CARACAS, EKOIN.CO – Tujuh negara di kawasan Amerika Latin secara terbuka menyatakan minat bergabung dengan aliansi BRICS, langkah yang dipandang mampu mengubah peta perdagangan global sekaligus mengikis dominasi dolar Amerika Serikat (AS) dalam transaksi internasional.
[Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v]
Minat ini muncul di tengah situasi geopolitik dan ekonomi dunia yang kian kompleks. Mulai dari pengajuan resmi Bolivia hingga pembicaraan diplomatik tertutup Kolombia, sinyal ketertarikan ini menunjukkan pengaruh BRICS kian meluas di benua Amerika.
BRICS, yang beranggotakan Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, selama ini menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi ekonomi Barat. Aliansi ini dinilai mampu menawarkan sistem perdagangan dan pembiayaan alternatif yang lebih beragam.
Pada 2023, BRICS sempat mencoba memperluas pengaruhnya di Amerika Latin dengan mengundang Argentina. Namun, Presiden terpilih Javier Milei menolak undangan tersebut, bahkan menyebut BRICS sebagai kelompok yang sebagian besar beranggotakan “para diktator”.
Gelombang Dukungan Baru untuk BRICS
Meski penolakan Argentina sempat menghambat langkah BRICS, tujuh negara lain justru menunjukkan sikap sebaliknya. Mereka adalah Bolivia, Chile, Kolombia, Kuba, Honduras, Peru, dan Venezuela. Dukungan ini, sebagaimana dilaporkan Watcher Guru, menandakan adanya peluang besar bagi BRICS untuk menembus pasar Amerika Latin.
Ketertarikan itu didorong beragam alasan, mulai dari upaya membuka akses pasar internasional yang lebih luas hingga mencari mitra ekonomi di luar pengaruh AS. Banyak negara Amerika Latin memandang BRICS sebagai jalur untuk menghidupkan kembali perekonomian yang tengah tertekan.
Bagi Bolivia, keanggotaan di BRICS diharapkan dapat memperkuat sektor energi dan pertambangan yang menjadi tulang punggung ekonominya. Sementara itu, Venezuela melihatnya sebagai peluang memperluas perdagangan minyak ke negara-negara Asia dan Afrika.
Di Kolombia, pembicaraan mengenai BRICS masih dilakukan secara diplomatis dan tertutup. Pemerintah setempat menilai potensi kerja sama perdagangan dengan anggota BRICS bisa membantu meningkatkan investasi dan memperluas pangsa pasar ekspor.
Mengikis Dominasi Dolar AS
Langkah negara-negara ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa dominasi dolar AS mulai digoyang. Selama beberapa dekade, sejumlah negara Amerika Latin mengalami tekanan ekonomi akibat sanksi, tarif, dan kebijakan perdagangan AS.
Situasi semakin rumit karena sebagian negara berada di bawah rezim otoriter, yang membuat mereka terisolasi dari pasar global berbasis Barat. BRICS, dengan tawaran sistem pembayaran alternatif, menjadi opsi yang dianggap lebih inklusif.
Selain itu, bergabung dengan BRICS membuka peluang pembiayaan proyek infrastruktur melalui New Development Bank, yang tidak sepenuhnya bergantung pada dolar AS. Hal ini diyakini dapat mengurangi ketergantungan finansial terhadap Washington.
Para pengamat memprediksi, jika proses ini berjalan mulus, BRICS dapat menjadi pemain kunci baru di Amerika Latin. Keanggotaan tujuh negara ini berpotensi mengubah arah diplomasi regional dan menguatkan blok perdagangan Selatan-Selatan.
Dari sisi politik, langkah ini juga bisa memperkuat solidaritas antarnegara berkembang dalam menghadapi tantangan global, seperti perubahan iklim, keamanan pangan, dan stabilitas energi.
Namun, proses keanggotaan tidak lepas dari tantangan. Penolakan dari kelompok pro-AS di masing-masing negara, serta hambatan birokrasi dan perbedaan kebijakan ekonomi, berpotensi memperlambat realisasi rencana tersebut.
Meski demikian, momentum ini menjadi peluang strategis bagi BRICS untuk memperluas pengaruhnya di kawasan yang selama ini menjadi “halaman belakang” Amerika Serikat.
Jika tujuh negara ini resmi bergabung, BRICS akan memiliki pijakan ekonomi yang lebih kuat di belahan bumi Barat, sekaligus mempercepat pergeseran pusat kekuatan ekonomi dunia dari Barat ke Timur.
Tujuh negara Amerika Latin menunjukkan minat nyata bergabung dengan BRICS, menandakan peluang besar pergeseran geopolitik dan perdagangan global.
Aliansi ini dilihat sebagai jalur baru keluar dari dominasi ekonomi AS yang telah berlangsung puluhan tahun.
Potensi integrasi ekonomi lintas benua membuat BRICS semakin relevan di tengah ketidakpastian global.
Perlu strategi diplomasi dan ekonomi yang matang agar proses keanggotaan berjalan mulus.
Jika terwujud, BRICS bisa menjadi kekuatan penyeimbang baru di panggung internasional.
Negara-negara yang berminat perlu mempersiapkan kerangka kerja sama yang jelas dengan BRICS.
AS diharapkan mengkaji ulang kebijakan luar negerinya terhadap Amerika Latin untuk meredam potensi gesekan.
BRICS perlu menjaga konsistensi visi dan misi dalam mengakomodasi kepentingan anggota baru.
Masyarakat internasional sebaiknya memantau perkembangan ini untuk mengantisipasi dampak globalnya.
Ke depan, sinergi yang terbentuk diharapkan memberi manfaat nyata bagi kesejahteraan rakyat di negara-negara anggota.
(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





