:Jakarta, EKOIN.CO – Presiden Prabowo Subianto memutuskan menunda kunjungan kenegaraan ke China yang semula dijadwalkan pada 3 September 2025, menyusul ketidak kondusifan situasi di dalam negeri akibat aksi unjuk rasa besar-besaran. (kata pamungkas: kondusif)
Keputusan ini disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pada Sabtu, 30 Agustus 2025. Kondisi dalam negeri yang dinilai masih rawan membuat Prabowo memilih untuk tetap berada di tanah air, memantau langsung perkembangan dan mengambil langkah-langkah penanganan yang dibutuhkan.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, bahkan menyarankan agar kunjungan tersebut dibatalkan dan digantikan oleh Menteri Luar Negeri Sugiono. “Ini momen dimana Presiden perlu berada di tanah air ditengah rakyatnya yang sedang galau,” tulis Dino di akun pribadinya di X.
Situasi yang Mendominasi Penundaan
Penundaan ini tidak bisa dilepaskan dari gelombang unjuk rasa yang terjadi sejak 25 Agustus 2025. Aksi-aksi mahasiswa dan masyarakat ini meluas sebagai protes atas berbagai isu, mulai dari kenaikan tunjangan DPR hingga kematian pengemudi ojek bernama Affan Kurniawan akibat tertabrak kendaraan taktis Brimob. Kejadian ini memicu solidaritas nasional bahkan hingga ke luar negeri.
Presiden merasa kehadirannya di dalam negeri sangat dibutuhkan untuk meredam ketegangan. Momen kritis ini dianggap bukan waktu yang tepat untuk melakukan lawatan luar negeri.
Mengapa “kondusif” Begitu Menentukan
Menurut Mensesneg, alasan utama penundaan adalah “dengan dinamika di dalam negeri, Bapak Presiden ingin terus memantau dan memimpin secara langsung, serta mencarikan penyelesaian terbaik.”
Sementara itu, sebagai tokoh publik, Dino Patti Djalal menilai bahwa hari-hari kritis membutuhkan aktivitas yang lebih intensif di dalam negeri daripada kunjungan luar negeri — pesan yang kuat mengandung urgensi kepemimpinan di tengah ketidakpastian.





