JAKARTA, EKOIN.CO – Harga emas dunia diperkirakan kembali menanjak dan bisa menembus level US$ 3.400 per troy ounce pada pekan ini. Kenaikan harga emas itu dipicu oleh sinyal kuat pemangkasan suku bunga dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) serta meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan.
👉 Gabung WA Channel EKOIN untuk update emas
Harga Emas Didorong Kebijakan The Fed
Ketua The Fed, Jerome Powell, dalam pidatonya memberi isyarat kemungkinan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Pernyataan ini membuat pasar bereaksi positif terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Investor memprediksi biaya pinjaman yang lebih rendah akan menekan imbal hasil obligasi dan mendorong pembelian logam mulia.
“Komentar Powell jelas membuka ruang bagi emas untuk terus menguat. Dengan ekspektasi suku bunga turun, investor cenderung mencari instrumen yang aman,” ujar seorang analis pasar global.
Sementara itu, dolar AS juga melemah tipis setelah pernyataan Powell. Kondisi tersebut semakin memperkuat prospek harga emas karena logam mulia menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Geopolitik Angkat Sentimen Harga Emas
Selain faktor kebijakan moneter, eskalasi geopolitik turut menambah dorongan harga emas. Situasi di Timur Tengah kembali memanas, ditambah konflik Rusia-Ukraina yang belum mereda. Lonjakan ketidakpastian global ini membuat investor memilih emas sebagai aset aman (safe haven).
“Ketidakpastian geopolitik tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Ini menjadi alasan utama mengapa emas kembali menjadi primadona,” kata seorang ekonom di Eropa.
Peningkatan minat investor terhadap emas tercermin dari aliran dana besar ke produk investasi berbasis logam mulia. Permintaan emas batangan dan koin juga menunjukkan kenaikan di beberapa pasar utama seperti Asia dan Timur Tengah.
Harga emas sudah menguat signifikan sepanjang bulan ini, dengan rata-rata kenaikan lebih dari 8%. Jika momentum terus berlanjut, target US$ 3.400 per troy ounce diprediksi akan tercapai lebih cepat dari perkiraan.
Analis memperkirakan tren positif harga emas akan bertahan dalam jangka menengah, terutama jika The Fed benar-benar menurunkan suku bunga. Selain itu, konflik geopolitik yang berlarut-larut dipandang sebagai faktor utama pendorong lonjakan harga emas.
Investor global kini menyiapkan strategi untuk menghadapi kondisi pasar yang tidak pasti. Emas diyakini tetap menjadi instrumen utama untuk menjaga nilai kekayaan di tengah risiko resesi dan ketidakstabilan global.
Bagi pasar domestik, kenaikan harga emas dunia biasanya diikuti dengan peningkatan harga emas Antam di dalam negeri. Pelaku pasar emas ritel di Indonesia pun diprediksi akan merasakan dampaknya dalam waktu dekat.
Dengan berbagai faktor tersebut, harga emas berpotensi menembus rekor baru dalam beberapa pekan mendatang. Para analis sepakat, emas akan tetap menjadi instrumen yang paling diburu ketika ketidakpastian global semakin besar.
Harga emas dunia menunjukkan potensi besar untuk kembali mencetak rekor baru. Sinyal pemangkasan suku bunga dari The Fed menjadi pemicu utama yang mendongkrak permintaan emas di pasar global.
Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa semakin memperkuat posisi emas sebagai aset aman bagi investor. Dengan kondisi ini, harga emas diperkirakan stabil pada tren naik.
Investor global semakin memperhatikan pergerakan logam mulia sebagai lindung nilai dari risiko ekonomi. Aliran modal besar ke pasar emas mencerminkan tingginya kepercayaan terhadap instrumen ini.
Kenaikan harga emas dunia juga berdampak langsung pada pasar domestik, terutama harga emas Antam yang biasanya mengikuti tren global. Hal ini memberi peluang bagi investor lokal untuk mengambil keuntungan.
Secara keseluruhan, prospek emas dalam jangka pendek dan menengah tetap positif. Selama ketidakpastian global berlanjut, emas akan terus menjadi pilihan utama investor. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





