JAKARTA, EKOIN.CO – Indonesia kini menjadi sorotan dunia berkat penguasaan sumber daya dan inovasi teknologi. Mulai dari nikel sebagai bahan utama baterai kendaraan listrik hingga sistem deteksi gempa buatan lokal, posisi Indonesia semakin strategis di mata negara lain.
Gabung WA Channel EKOIN untuk berita terkini
Dominasi Indonesia di pasar nikel membuat negara ini dijuluki sebagai “OPEC Nikel”. Menurut laporan Financial Times, Indonesia menguasai sekitar 61 persen produksi nikel olahan global pada 2024 dan diproyeksi mencapai 74 persen pada 2028.
Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menyebut langkah hilirisasi mineral ini berhasil mengundang investasi besar dari perusahaan global. “Kami ingin Indonesia bukan sekadar pengekspor bahan mentah, tapi pemain utama di industri baterai dan energi masa depan,” ujarnya.
Teknologi Baterai dan Energi Terbarukan
Selain nikel, ekspor material baterai kendaraan listrik dari Indonesia ke Amerika Serikat dijadwalkan segera berjalan. Reuters melaporkan, pengiriman tersebut akan melibatkan produsen otomotif besar dunia, termasuk Tesla, yang tertarik pada rantai pasok ramah lingkungan.
Tidak hanya itu, industri panel surya juga ikut menempatkan Indonesia di peta global. Sejumlah perusahaan asal Cina memindahkan pabriknya ke Indonesia untuk menghindari tarif tinggi Amerika Serikat. Alhasil, pangsa pasar ekspor panel surya Indonesia ke AS melonjak drastis dari kurang dari satu persen menjadi 29 persen hanya dalam beberapa bulan.
Penguasaan teknologi energi ini semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra penting dalam transisi energi dunia. Bukan hanya karena sumber daya alamnya, tetapi juga kemampuan industri lokal yang mulai berkembang pesat.
Teknologi Lokal yang Dipakai Dunia
Selain menjadi magnet investasi, Indonesia juga menghasilkan teknologi yang dipakai langsung oleh negara lain. Sistem peringatan dini tsunami InaTEWS, misalnya, diminati oleh Filipina dan beberapa negara Asia Pasifik. Teknologi ini dikembangkan oleh BMKG bersama perguruan tinggi nasional.
Dari sektor transportasi, pesawat N219 Nurtanio buatan PT Dirgantara Indonesia menarik minat negara seperti Senegal dan Nepal. Sedangkan kendaraan tempur Anoa dan senjata SS2 produksi PT Pindad sudah digunakan dalam misi perdamaian PBB dan diekspor ke sejumlah negara.
Sementara itu, sektor kesehatan turut memberi kontribusi besar. Vaksin produksi Bio Farma telah diekspor ke lebih dari 130 negara dan menjadi mitra penting bagi WHO serta UNICEF. Teknologi vaksin ini diakui karena kualitas dan sertifikasi halal yang membuatnya unggul di pasar global.
Inovasi lain seperti bioplastik dari singkong dan alat deteksi COVID-19 GeNose C19 buatan UGM juga telah mencuri perhatian dunia. Bioplastik ramah lingkungan diminati sebagai pengganti plastik konvensional, sedangkan GeNose sempat digunakan di berbagai bandara internasional karena praktis dan cepat.
Di bidang infrastruktur, teknologi Sosrobahu dan teknik fondasi Cakar Ayam hasil karya insinyur Indonesia sudah dipakai di Malaysia, Filipina, hingga Singapura. Kedua inovasi ini memperkuat posisi Indonesia sebagai pelopor teknologi konstruksi di kawasan Asia.
Ekspor kereta buatan PT INKA juga menambah daftar panjang inovasi Indonesia yang merambah pasar global. Lokomotif CC300 bahkan sudah digunakan di Filipina, menunjukkan kapasitas produksi nasional yang bersaing dengan negara lain.
Dengan segala capaian tersebut, Indonesia bukan hanya pasar potensial, tetapi juga produsen teknologi yang diperhitungkan. Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi inovasi agar posisi strategis ini bisa terus bertahan di tengah persaingan global.
(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





