Jakarta, EKOIN.CO – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyoroti kenaikan harga komoditas bawang merah yang signifikan di lebih dari 300 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Hal ini diungkapkannya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di kantor Kementerian Dalam Negeri, pada Senin (11/8/2025). Menurutnya, pergerakan harga bawang merah kini menjadi salah satu penyumbang inflasi terbesar di banyak daerah. “Kita lihat bawang merah di 300 kabupaten dan kota,” ujar Tito.
Pernyataan tersebut dikuatkan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti, yang turut hadir dalam acara yang sama. Ia memaparkan bahwa bawang merah menjadi salah satu komoditas utama yang mendorong inflasi pada Juli 2025. “Kelompok yang memberikan andil utama terhadap inflasi month to month bulan Juli adalah beras yang mengalami inflasi 1,35%, lalu tomat 19,05%, bawang merah 9,72%, dan cabai rawit 14%,” papar Amalia.
Amalia menambahkan, tren kenaikan harga bawang merah ini masih terus berlanjut hingga Agustus 2025 dan memerlukan perhatian serius dari pemerintah. Berdasarkan pantauan, harga komoditas ini telah mencapai level yang tinggi. “Bawang merah memang memberikan kontribusi terhadap kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) di hampir seluruh wilayah di Indonesia, sehingga perlu mendapatkan perhatian. Harga bawang merah sudah masuk pada level harga yang tinggi dan kenaikan IPH-nya sudah masuk dalam kategori sedang,” jelasnya.
Data BPS menunjukkan, pada minggu pertama Agustus 2025, harga rata-rata bawang merah di tingkat nasional mencapai Rp53.592 per kilogram (kg). Angka ini menunjukkan kenaikan 13,84% dibandingkan rata-rata harga pada Juli 2025. Bahkan, di sejumlah daerah, harganya melonjak lebih tinggi lagi, seperti di Kabupaten Humbang Hasundutan yang mencapai Rp56.800 per kg, Tapanuli Selatan Rp55.400 per kg, dan Aceh Singkil Rp54.500 per kg. Amalia pun menegaskan, “Masih ada 300 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga bawang merah.”





