Jakarta,EKOIN.CO- Demonstrasi di depan Gedung DPR pada Senin, 25 Agustus 2025, diwarnai insiden gas air mata yang ditembakkan aparat kepolisian untuk membubarkan kerumunan massa. Situasi sempat memanas ketika ratusan demonstran menolak mundur, sehingga aparat mengeluarkan gas air mata sebagai langkah pengendalian.
Gabung WA Channel EKOIN untuk berita terkini
Efek Gas Air Mata pada Tubuh
Gas air mata, yang umumnya mengandung CS gas, CN gas, atau OC (pepper spray), merupakan senjata non-mematikan yang kerap digunakan untuk mengurai kerumunan. Meski dampaknya bersifat sementara, efek gas air mata tetap cukup mengganggu bahkan berbahaya bagi sebagian orang.
Paparan gas air mata paling jelas terlihat pada bagian mata. Korban biasanya merasakan perih, berair berlebihan, sulit membuka mata, hingga muncul sensasi terbakar. Selain itu, gas ini juga memicu batuk mendadak, bersin, dan rasa panas di tenggorokan.
Tidak hanya pada mata dan saluran pernapasan, gas air mata juga bisa menimbulkan rasa terbakar di kulit. Reaksi berupa kemerahan, panas, serta gatal kerap muncul setelah seseorang terpapar dalam jarak dekat. Efek psikologis pun dapat terjadi, seperti kepanikan, kebingungan, hingga kesulitan berkonsentrasi.
Menurut catatan medis, efek gas air mata umumnya berlangsung selama 15–60 menit setelah paparan berhenti. Namun, waktu pemulihan bisa lebih lama jika seseorang memiliki riwayat penyakit pernapasan, seperti asma atau bronkitis.
Risiko Jangka Panjang Gas Air Mata
Meski mayoritas efek gas air mata bersifat sementara, risiko jangka panjang tetap ada. Pada orang sehat, gejala biasanya hilang tanpa meninggalkan bekas. Namun, individu dengan penyakit paru-paru atau jantung berpotensi mengalami dampak serius.
Pakar kesehatan menegaskan bahwa paparan berulang dalam jumlah besar bisa menyebabkan kerusakan paru-paru serta gangguan permanen pada mata. Beberapa penelitian juga mengungkapkan adanya risiko peradangan kronis jika gas air mata digunakan secara intens di ruang terbatas.
Bagi penderita asma, paparan gas air mata dapat memicu serangan asma akut yang berpotensi fatal. Hal inilah yang membuat penggunaan gas air mata menuai kritik dari organisasi hak asasi manusia, khususnya jika digunakan di tengah kerumunan yang rentan.
Di lapangan, banyak demonstran terlihat menggunakan kain basah, masker, hingga larutan khusus untuk meredakan efek gas air mata. Langkah ini dinilai efektif sementara, meski tidak bisa sepenuhnya menghilangkan rasa perih dan sesak napas.
Dalam insiden di depan Gedung DPR, sejumlah peserta aksi sempat dilarikan ke posko medis darurat karena mengalami sesak berat dan iritasi kulit. Petugas medis memberikan bantuan oksigen serta obat tetes mata bagi korban yang paling terdampak.
Hingga malam hari, situasi berangsur terkendali. Namun, sisa asap gas air mata masih tercium di sekitar area aksi, menyisakan kekhawatiran bagi warga sekitar yang melintas. Aparat menegaskan penggunaan gas air mata dilakukan sesuai prosedur sebagai bentuk pengendalian massa.
Penggunaan gas air mata di Indonesia sendiri telah lama menjadi perdebatan. Meski dianggap efektif membubarkan kerumunan, efek kesehatan dan dampak jangka panjangnya membuat sebagian pihak menilai perlu ada alternatif yang lebih aman.
Organisasi medis internasional bahkan menyerukan agar aparat membatasi penggunaan gas air mata, khususnya di area padat penduduk. Mereka menilai risiko kesehatan yang ditimbulkan tidak sebanding dengan manfaat pengendalian kerumunan.
Bagi masyarakat, penting memahami apa itu gas air mata dan dampaknya. Kesadaran ini dapat membantu langkah antisipasi jika sewaktu-waktu berada di lokasi aksi atau kerusuhan.
Dengan begitu, setiap individu bisa lebih siap, baik secara fisik maupun mental, untuk mengurangi risiko bahaya paparan gas air mata di masa mendatang.
Gas air mata merupakan alat pengendali massa yang umum digunakan aparat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Efeknya cepat terasa dan mampu membubarkan kerumunan dalam waktu singkat.
Namun, penggunaan gas air mata tetap menyisakan pro dan kontra, terutama menyangkut dampak kesehatan jangka panjang. Bagi sebagian orang, paparan berulang bisa menimbulkan risiko serius.
Dalam konteks demonstrasi, gas air mata memang efektif. Meski demikian, aparat perlu memperhatikan kondisi peserta aksi, terutama kelompok rentan yang bisa terdampak lebih parah.
Kesadaran masyarakat tentang bahaya gas air mata menjadi penting agar setiap individu bisa melakukan langkah pencegahan. Masker, kain basah, hingga menjauh dari sumber asap bisa membantu meminimalisir dampaknya.
Ke depan, diperlukan evaluasi lebih dalam mengenai standar penggunaan gas air mata agar keamanan dan kesehatan publik tetap terjaga dalam situasi pengendalian massa. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





