GAZA, EKOIN.CO – Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, pada Ahad (10/8/2025) mengecam apa yang mereka sebut sebagai “kejahatan kelaparan” yang dilakukan oleh penjajah Israel terhadap rakyat Gaza. Dalam pernyataannya, Hamas menilai langkah Israel sebagai “bab paling keji dari genosida” karena korban jiwa akibat kelaparan terus bertambah. (Baca Juga : Seruan Dunia Akhiri Genosida)
Hamas menegaskan bahwa pengiriman bantuan kemanusiaan melalui udara hanyalah propaganda yang membahayakan nyawa warga sipil. Menurut mereka, bantuan semacam itu tidak dapat menggantikan pembukaan jalur penyeberangan darat yang memungkinkan masuknya truk bantuan dalam jumlah besar ke Gaza.
Tuntutan Pembukaan Jalur Penyeberangan Gaza
Dalam pernyataan resmi yang dikutip Al Mayadeen dan dilaporkan Republika pada Senin (11/8/2025), Hamas menuding Pemerintah Amerika Serikat dan negara-negara pendukung Israel sebagai “mitra dalam perang kelaparan dan genosida”. (Baca Juga : Kecaman Hamas terhadap Blokade)
Hamas menyerukan pembukaan semua pintu penyeberangan menuju Gaza secara segera dan tanpa syarat. Mereka juga mendesak agar bantuan yang masuk mencukupi kebutuhan pokok warga, aman dari intervensi militer, dan disalurkan secara berkelanjutan.
Selain itu, Hamas meminta mobilisasi besar-besaran di semua ibu kota dunia untuk menekan Israel agar menghentikan pengepungan, mengakhiri perang kelaparan, dan menghapus blokade terhadap Gaza.
Gerakan ini juga menegaskan pentingnya solidaritas global, mengajak masyarakat internasional untuk terus bersuara dan menggelar aksi di jalanan demi menghentikan penderitaan warga Gaza. (Baca Juga : Aksi Solidaritas Internasional untuk Gaza)
Dukungan dari Aksi Massa Dunia
Hamas memuji demonstrasi internasional yang berlangsung pada 6 Agustus 2025 di berbagai kota dunia. Menurut mereka, aksi ini menjadi bukti bahwa banyak pihak menolak perang di Gaza dan menentang kebijakan pendudukan.
Mereka menilai, unjuk rasa global tersebut juga mengungkap tindakan teror yang dilakukan pasukan pendudukan terhadap warga sipil tak bersenjata, termasuk anak-anak dan perempuan.
Hamas menegaskan bahwa aksi massa ini membuktikan keberpihakan dunia pada rakyat Gaza yang mengalami penderitaan berkepanjangan akibat blokade dan serangan militer. (Baca Juga : Penderitaan Anak-Anak Gaza)
Mereka berharap gelombang dukungan publik ini dapat memberikan tekanan politik internasional yang cukup kuat untuk menghentikan perang.
Dalam pandangan Hamas, perjuangan rakyat Gaza tidak hanya soal pembebasan wilayah, tetapi juga soal hak hidup yang layak, terbebas dari kelaparan dan ketakutan.
Aksi protes dunia yang meluas disebut sebagai sinyal kuat bahwa masyarakat internasional menolak praktik genosida.
Hamas menilai, semakin banyak aksi solidaritas, semakin besar peluang untuk mengakhiri penderitaan di Gaza. (Baca Juga : Seruan Bantuan untuk Gaza)
Gerakan ini menegaskan komitmennya untuk terus melawan blokade hingga semua pintu bantuan dibuka penuh.
Hamas menyebut penderitaan warga Gaza akan terus memburuk jika dunia tidak segera bertindak menghentikan pengepungan.
Mereka memperingatkan bahwa setiap keterlambatan akan menambah jumlah korban jiwa, khususnya anak-anak yang menjadi korban paling rentan dalam krisis kemanusiaan ini.
Bagi Hamas, pembukaan semua jalur penyeberangan ke Gaza adalah langkah mutlak yang tidak bisa ditawar.
Mereka menolak tawaran bantuan parsial yang hanya bersifat simbolis dan tidak menyentuh akar masalah. (Baca Juga : Solusi Krisis Gaza)
Hamas menutup pernyataannya dengan menyerukan perlawanan politik, diplomatik, dan rakyat di semua lini demi membebaskan Gaza dari blokade berkepanjangan.
Kesimpulan:
Pernyataan Hamas kali ini kembali menegaskan urgensi pembukaan penuh jalur penyeberangan ke Gaza.
Dukungan internasional yang ditunjukkan lewat aksi massa dianggap sebagai kekuatan moral.
Namun, situasi di lapangan tetap memprihatinkan dengan korban jiwa yang terus bertambah.
Blokade dinilai memperparah krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Tindakan nyata dari komunitas global menjadi penentu akhir penderitaan rakyat Gaza.
Saran:
Komunitas internasional perlu mengintensifkan tekanan diplomatik terhadap Israel.
Lembaga kemanusiaan dunia harus memprioritaskan pengiriman bantuan ke Gaza.
Media global diharapkan terus memberitakan situasi kemanusiaan di wilayah ini.
Negara-negara berpengaruh perlu mengambil langkah konkret menghentikan blokade.
Solidaritas publik harus dijaga agar isu Gaza tetap menjadi perhatian dunia.
(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





