlok, Ini Sebabnya

Akmal Solihannoer

Akmal Solihannoer

Berita Terkait

Proses pembongkaran salah satu struktur beton tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta. Gubernur Pramono Anung menargetkan percepatan pengerjaan guna segera memulai penataan pedestrian dan taman di kawasan strategis Kuningan. (Foto: Istimewa)

Belasan Tahun Mangkrak, Tiang Beton Monorel di Jantung Jakarta Akhirnya Mulai Dibersihkan

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

“Setelah melihat kondisi lapangan, pengerjaan harus dipercepat. Sekarang bisa empat hingga lima tiang sehari,” kata Pramono di Hotel Aryaduta Menteng,...

DPRD mendorong Pemprov DKI untuk tetap fokus pada pengentasan kemiskinan dan layanan dasar meski tengah menghadapi tantangan stabilitas fiskal daerah. (Foto: Humas DPRD DKI/Ekoin.co)

Jakarta Membaik tapi Masih Timpang, Yuke Yurike Soroti Kesenjangan Antargenerasi yang Lebar

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

Ia menilai perencanaan program daerah tidak bisa berjalan parsial, melainkan harus dikunci agar sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional...

Ilustrasi pertemuan diplomatik tingkat tinggi antara AS dan Iran di Oman. Perundingan yang dimulai Jumat (6/2/2026)

Diplomasi di Ujung Tanduk: AS-Iran Bertemu di Oman, Trump Tebar Ancaman Jika Negosiasi Nuklir Gagal

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

Bagi Iran, perundingan kali ini disebut sebagai upaya mempertahankan hak nasional sekaligus membuka ruang kesepahaman baru.

Ilustrasi proses hukum di Polda Jambi. Dua oknum polisi, Bripda Nabil dan Bripda Samson, tengah menjalani sidang kode etik atas dugaan pemerkosaan terhadap remaja perempuan. Pihak korban mendesak hukuman maksimal atas hancurnya masa depan dan cita-cita korban. (Foto: Istimewa/Ekoin.co)

Kasus Dugaan Pemerkosaan Libatkan Oknum Polisi di Jambi: Korban Trauma, Proses Hukum Berjalan

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

“Korban mengalami tekanan mental cukup berat. Fokus utama keluarga sekarang adalah pemulihan psikologisnya,” ujar Romiyanto, Jumat (6/2).

Post Selanjutnya
Harga Naik, Penjualan Rumah Menurun  Anjlok, Ini Sebabnya

Harga Naik, Penjualan Rumah Menurun Anjlok, Ini Sebabnya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKOIN.CO

EKOIN.CO - Media Ekonomi Nomor 1 di Indonesia

  • REDAKSI
  • IKLAN
  • MEDIA CYBER
  • PETA SITUS
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • PERSYARATAN LAYANAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.