Inggris, EKOIN.CO – Raja Charles III mengalami perdarahan subkonjungtiva atau pecah pembuluh darah di bagian putih mata kanan, yang terlihat saat dirinya menyambut Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Ibu Negara Brigitte di Kastil Windsor pada 8 Juli 2025. Kondisi tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan publik terkait kesehatan sang raja yang saat ini juga tengah menjalani pengobatan kanker.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Pihak Istana Inggris segera memberikan klarifikasi atas munculnya bercak merah mencolok pada mata Raja Charles III. Mereka menyatakan bahwa kondisi tersebut tidak berkaitan dengan pengobatan kanker dan tidak membahayakan kesehatan sang raja secara keseluruhan. Pernyataan ini dirilis untuk meredam spekulasi publik dan media.
Keterangan resmi dari istana menyebutkan bahwa perdarahan terjadi di bagian putih mata dan dikenal dalam dunia medis sebagai perdarahan subkonjungtiva. Kondisi ini, menurut mereka, bukanlah gejala penyakit serius dan tidak membutuhkan perawatan khusus.
Istana Tegaskan Tidak Terkait Kanker
Dikutip dari People pada Kamis, 10 Juli 2025, sumber kerajaan menegaskan bahwa kondisi ini tidak ada hubungannya dengan kanker yang sedang diobati Raja Charles. Mereka juga memastikan bahwa aktivitas sang raja tidak terganggu dan ia tetap menjalankan tugas-tugas kenegaraannya seperti biasa.
Perdarahan subkonjungtiva umumnya tidak menyebabkan rasa sakit dan kerap kali tidak disadari oleh penderitanya. Berdasarkan penjelasan dari Mayo Clinic, penyebabnya bisa berupa tekanan saat batuk, bersin, atau bahkan mengangkat benda berat secara mendadak.
Meski penampakannya bisa terlihat dramatis karena kemerahan yang jelas di mata, para ahli menyebut bahwa kondisi ini akan hilang dengan sendirinya dalam waktu satu hingga dua minggu. Tidak diperlukan intervensi medis khusus, kecuali jika disertai gejala tambahan.
Sumber istana menyampaikan bahwa Raja Charles dalam keadaan baik dan tidak merasakan ketidaknyamanan akibat kondisi tersebut. Ia tetap menyambut tamu-tamu negara dan menghadiri acara resmi sesuai agenda yang telah dijadwalkan.
Publik Khawatir, Tapi Tak Perlu Panik
Momen menyambut Presiden Macron dan Ibu Negara Brigitte menjadi sorotan karena kehadiran sang raja dengan kondisi mata yang tampak merah. Beberapa media mengabadikan momen tersebut dan menyebarkannya secara luas di berbagai platform sosial media dan portal berita internasional.
Reaksi publik pun bermunculan, banyak yang mengungkapkan keprihatinan dan bertanya-tanya apakah kondisi tersebut merupakan gejala memburuknya penyakit kanker Raja Charles. Namun pihak istana kembali menegaskan bahwa tidak ada alasan untuk kekhawatiran berlebihan.
Juru bicara kerajaan menyampaikan bahwa ini bukan kali pertama seseorang mengalami perdarahan subkonjungtiva, dan bahwa sang raja tetap dalam pengawasan medis sesuai standar yang berlaku. Mereka meminta publik untuk tetap tenang dan mempercayakan informasi hanya dari sumber resmi.
Dalam sejumlah potret yang dirilis, Raja Charles tetap tersenyum dan menyambut hangat kedatangan Macron dan istrinya di Kastil Windsor. Ia terlihat mengenakan setelan jas lengkap dengan dasi, menunjukkan bahwa dirinya masih dalam kondisi yang layak untuk menjalankan peran kenegaraan.
Menurut ahli medis yang dikutip oleh People, perdarahan subkonjungtiva bukan kondisi yang serius dan hanya berpengaruh secara visual. Tidak diperlukan penggunaan obat tetes atau salep, kecuali jika ada infeksi atau gejala lanjutan.
Foto-foto yang beredar telah dianalisis oleh sejumlah ahli, yang menyimpulkan bahwa pecahnya pembuluh darah di mata kanan Raja Charles bukanlah indikasi memburuknya kondisi kesehatan internal, terutama terkait kanker.
Kondisi ini dinyatakan sebagai peristiwa medis umum yang dapat menimpa siapa saja, tanpa memandang usia. Dalam kasus Raja Charles, usia yang lanjut dan pengobatan kanker mungkin meningkatkan kewaspadaan publik, namun para dokter menilai hal itu tidak relevan dalam kasus ini.
Pihak istana juga meminta media untuk tidak membesar-besarkan hal ini dan tetap berpegang pada fakta medis. Mereka memastikan bahwa Raja Charles akan terus menjalankan tugas-tugas kerajaan sesuai jadwal yang telah disusun.
Situasi ini menjadi pengingat bagi publik bahwa kondisi visual pada mata tidak selalu berkaitan dengan penyakit serius, terlebih bila sudah dikonfirmasi secara medis oleh otoritas resmi.
Momen penyambutan tamu negara tetap berlangsung dengan khidmat dan penuh penghormatan. Raja Charles menunjukkan sikap profesional dan menyelesaikan seluruh rangkaian acara tanpa kendala.
Penampilan Raja Charles pasca insiden tersebut tidak mengalami perubahan signifikan. Ia tetap hadir dalam beberapa agenda resmi dan memberikan pidato di hadapan tamu-tamu penting, menandakan tidak adanya hambatan berarti dalam aktivitasnya.
Pakar kesehatan mata menyebutkan bahwa tidak semua perdarahan mata membutuhkan perawatan, selama tidak disertai rasa nyeri, gangguan penglihatan, atau pembengkakan hebat. Dalam konteks ini, mata raja hanya mengalami perubahan warna sementara.
Dengan adanya konfirmasi dari pihak kerajaan dan referensi medis yang mendukung, masyarakat diharapkan tidak menanggapi kejadian ini secara berlebihan. Pihak istana juga menyatakan komitmen untuk terus memberikan informasi akurat mengenai kesehatan Raja Charles.
Sebagai penutup, munculnya kemerahan di mata kanan Raja Charles III dipastikan merupakan akibat dari perdarahan subkonjungtiva, suatu kondisi medis ringan yang tidak berbahaya. Informasi resmi dari istana dan sumber medis kredibel memperkuat kesimpulan ini.
Kondisi ini tidak berkaitan dengan kanker yang sedang diobati sang raja dan tidak mengindikasikan adanya penurunan kesehatan yang serius. Oleh karena itu, tidak diperlukan perhatian medis lanjutan.
Dengan aktivitas kerajaan yang tetap berjalan normal, publik tidak perlu cemas terhadap peran Raja Charles sebagai kepala negara. Ia tetap menjalankan tugasnya tanpa hambatan berarti.
Ke depan, penting bagi media dan masyarakat untuk menanggapi isu kesehatan publik figur berdasarkan data medis dan pernyataan resmi, bukan dari asumsi atau penilaian visual semata.
Pihak istana telah bertindak cepat dan terbuka, menunjukkan pentingnya komunikasi yang transparan dalam menghadapi spekulasi publik atas kesehatan tokoh penting kerajaan.(*)





