BRUSSELS, 11 Agustus 2025 — EKOIN.CO – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menerima dukungan penuh dari Uni Eropa dan NATO menjelang pertemuan penting antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska pada 15 Agustus mendatang. Isu utama yang dibahas adalah upaya menuju perdamaian dalam konflik Rusia-Ukraina yang telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun. Gabung WA Channel EKOIN di sini
Pertemuan ini memicu kekhawatiran besar di Kyiv dan sejumlah negara Eropa. Mereka khawatir kesepakatan yang dicapai tanpa melibatkan Ukraina dapat merugikan kedaulatan dan keamanan negara tersebut.
Dukungan Internasional untuk Ukraina
Pada Sabtu lalu, para pemimpin Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Finlandia, serta Komisi Eropa menegaskan bahwa setiap kesepakatan diplomatik harus menjaga kepentingan keamanan Ukraina dan Eropa.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyatakan, “AS memiliki kekuatan untuk memaksa Rusia bernegosiasi secara serius. Kesepakatan antara AS dan Rusia harus melibatkan Ukraina dan Uni Eropa, karena ini menyangkut keamanan Ukraina dan seluruh Eropa.”
NATO juga menyampaikan sinyal dukungan penuh terhadap posisi Kyiv, menekankan pentingnya perdamaian yang adil dan berkelanjutan. Dukungan ini dianggap penting untuk memastikan bahwa negosiasi tidak mengorbankan wilayah atau kedaulatan Ukraina.
Zelenskiy menegaskan, “Keputusan damai tanpa Ukraina adalah keputusan mati dan tidak akan membawa perdamaian sejati.”
Pertemuan di Alaska dan Kekhawatiran Kyiv
Alaska dipilih sebagai lokasi pertemuan karena letaknya yang strategis, berdekatan dengan Rusia, serta memiliki makna sejarah sebagai bekas wilayah Rusia yang dibeli Amerika Serikat pada 1867.
Trump menggambarkan pertemuan tersebut sebagai langkah menuju kesepakatan damai, namun ia juga mengisyaratkan kemungkinan pertukaran wilayah antara Rusia dan Ukraina. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa Ukraina akan ditekan untuk menyerahkan sebagian wilayahnya demi mengakhiri perang.
Putin hingga kini menolak bertemu langsung dengan Zelenskiy, dengan alasan kondisi yang diperlukan belum terpenuhi.
Sementara itu, Gedung Putih menyebut Trump terbuka pada kemungkinan kehadiran Zelenskiy di Alaska, tetapi persiapan saat ini hanya untuk pertemuan bilateral antara AS dan Rusia.
Banyak pihak menilai, jika perdamaian dicapai tanpa persetujuan Ukraina, maka risiko instabilitas baru di kawasan akan semakin besar.
Pemimpin Eropa khawatir negosiasi yang hanya melibatkan Washington dan Moskow bisa menjadi preseden buruk dalam penyelesaian konflik internasional.
Zelenskiy juga menegaskan bahwa rakyat Ukraina tidak akan menerima kesepakatan yang mengorbankan wilayah mereka.
Kaja Kallas menambahkan, pertemuan menteri luar negeri Uni Eropa akan digelar Senin ini untuk membahas langkah-langkah strategis berikutnya dalam mendukung perdamaian.
Para analis melihat, tekanan internasional terhadap Rusia mungkin menjadi faktor kunci untuk mendorong pembicaraan yang lebih inklusif.
Bagi Ukraina, dukungan NATO dan Uni Eropa dianggap sebagai modal diplomatik untuk menghadapi tekanan di meja perundingan.
Meski demikian, tantangan terbesar tetap pada kesediaan pihak-pihak terkait untuk mengedepankan prinsip keadilan dan keamanan jangka panjang.
Para pengamat memperingatkan, perdamaian yang dibangun di atas kompromi sepihak berpotensi menciptakan konflik baru di masa depan.
Langkah berikutnya bergantung pada hasil diskusi di Alaska, yang akan menjadi sorotan dunia pada pekan ini.
Ukraina berharap dukungan internasional tetap solid, apapun hasil pertemuan Trump-Putin nanti.
Jika kesepakatan damai dapat tercapai dengan prinsip inklusivitas, maka peluang perdamaian abadi di kawasan akan lebih terbuka.
Namun, jika proses ini menyingkirkan pihak yang terdampak langsung, risiko kegagalan diplomasi akan semakin besar.
Ukraina dan sekutunya kini bersiap menghadapi berbagai kemungkinan, baik melalui jalur diplomasi maupun penguatan pertahanan.
Diperlukan koordinasi erat antara Ukraina, Uni Eropa, dan NATO untuk memastikan hasil negosiasi tidak merugikan pihak yang terdampak langsung.
Diplomasi inklusif harus menjadi prioritas utama dalam upaya mencapai perdamaian.
Peningkatan tekanan internasional terhadap Rusia dapat mempercepat pembicaraan konstruktif.
Pemerintah Ukraina perlu menjaga komunikasi intensif dengan Washington untuk menghindari keputusan sepihak.
Peran organisasi internasional seperti PBB dapat membantu memastikan transparansi proses negosiasi.
Pertemuan Trump-Putin di Alaska akan menjadi momentum penting dalam upaya mengakhiri perang Rusia-Ukraina.
Dukungan NATO dan Uni Eropa memperkuat posisi Ukraina di meja diplomasi.
Kekhawatiran terbesar tetap pada risiko kesepakatan yang mengorbankan wilayah Ukraina.
Jika proses negosiasi melibatkan semua pihak terkait, peluang perdamaian akan lebih kuat.
Namun, tanpa inklusivitas, perdamaian sejati sulit terwujud. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





