Jakarta, EKOIN.CO – Ratusan perempuan dengan pakaian serba pink turun ke jalan membawa sapu sebagai simbol gerakan perlawanan terhadap korupsi dan represifitas pemerintah. Aksi itu berlangsung pada Kamis (4/9), diikuti oleh berbagai kalangan yang menuntut perubahan serta penegakan keadilan. Gabung WA Channel EKOIN
Para peserta aksi menyatakan bahwa sapu dipilih sebagai simbol pembersihan, baik terhadap praktik korupsi maupun terhadap tindakan represif yang kerap dilakukan aparat dalam menghadapi demonstrasi.
Massa membawa poster dengan tulisan tuntutan reformasi, serta menyuarakan perlawanan damai melalui nyanyian dan orasi. Mereka menegaskan, aksi ini bukan sekadar protes, tetapi juga seruan untuk perubahan struktural dalam tata kelola pemerintahan.
Gerakan Sapu Jadi Simbol Perlawanan
Gerakan sapu ini menjadi sorotan karena melibatkan perempuan sebagai garda terdepan. Mereka ingin menunjukkan bahwa perlawanan terhadap ketidakadilan tidak hanya dilakukan oleh kelompok mahasiswa atau buruh, tetapi juga oleh masyarakat umum.
Beberapa peserta aksi menyebut bahwa warna pink dipilih sebagai lambang kelembutan sekaligus keberanian. “Kami ingin membersihkan negeri ini dari praktik kotor,” ujar salah satu orator.
Aksi berjalan damai, meski tetap mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Namun, sorakan “bersihkan korupsi, hentikan represifitas” terdengar berulang-ulang di sepanjang jalan.
PBB dan Komnas HAM Desak Investigasi
Dukungan internasional terhadap gerakan sapu juga datang. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui pernyataannya menekankan pentingnya investigasi independen atas dugaan kekerasan aparat dalam aksi protes yang terjadi beberapa hari terakhir.
Sementara itu, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyuarakan hal senada. Mereka menegaskan perlunya pengungkapan fakta agar masyarakat mendapat keadilan.
“Setiap dugaan pelanggaran hak asasi manusia harus diselidiki secara menyeluruh,” tegas Komnas HAM.
Kehadiran lembaga internasional dan nasional ini memberikan dukungan moral bagi peserta aksi. Mereka berharap desakan ini mampu memberi tekanan agar pemerintah membuka ruang dialog.
Selain itu, sejumlah aktivis menilai bahwa simbol sapu akan terus digunakan dalam berbagai aksi berikutnya. Gerakan ini diyakini dapat menjadi pengingat akan kebutuhan membersihkan sistem dari korupsi dan kekerasan.
Solidaritas juga muncul dari berbagai daerah yang berencana menggelar aksi serupa. Gelombang dukungan itu dipandang sebagai momentum penting dalam mendorong reformasi yang lebih nyata.
Pada akhirnya, gerakan sapu bukan hanya simbol protes, melainkan juga representasi harapan akan masa depan Indonesia yang lebih bersih, adil, dan humanis.
Gerakan sapu menunjukkan bagaimana masyarakat, khususnya perempuan, mengambil peran dalam menyuarakan aspirasi. Simbol sederhana ini memiliki makna besar untuk membersihkan sistem dari praktik korupsi dan represifitas.
Tekanan dari PBB dan Komnas HAM menjadi pengingat bahwa isu ini bukan hanya perhatian nasional, melainkan juga dunia internasional.
Pemerintah dituntut untuk merespons aspirasi masyarakat dengan langkah konkret, bukan hanya janji.
Gerakan sapu juga membuka ruang partisipasi yang lebih luas dari berbagai lapisan masyarakat.
Aksi ini dapat menjadi titik awal perubahan jika terus berlanjut secara konsisten dan damai. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





