Gaza EKOIN.CO – Seorang tentara Israel tewas dalam upaya penculikan oleh militan Hamas di Khan Yunis, selatan Jalur Gaza, pada Rabu (9/7/2025). Militer Israel mengonfirmasi bahwa insiden terjadi selama operasi khusus yang tengah dijalankan pasukannya.
Pernyataan resmi yang dirilis pada malam hari menyebutkan, militan Hamas muncul dari sebuah terowongan dan langsung menyerang pasukan Israel. Serangan tersebut menyasar tentara operator alat berat teknik yang sedang berada di lokasi operasi.
Militan berusaha menculik tentara tersebut, namun korban memberikan perlawanan. Dalam situasi yang semakin memburuk, para penyerang akhirnya menembak mati tentara tersebut di lokasi kejadian.
Militer Israel menambahkan bahwa pasukan lainnya yang berada di sekitar lokasi segera melakukan tembakan balasan ke arah para militan. Beberapa dari mereka berhasil dilumpuhkan dan rencana penculikan dapat digagalkan.
Penyelidikan atas insiden ini masih berlangsung, termasuk upaya untuk mengidentifikasi para pelaku penyerangan dan jalur masuk yang mereka gunakan dari terowongan bawah tanah.
Sementara itu, tentara Israel juga melaporkan bahwa tiga anggotanya mengalami luka serius akibat tembakan penembak jitu di wilayah Kota Gaza. Mereka saat ini dalam perawatan intensif di rumah sakit militer.
Serangan Terkoordinasi Brigade Qassam
Brigade al-Qassam, sayap militer Hamas, mengklaim telah melancarkan sejumlah serangan terkoordinasi terhadap pasukan Israel di beberapa wilayah Jalur Gaza. Dalam sebuah pernyataan melalui Telegram, mereka menyatakan bahwa operasi terbaru terjadi di Abasan al-Kabira, timur Khan Yunis.
Serangan tersebut menargetkan tank Merkava dan kendaraan lapis baja dengan rudal anti-tank jenis Yasin 105. Tak hanya itu, dua ekskavator militer juga dihantam oleh rudal serupa dalam rangkaian serangan pagi itu.
Menurut keterangan resmi Brigade Qassam, setelah berhasil menggempur kendaraan militer, pasukan mereka terlibat bentrokan langsung dengan pasukan pendudukan dan mencoba menculik salah satu tentara. Namun karena kondisi medan yang tidak memungkinkan, mereka akhirnya membunuh tentara tersebut dan mengambil senjatanya.
Pemimpin Brigade Qassam mengatakan kepada Aljazirah bahwa misi penculikan tentara Israel kemarin tidak mencapai keberhasilan yang diharapkan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa serangan serupa akan terus dilakukan dan keberhasilan akan berpihak pada mereka di kemudian hari.
Ancaman Serangan Tambahan di Masa Mendatang
Pihak Hamas menyatakan bahwa pasukan mereka di berbagai zona telah mempersiapkan penyergapan besar terhadap pasukan Israel. Mereka mengklaim telah mengguncang stabilitas dan reputasi militer Israel melalui rangkaian operasi terbaru.
“Dengan operasi-operasi ini, kami telah menyeret pasukan pendudukan ke dalam lumpur Gaza,” kata pemimpin Brigade Qassam kepada Aljazirah.
Pada hari sebelumnya, juru bicara Brigade Qassam, Abu Ubaidah, menyatakan bahwa tentara Israel akan mengalami kerugian harian dari utara ke selatan Jalur Gaza. Ia juga mengisyaratkan kemungkinan adanya penculikan lanjutan dalam waktu dekat.
Dalam beberapa minggu terakhir, perlawanan Palestina terus meningkatkan serangan terhadap militer Israel, terutama di wilayah utara dan selatan Gaza. Beberapa bentrokan menewaskan dan melukai tentara Israel.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa Hamas menggunakan strategi pertempuran gesekan untuk melemahkan kekuatan tempur Israel secara bertahap. Taktik ini termasuk penyergapan, rudal anti-tank, dan operasi di terowongan bawah tanah.
Operasi yang berlangsung di Khan Yunis juga menunjukkan peningkatan kemampuan tempur Brigade Qassam, yang telah merancang serangan secara sistematis dan menyasar titik-titik lemah Israel.
Militer Israel kini tengah mengevaluasi kembali langkah pengamanan di sekitar jalur operasi, termasuk pengawasan terhadap kemungkinan ancaman dari bawah tanah.
Pihak Israel juga memperketat wilayah perbatasan dan menambah pasukan di titik-titik strategis setelah serangan terbaru tersebut. Pemeriksaan terhadap sistem pertahanan dan mobilisasi juga terus berlangsung.
Konflik antara Hamas dan Israel di Jalur Gaza terus menunjukkan intensitas yang mengkhawatirkan. Serangan demi serangan dari kedua belah pihak tidak hanya menyebabkan korban jiwa, tetapi juga memperburuk kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut. Situasi ini membutuhkan penanganan diplomatik yang cepat untuk menghindari eskalasi yang lebih luas.
Komunitas internasional perlu memperkuat tekanan kepada kedua pihak untuk menahan diri dan membuka jalur dialog. Tanpa intervensi serius, korban jiwa akan terus bertambah dan penderitaan warga sipil kian memburuk. Krisis di Gaza menuntut solusi politik jangka panjang, bukan hanya penanganan militer sesaat.
Langkah-langkah untuk mengakhiri penggunaan kekerasan sebagai solusi konflik harus dikedepankan. Penyelesaian yang berlandaskan keadilan dan penghormatan terhadap hukum internasional adalah jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan.
Penting juga bagi pihak ketiga, seperti negara-negara Arab dan organisasi internasional, untuk turut memainkan peran lebih aktif dalam mendesak gencatan senjata dan mengawal proses negosiasi.
Dengan dinamika yang semakin tidak menentu, semua pihak harus sadar bahwa penyelesaian damai adalah satu-satunya jalan keluar dari siklus kekerasan yang terus berulang di Jalur Gaza.(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





