EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
Beranda EKOBIS
Prabowo Singgung Pangan Sudah Tersubsidi  Kenapa Masih Mahal

Prabowo Singgung Pangan Sudah Tersubsidi Kenapa Masih Mahal

Harga pangan dinilai Prabowo tetap mahal meski subsidi besar digelontorkan. Ia menuding manipulasi pengusaha sebagai penyebab anomali harga pangan.

Akmal Solihannoer oleh Akmal Solihannoer
17 Agustus 2025
Kategori EKOBIS, PERTANIAN
0
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

JAKARTA, EKOIN.CO – Presiden Prabowo Subianto menyoroti persoalan harga pangan, khususnya beras, yang dinilainya masih mahal meskipun pemerintah telah menggelontorkan berbagai subsidi. Dalam pidato di Sidang Tahunan MPR RI, Jumat (15/8), ia menyebut fenomena ini sebagai sesuatu yang janggal dan tidak masuk akal.

Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v

Prabowo menegaskan bahwa subsidi untuk pupuk, irigasi, waduk, hingga bantuan beras sudah berjalan. Namun, harga pangan tetap terasa berat bagi sebagian masyarakat. Kondisi ini dianggapnya sebagai bentuk ketidakselarasan antara kebijakan dan kenyataan di lapangan.

Menurut Prabowo, anomali serupa juga terjadi pada kasus minyak goreng beberapa tahun lalu. Indonesia, meski dikenal sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia, sempat mengalami kelangkaan minyak goreng. Ia menilai kejadian itu tidak dapat diterima oleh logika sehat.

Harga Pangan dan Distorsi Ekonomi

Berita Menarik Pilihan

Demi Pertamax Green, Pertamina Lobi Kemenkeu Hapus Cukai Etanol di 120 Terminal BBM

IHSG Kembali Tersungkur di Zona Merah pada Sesi Penutupan Pekan ini, ini Penyebabnya

Dalam pidatonya, Prabowo menyatakan, “Sungguh aneh kita subsidi pupuk, subsidi alat pertanian, subsidi pestisida, subsidi irigasi, waduk, kita subsidi beras, tapi harga pangan kadang-kadang tidak terjangkau oleh sebagian rakyat kita.”

Prabowo menambahkan, kelangkaan minyak goreng pada masa lalu merupakan hasil permainan segelintir pihak. Ia menuding adanya praktik manipulasi harga oleh pengusaha untuk meraih keuntungan besar dengan mengorbankan masyarakat.

Menurutnya, praktik seperti itu merupakan wujud dari ekonomi serakah yang ia sebut dengan istilah “serakahnomics.” Kondisi ini memperburuk ketidakadilan dalam sistem ekonomi Indonesia.

Ia menekankan bahwa distorsi yang terjadi menyalahi amanat Undang-Undang Dasar 1945, khususnya Pasal 33. Prinsip ekonomi yang berlandaskan pada kemakmuran bersama seolah terabaikan dalam praktik modern.

Seruan Kembali ke Pasal 33 UUD 1945

Prabowo menilai, “Seolah-olah ayat-ayat dalam pasal itu tidak relevan dalam kehidupan kita yang modern di abad ke-21 ini.” Ucapan ini menjadi kritik tajam terhadap arah kebijakan ekonomi yang dinilainya melenceng dari konstitusi.

Ia menyoroti bahwa sistem ekonomi nasional seharusnya berorientasi pada kepentingan rakyat. Namun dalam kenyataan, praktik di lapangan lebih banyak menguntungkan kelompok tertentu.

Fenomena ini, menurut Prabowo, menegaskan pentingnya reformasi menyeluruh di sektor pangan dan energi agar ketahanan ekonomi nasional tidak dikendalikan oleh kepentingan segelintir pihak.

Lebih jauh, Prabowo menyampaikan bahwa harga pangan tidak boleh menjadi beban berat rakyat. Subsidi yang diberikan pemerintah harus dirasakan nyata manfaatnya di tingkat konsumen, bukan justru menguap di rantai distribusi.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa ketergantungan pada mekanisme pasar tanpa kendali negara bisa menyebabkan rakyat kehilangan akses terhadap kebutuhan pokok.

Dalam pandangannya, kebijakan yang konsisten dengan Pasal 33 akan memastikan kekayaan alam dan hasil produksi dalam negeri benar-benar digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Prabowo juga menekankan perlunya ketegasan negara dalam mengawasi dan menindak praktik manipulasi harga. Hal ini demi menciptakan keadilan dalam distribusi pangan dan energi.

Jika hal itu dibiarkan, menurutnya, rakyat akan terus menanggung akibat dari keserakahan pengusaha yang memanfaatkan celah kebijakan.

Pernyataan Prabowo ini memperkuat pesan bahwa keberpihakan negara pada rakyat harus nyata dalam kebijakan pangan. Ia menegaskan, tujuan utama dari pembangunan ekonomi adalah menciptakan kesejahteraan bersama, bukan memperkaya segelintir orang.

Dengan menutup pidatonya, Prabowo mengingatkan kembali tentang pentingnya konsistensi menjalankan amanat konstitusi sebagai pedoman utama dalam membangun ekonomi bangsa.

Pidato Presiden Prabowo Subianto menyoroti ketidakselarasan antara kebijakan subsidi pangan dan realitas harga di lapangan. Kritiknya menegaskan bahwa distorsi ekonomi telah merugikan rakyat banyak.

Anomali harga pangan, terutama beras dan minyak goreng, menunjukkan bahwa mekanisme pasar tidak berjalan sehat. Permainan pengusaha menambah beban bagi masyarakat.

Prabowo menilai praktik “serakahnomics” menciptakan ketidakadilan dan melanggar prinsip ekonomi yang diatur dalam UUD 1945.

Ia menyerukan perlunya koreksi sistem ekonomi agar kembali berpihak pada rakyat sesuai dengan Pasal 33.

Langkah ini, menurutnya, penting untuk memastikan ketahanan pangan nasional sekaligus menjaga harga pangan tetap terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat. (*)


Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v


 

Tags: Berasdistorsi ekonomiharga panganpanganPrabowosubsidi
Post Sebelumnya

Prabowo Tegaskan Izin Khusus Penggilingan Beras

Post Selanjutnya

Jet F-22 Kawal Pesawat Putin di Alaska

Akmal Solihannoer

Akmal Solihannoer

Berita Terkait

Pertamina mendesak percepatan izin pembebasan cukai di 120 terminal BBM guna mendukung ekspansi produk Pertamax Green yang lebih kompetitif. (Foto: Istimewa/Ekoin.co)

Demi Pertamax Green, Pertamina Lobi Kemenkeu Hapus Cukai Etanol di 120 Terminal BBM

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

Pertamina saat ini memiliki ratusan titik distribusi yang berpotensi mengadopsi skema serupa apabila regulasi cukai disederhanakan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Jumat, 6 Februari 2026, ditutup anjlok signifikan di zona merah.

IHSG Kembali Tersungkur di Zona Merah pada Sesi Penutupan Pekan ini, ini Penyebabnya

oleh Ainurrahman
6 Februari 2026
0

Namun tenaga itu tak bertahan lama. Tekanan jual kembali datang hingga indeks terperosok ke level terendah 7.888,17. Memasuki sesi berjalan,...

Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Capai 5,21 Persen, Lebih Tinggi dari Pemerintah Pusat

Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Capai 5,21 Persen, Lebih Tinggi dari Pemerintah Pusat

oleh Ridwansyah
6 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Pertumbuhan ekonomi di Jakarta dipastikan melebih pemerintah pusat. Pasalnya berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik perekonomian Jakarta pada...

Akibat Gejolak Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Januari 2026 Tekor Jadi Rp2.596,66 Triliun

Akibat Gejolak Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Januari 2026 Tekor Jadi Rp2.596,66 Triliun

oleh Ainurrahman
6 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tetap tinggi sebesar 154,6 miliar...

Post Selanjutnya
Jet F-22 Kawal Pesawat Putin di Alaska

Jet F-22 Kawal Pesawat Putin di Alaska

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKOIN.CO

EKOIN.CO - Media Ekonomi Nomor 1 di Indonesia

  • REDAKSI
  • IKLAN
  • MEDIA CYBER
  • PETA SITUS
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • PERSYARATAN LAYANAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.