EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
Beranda RAGAM
Tumutan Tujuh bukan sekadar tujuh titik geografis

Tumutan Tujuh bukan sekadar tujuh titik geografis

Tumutan Tujuh, Jejak Awal Islam Nusantara dan Akar Adat Tunggu Tubang Semende

Iwan Purnama oleh Iwan Purnama
3 Februari 2026
Kategori RAGAM
0
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Marshal

(Putra Semende, Pengamat Sosial Budaya dan Hukum Adat Indonesia)

Di balik sunyi Pegunungan Bukit Barisan bagian selatan Sumatera, tersimpan satu simpul sejarah penting Islam Nusantara yang selama ini luput dari sorotan arus utama historiografi nasional. Kawasan itu bernama Tumutan Tujuh, wilayah sakral masyarakat Semende yang diyakini sebagai pusat musyawarah ulama dan wali Allah pada masa awal penyebaran Islam di Nusantara, sekitar abad ke-15.

Tumutan Tujuh bukan sekadar tujuh titik geografis. Kawasan ini berada di ketinggian sekitar 2.500 meter di atas permukaan laut, memiliki danau dalam yang diselimuti nilai spiritual, serta dipercaya sebagai pusat pertemuan para tokoh besar dakwah Islam. Dalam tradisi lisan masyarakat Semende, kawasan ini menjadi tempat bermusyawarah Puyang Awak atau Syekh Nurqodim Al Baharudin, yang juga dikenal sebagai Syekh Sutabaris (Murthabaraq), dengan sejumlah wali Allah dari Jawa yang tergolong dalam Wali Songo, seperti Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Muria, dan Sunan Kalijaga.

“Musyawarah di Tumutan Tujuh bukan hanya membahas dakwah Islam di Semende, tetapi juga persoalan umat Islam Nusantara secara luas,” ujar Marshal, putra Semende sekaligus pengamat sosial budaya dan hukum adat Indonesia.

Berita Menarik Pilihan

Indonesia Tembus Semifinal BATC 2026, Ester Nurumi Tutup Drama Sengit Lawan Thailand

Timnas Futsal Indonesia Lolos Final Piala Asia 2026 Hector Souto Tolak Sebutan Pencetak Sejarah

Persimpangan Strategis Dakwah Islam Nusantara

Sejarah lokal Semende menyebutkan, pertemuan di Tumutan Tujuh memiliki pengaruh strategis terhadap perkembangan Islam di Nusantara, bahkan dikaitkan dengan pembahasan kepemimpinan Islam di Jawa. Salah satu narasi yang berkembang adalah keterkaitannya dengan penetapan Raden Fatah sebagai raja Islam pertama Kesultanan Demak.

Fakta ini memperlihatkan bahwa wilayah pedalaman Sumatera Selatan bukan sekadar penerima dakwah, melainkan bagian aktif dari jaringan intelektual dan spiritual Islam Nusantara, tempat pertukaran gagasan keislaman lintas wilayah.

Secara geografis, Tumutan Tujuh terletak di hulu tujuh sungai besar yang mengaliri Sumatera Selatan bagian timur dan Bengkulu bagian barat, yakni Sungai Padang Guci, Sungai Air Kinal, Sungai Bengkenang, Sungai Air Kedurang (Bengkulu), Sungai Air Endikat, Sungai Air Enim, dan Sungai Lematang.

Penjagaan sungai-sungai tersebut dilakukan secara adat lintas wilayah. Suku Besemah menjaga Sungai Lematang, masyarakat Semende menjaga Sungai Enim, masyarakat Lahat menjaga Sungai Endikat, sementara masyarakat Manna Bengkulu menjaga empat sungai lainnya.

“Jika kawasan ini rusak, kami percaya akan terjadi bencana besar yang menimpa Sumatera dan Bengkulu,” kata Marshal.

Islam, Adat, dan Kesadaran Ekologis

Bagi masyarakat Semende, Tumutan Tujuh adalah kawasan adat yang tidak boleh dirusak. Nilai Islam dan kearifan ekologis menyatu dalam praktik kehidupan sehari-hari. Alam diperlakukan sebagai amanah, bukan objek eksploitasi.

Warisan terpenting dari peradaban Islam Semende adalah adat Tunggu Tubang, sistem kekerabatan yang menempatkan perempuan sebagai penjaga harta pusaka keluarga berupa rumah dan sawah. Kepemimpinan adat dijalankan secara kolektif oleh Meraje, Jenang Meraje, Payung Meraje, dan Lebu Meraje.

Sistem ini dinilai sejalan dengan nilai Islam yang menjunjung tinggi martabat perempuan. Tafsir QS. Al-Mujadalah ayat 1–4 kerap dijadikan landasan teologis, yang menegaskan perlindungan serta peningkatan derajat perempuan dalam struktur sosial dan hukum Islam.

Jejak Peradaban yang Masih Hidup

Hingga kini, masyarakat Semende dikenal taat menjalankan syariat Islam sejak usia dini hingga lanjut usia. Islam tidak berhenti pada aspek ritual, melainkan menjadi fondasi adat, etika sosial, dan relasi kemasyarakatan.

Tumutan Tujuh menjadi bukti bahwa Islam Nusantara tumbuh melalui musyawarah, kebijaksanaan, dan kearifan lokal, bukan paksaan. Sayangnya, jejak penting ini masih minim mendapat tempat dalam kajian sejarah nasional.

“Menggali dan mendokumentasikan Tumutan Tujuh bukan sekadar merawat memori lokal, tetapi menjaga salah satu simpul penting peradaban Islam Indonesia,” tegas Marshal.

Tumutan Tujuh bukan legenda. Ia adalah warisan hidup yang menuntut pengakuan, perlindungan, dan pencatatan sejarah yang adil bagi peradaban Islam Nusantara.

Post Sebelumnya

Polri Hadir di CFD Margonda, Tim K-9 Diterjunkan Jaga Keamanan Warga Depok

Post Selanjutnya

Film Pendek Indonesia Tancap Gas di Festival Clermont-Ferrand 2026, Siap Tembus Pasar Global

Iwan Purnama

Iwan Purnama

Berita Terkait

Ester Nurumi Tri Wardoyo saat berhasil memastikan poin penentu bagi kemenangan tim putri Indonesia atas Thailand di babak perempat final BATC 2026. Indonesia akan menghadapi tantangan berat melawan Korea Selatan di babak semifinal besok. (Foto: Humas PBSI/Ekoin.co)

Indonesia Tembus Semifinal BATC 2026, Ester Nurumi Tutup Drama Sengit Lawan Thailand

oleh Danang F Pradhipta
6 Februari 2026
0

Tanpa memberikan banyak celah, Ester menyudahi perlawanan lawan dua gim langsung dengan skor 21-13 dan 21-16. Hasil ini sekaligus memastikan...

Pelatih Timnas Futsal Indonesia, Hector Souto, memberikan instruksi di pinggir lapangan saat laga semifinal melawan Jepang di Indonesia Arena. Meski sukses membawa Indonesia ke final Piala Asia untuk pertama kalinya, Souto menegaskan bahwa keberhasilan ini adalah buah keringat para pemainnya secara keseluruhan. (Foto: Istimewa/Ekoin.co)

Timnas Futsal Indonesia Lolos Final Piala Asia 2026 Hector Souto Tolak Sebutan Pencetak Sejarah

oleh Danang F Pradhipta
6 Februari 2026
0

Hasil tersebut menjadi pencapaian tertinggi Indonesia sepanjang keikutsertaan di Piala Asia Futsal. Pada edisi sebelumnya di Kuwait 2022, langkah Merah...

Penyerang Persik, Adrian Luna menjadi tumpuan saat menjalani tiga laga kandang. (iG Persik)

Ambisi Papan Atas Persik Kediri: Marcos Reina Torres Bidik ‘Sapu Bersih’ Laga Kandang Februari

oleh Danang F Pradhipta
6 Februari 2026
0

Persik dijadwalkan menjalani tiga laga kandang beruntun di Stadion Brawijaya, masing-masing menghadapi Dewa United (7 Februari), PSIM Yogyakarta (13 Februari),...

Anthony Ginting menjadi penentu kemenangan tim beregu Indonesia saat mengalahkan Malaysia dalam kejuaraan beregu di Tiongkok (IG PBSI)

Pupus Sudah Harapan Malaysia, Ginting Pastikan Tetangga Tak Berkutik di Partai Penentu

oleh Danang F Pradhipta
6 Februari 2026
0

Pada gim kedua, Kong tampil lebih agresif dan memimpin sejak awal. Ginting tertinggal di interval dan harus mengakui keunggulan lawannya...

Post Selanjutnya
Delegasi film pendek Indonesia berpartisipasi dalam Clermont-Ferrand International Short Film Festival 2026 di Prancis sebagai upaya memperluas jejaring industri dan menembus pasar film global.

Film Pendek Indonesia Tancap Gas di Festival Clermont-Ferrand 2026, Siap Tembus Pasar Global

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKOIN.CO

EKOIN.CO - Media Ekonomi Nomor 1 di Indonesia

  • REDAKSI
  • IKLAN
  • MEDIA CYBER
  • PETA SITUS
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • PERSYARATAN LAYANAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.