GAZA, EKOIN.CO – Upaya pendudukan Gaza kembali memanas setelah militer Israel menghancurkan lebih dari 300 rumah dalam tiga hari terakhir di lingkungan Zeitoun, Jalur Gaza tengah. Serangan itu dinilai sebagai bagian dari strategi Israel memperluas kontrol dengan menghantam perumahan warga sipil. Ikuti update terbaru di WA Channel EKOIN.
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, pada Rabu (13/8) menyebut Israel sengaja menargetkan permukiman penduduk. “Israel sengaja menargetkan perumahan warga sipil dalam serangan besar-besaran di wilayah Zeitoun,” ujarnya.
Pendudukan Gaza Menyasar Permukiman
Menurut Basal, pasukan Israel terutama menargetkan bangunan-bangunan tinggi, khususnya yang memiliki lima lantai atau lebih. Ledakan besar yang digunakan membuat gedung di sekitar lokasi juga ikut roboh. Dampak serangan meluas hingga menghancurkan area perumahan di sekitarnya.
Beberapa rumah dilaporkan runtuh ketika penghuninya masih berada di dalam. Kondisi ini menambah jumlah korban jiwa, termasuk anak-anak dan perempuan. Tim penyelamat sipil mengalami kesulitan besar karena pemboman dilakukan mendadak tanpa peringatan.
“Selain bom berdaya ledak tinggi, Israel juga menghancurkan bangunan tanpa jeda waktu, sehingga tim pertahanan sipil tidak dapat menjangkau korban yang masih hidup,” kata Basal menambahkan.
Gelombang serangan terbaru ini membuat ribuan warga Gaza terpaksa meninggalkan rumah mereka. Banyak keluarga mengungsi ke lokasi yang dianggap lebih aman, meski sebenarnya seluruh Gaza berada dalam ancaman serangan udara dan darat.
Pendudukan Gaza Hadapi Kecaman Internasional
Sejak Oktober 2023, serangan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 61.700 orang. Jumlah korban diperkirakan terus bertambah seiring eskalasi serangan yang menargetkan area padat penduduk.
Israel kini menghadapi tekanan besar dari komunitas internasional. November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant. Keduanya dituduh melakukan kejahatan perang serta kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Selain itu, Israel juga sedang diadili di Mahkamah Internasional (ICJ) atas tuduhan genosida. Proses hukum internasional tersebut menjadi sorotan global, meski Israel tetap melanjutkan operasi militernya di Gaza.
Kecaman dari negara-negara sahabat Palestina semakin menguat. Organisasi hak asasi manusia juga mendesak penghentian serangan dan menuntut akses kemanusiaan segera ke Gaza.
Krisis kemanusiaan di Gaza terus memburuk. Ribuan orang kehilangan tempat tinggal, sementara bantuan internasional sulit masuk akibat blokade ketat Israel. Rumah sakit pun kewalahan menampung korban luka yang terus berdatangan.
Serangan Israel yang menghancurkan lebih dari 300 rumah di Gaza dalam tiga hari terakhir menandai babak baru pendudukan yang semakin brutal.
Krisis kemanusiaan semakin dalam karena ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal dan ratusan korban jiwa terus berjatuhan.
Proses hukum internasional terhadap Israel memberi sinyal bahwa dunia menaruh perhatian serius terhadap kejahatan perang ini.
Namun, tanpa penghentian serangan dan jaminan akses kemanusiaan, penderitaan rakyat Gaza sulit berakhir.
Diperlukan langkah nyata komunitas internasional untuk menghentikan pendudukan Gaza agar tragedi tidak semakin meluas. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





