JAKARTA, EKOIN.CO – Harga minyak dunia mengalami penurunan pada perdagangan Kamis (7/8) setelah Kremlin mengumumkan rencana pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kabar ini memicu optimisme pasar terhadap kemungkinan penyelesaian diplomatik perang Rusia-Ukraina yang sudah berlangsung sejak 2022. (Baca Juga : Minyak Naik Usai OPEC Tekan Produksi)
Harga minyak Brent turun 0,7% menjadi US$66,43 per barel, sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga melemah 0,7% ke US$63,88. Penurunan harga ini terjadi di tengah antisipasi pasar terhadap langkah politik kedua negara adidaya tersebut.
Rencana Pertemuan Tingkat Tinggi Minyak
Penasihat Kremlin, Yuri Ushakov, mengatakan pertemuan Trump dan Putin akan berlangsung dalam waktu dekat. Jika terealisasi, ini menjadi pertemuan tingkat tinggi pertama sejak 2021. (Baca Juga : OPEC+ Tambah Produksi Minyak)
Meski ada sinyal diplomasi, Trump tetap berencana memberlakukan sanksi sekunder terhadap pembeli utama energi Rusia, guna menekan agresi militer di Ukraina. Rusia saat ini adalah produsen minyak terbesar kedua di dunia, sehingga kebijakan ini berpotensi mempengaruhi pasokan global.
Produksi Minyak Global dan Respons Pasar
OPEC+ berencana menaikkan produksi sebesar 547.000 barel per hari mulai September. Langkah ini dinilai dapat mengimbangi fluktuasi harga minyak di pasar internasional.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, menyebut tekanan jual pada perdagangan kali ini terbatas berkat sejumlah faktor positif, seperti penurunan stok minyak dan stabilnya permintaan di beberapa kawasan. (Baca Juga : Arab Saudi Naikkan Harga Minyak)
Data Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mencatat stok minyak mentah Amerika Serikat turun 3 juta barel menjadi 423,7 juta barel pada pekan yang berakhir 1 Agustus. Penurunan ini dianggap sebagai sinyal positif bagi harga minyak dalam jangka pendek.
Di sisi lain, impor minyak mentah China pada Juli turun 5,4% dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, secara tahunan, angka tersebut masih meningkat 11,5%, menandakan permintaan tetap tinggi di salah satu pasar energi terbesar dunia.
Arab Saudi juga menaikkan harga jual minyak mentah untuk pasar Asia pada September, menandai kenaikan selama dua bulan berturut-turut. Hal ini dipicu oleh pasokan yang ketat dan permintaan yang kuat di kawasan tersebut. (Baca Juga : Permintaan Minyak Asia Melonjak)
Situasi pasar minyak global saat ini masih bergantung pada perkembangan geopolitik, terutama hasil pertemuan Trump dan Putin yang dinilai akan menjadi penentu arah harga ke depan.
Pertemuan antara dua pemimpin negara adidaya berpotensi menjadi titik balik dalam konflik Rusia-Ukraina sekaligus mempengaruhi harga minyak global.
Kebijakan sanksi dan produksi OPEC+ akan terus menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan harga minyak di pasar internasional.
Penurunan stok minyak AS dan tingginya permintaan di Asia menjadi faktor penahan turunnya harga lebih dalam.
Pasar minyak masih akan sensitif terhadap kabar diplomasi dan perkembangan politik global.
Para pelaku pasar diimbau memantau situasi geopolitik demi mengantisipasi fluktuasi harga minyak.
Pelaku industri energi perlu menyiapkan strategi adaptif menghadapi kemungkinan perubahan harga pasca pertemuan Trump-Putin.
Pemerintah di negara importir minyak bisa mempertimbangkan langkah antisipatif jika harga kembali melonjak.
Investor disarankan memanfaatkan periode volatilitas untuk diversifikasi portofolio.
Konsumen di negara pengimpor minyak harus siap dengan kemungkinan penyesuaian harga BBM.
Media dan analis perlu terus memantau perkembangan diplomasi global terkait energi.
(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





