Oleh: Marshal
(Putra Semende, Pengamat Sosial Budaya dan Hukum Adat Indonesia)
Di balik sunyi Pegunungan Bukit Barisan bagian selatan Sumatera, tersimpan satu simpul sejarah penting Islam Nusantara yang selama ini luput dari sorotan arus utama historiografi nasional. Kawasan itu bernama Tumutan Tujuh, wilayah sakral masyarakat Semende yang diyakini sebagai pusat musyawarah ulama dan wali Allah pada masa awal penyebaran Islam di Nusantara, sekitar abad ke-15.
Tumutan Tujuh bukan sekadar tujuh titik geografis. Kawasan ini berada di ketinggian sekitar 2.500 meter di atas permukaan laut, memiliki danau dalam yang diselimuti nilai spiritual, serta dipercaya sebagai pusat pertemuan para tokoh besar dakwah Islam. Dalam tradisi lisan masyarakat Semende, kawasan ini menjadi tempat bermusyawarah Puyang Awak atau Syekh Nurqodim Al Baharudin, yang juga dikenal sebagai Syekh Sutabaris (Murthabaraq), dengan sejumlah wali Allah dari Jawa yang tergolong dalam Wali Songo, seperti Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Muria, dan Sunan Kalijaga.
“Musyawarah di Tumutan Tujuh bukan hanya membahas dakwah Islam di Semende, tetapi juga persoalan umat Islam Nusantara secara luas,” ujar Marshal, putra Semende sekaligus pengamat sosial budaya dan hukum adat Indonesia.
Persimpangan Strategis Dakwah Islam Nusantara
Sejarah lokal Semende menyebutkan, pertemuan di Tumutan Tujuh memiliki pengaruh strategis terhadap perkembangan Islam di Nusantara, bahkan dikaitkan dengan pembahasan kepemimpinan Islam di Jawa. Salah satu narasi yang berkembang adalah keterkaitannya dengan penetapan Raden Fatah sebagai raja Islam pertama Kesultanan Demak.
Fakta ini memperlihatkan bahwa wilayah pedalaman Sumatera Selatan bukan sekadar penerima dakwah, melainkan bagian aktif dari jaringan intelektual dan spiritual Islam Nusantara, tempat pertukaran gagasan keislaman lintas wilayah.
Secara geografis, Tumutan Tujuh terletak di hulu tujuh sungai besar yang mengaliri Sumatera Selatan bagian timur dan Bengkulu bagian barat, yakni Sungai Padang Guci, Sungai Air Kinal, Sungai Bengkenang, Sungai Air Kedurang (Bengkulu), Sungai Air Endikat, Sungai Air Enim, dan Sungai Lematang.
Penjagaan sungai-sungai tersebut dilakukan secara adat lintas wilayah. Suku Besemah menjaga Sungai Lematang, masyarakat Semende menjaga Sungai Enim, masyarakat Lahat menjaga Sungai Endikat, sementara masyarakat Manna Bengkulu menjaga empat sungai lainnya.
“Jika kawasan ini rusak, kami percaya akan terjadi bencana besar yang menimpa Sumatera dan Bengkulu,” kata Marshal.
Islam, Adat, dan Kesadaran Ekologis
Bagi masyarakat Semende, Tumutan Tujuh adalah kawasan adat yang tidak boleh dirusak. Nilai Islam dan kearifan ekologis menyatu dalam praktik kehidupan sehari-hari. Alam diperlakukan sebagai amanah, bukan objek eksploitasi.
Warisan terpenting dari peradaban Islam Semende adalah adat Tunggu Tubang, sistem kekerabatan yang menempatkan perempuan sebagai penjaga harta pusaka keluarga berupa rumah dan sawah. Kepemimpinan adat dijalankan secara kolektif oleh Meraje, Jenang Meraje, Payung Meraje, dan Lebu Meraje.
Sistem ini dinilai sejalan dengan nilai Islam yang menjunjung tinggi martabat perempuan. Tafsir QS. Al-Mujadalah ayat 1–4 kerap dijadikan landasan teologis, yang menegaskan perlindungan serta peningkatan derajat perempuan dalam struktur sosial dan hukum Islam.
Jejak Peradaban yang Masih Hidup
Hingga kini, masyarakat Semende dikenal taat menjalankan syariat Islam sejak usia dini hingga lanjut usia. Islam tidak berhenti pada aspek ritual, melainkan menjadi fondasi adat, etika sosial, dan relasi kemasyarakatan.
Tumutan Tujuh menjadi bukti bahwa Islam Nusantara tumbuh melalui musyawarah, kebijaksanaan, dan kearifan lokal, bukan paksaan. Sayangnya, jejak penting ini masih minim mendapat tempat dalam kajian sejarah nasional.
“Menggali dan mendokumentasikan Tumutan Tujuh bukan sekadar merawat memori lokal, tetapi menjaga salah satu simpul penting peradaban Islam Indonesia,” tegas Marshal.
Tumutan Tujuh bukan legenda. Ia adalah warisan hidup yang menuntut pengakuan, perlindungan, dan pencatatan sejarah yang adil bagi peradaban Islam Nusantara.





