SOROWAKO, EKOIN.CO – PT Vale Indonesia Tbk menghadirkan terobosan besar di industri pertambangan melalui proyek Sorowako Limonite Ore (Sorlim). Limbah nikel limonit yang selama ini dianggap tidak bernilai kini diolah menjadi komoditas bernilai tinggi. Investasi yang digelontorkan untuk proyek ini mencapai US$1,86 miliar atau sekitar Rp29,25 triliun.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Head of Sorowako Limonite Project, Suharpiyu Wijaya, menyebut proyek Sorlim sebagai langkah mulia untuk mengubah limbah menjadi produk berharga. “Proyek Sorlim memiliki tujuan yang sangat mulia, meningkatkan nilai tambah dari sesuatu yang sebelumnya dibuang menjadi produk bernilai tinggi,” ungkapnya.
Ia mengaku merasa beruntung dipercaya memimpin proyek ini. “Saya merasa sangat bersyukur ketika diminta Pak Muh. Asril, Chief Project Officer PT Vale untuk memimpin proyek ini. Dari pengalaman sebelumnya di Project Services hingga procurement, akhirnya saya dipercaya memimpin Sorowako Limonite sejak setengah tahun lalu,” kenang Suharpiyu.
Transformasi Limbah Nikel
Sorlim memanfaatkan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) untuk mengolah bijih limonit berkadar nikel rendah di bawah 1,5 persen. Material yang biasanya berakhir di tempat pembuangan kini disulap menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan vital untuk produksi baterai kendaraan listrik.
Menurut Suharpiyu, proyek ini tidak hanya menguntungkan perusahaan tetapi juga berdampak positif bagi negara dan masyarakat sekitar. “Proyek Sorlim bisa memberikan efek yang lebih baik dari sisi perusahaan, negara, dan komunitas di sekitar proyek,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa PT Vale bekerja sama dengan mitra internasional dalam teknologi pengolahan. “Tugasan saya di boundary adalah dari sisi mining, penambangan, penyiapan lahan, sampai limonite siap diberikan ke partner untuk diproses lebih lanjut,” ungkapnya.
Dengan praktik pertambangan yang baik atau good mining practice, PT Vale ingin memastikan keberlanjutan lingkungan tetap terjaga. Dukungan teknologi dari mitra global juga mempercepat proses transisi energi Indonesia menuju era baru yang lebih hijau.
Harta Karun Energi Indonesia
Cadangan bijih nikel limonit Indonesia mencapai 359 juta ton, dengan potensi menghasilkan 1.324 ton scandium. Angka ini memperlihatkan posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok energi dunia.
Proyek Sorlim bukan sekadar mengolah limbah nikel, tetapi juga memperkuat peran Indonesia di kancah global. Dengan meningkatnya permintaan kendaraan listrik, kebutuhan MHP dipastikan terus melonjak dalam beberapa tahun ke depan.
Suharpiyu menekankan, meski tantangan proyek ini cukup kompleks, semangat tim terus terjaga. “Kalau di proyek, deviasinya sangat besar antara teknis dan nonteknis. Kadang kita tidak bisa prediksi ujungnya seperti apa, tapi dengan tujuan yang baik ini, saya tetap semangat melanjutkannya,” katanya.
Proyek Sorlim juga mendapat pengakuan dalam penghargaan kehutanan 2024, menegaskan posisi PT Vale sebagai pelopor tambang berkelanjutan. Hal ini sekaligus menjadi katalis perubahan menuju masa depan energi ramah lingkungan.
Transformasi ini membuktikan bahwa limbah nikel bukan sekadar sisa tambang, melainkan harta karun energi yang bernilai miliaran rupiah jika dikelola dengan teknologi tepat.
Proyek Sorowako Limonite Ore menandai langkah strategis Indonesia dalam mengubah limbah nikel menjadi komoditas penting dunia.
Teknologi HPAL memungkinkan pengolahan material limonit menjadi MHP, yang menjadi komponen vital baterai kendaraan listrik.
Selain mendatangkan keuntungan ekonomi, proyek ini juga memperkuat posisi Indonesia dalam transisi energi global.
Dengan cadangan nikel limonit yang besar, Indonesia berpotensi menjadi pemimpin pengolahan mineral berkelanjutan.
Transformasi ini membuktikan bahwa industri tambang bisa menjadi motor perubahan menuju masa depan hijau. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





