Jakarta, Ekoin.co – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengatakan per 13 Februari 2026, aliran dana asing yang masuk ke Indonesia mencapai US$ 1,6 miliar.
Aliran dana asing ini untuk borong Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Sejalan dengan aliran dana ini, cadangan devisa pada akhir Januari 2026 tercatat mencapai US$ 154,6 miliar. Ini setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor dan 6,1 pembayaran utang luar negeri.
“Cadangan devisa tersebut berada di atas kecukupan internasional,” ujar Perry dikutip Jumat (20/2).
Dengan demikian, rupiah tercatat stabil pada level Rp 16.880 /US$, sedikit melemah 0,056 poin to poin (ptp), dibandingkan level akhir Januari 2026. Kendati stabil, BI melihat rupiah masih undervalued.
“Untuk itu BI terus meningkatkan intensitas stabilisasi melalui NDF onshore, DNDF dalam negeri,” ujarnya.
BI pun, kata Perry, memandang rupiah akan stabil dan menguat didukung fundamental ekonomi Indonesia. Ini tercermin dari imbal hasil menarik, inflasi, dan prospek ke depan.
Tahan BI-Rate
Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia BI-Rate masih ditahan.sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%.
“Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini pada upaya penguatan stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global guna mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Perry Warjiyo.
Ke depan, BI akan terus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini dengan tetap mencermati ruang penurunan suku bunga BI-Rate lebih lanjut sejalan dengan prakiraan inflasi 2026-2027 yang terkendali dalam sasaran 2,5±1% dan upaya untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. (*)





