EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
Beranda PERISTIWA INTERNASIONAL
Rusia Tolak Ultimatum Trump Soal Ukraina

Rusia Tolak Ultimatum Trump Soal Ukraina

Trump mengeluarkan ultimatum teatrikal kepada Kremlin. Rusia tidak peduli, Eropa kecewa.

Akmal Solihannoer oleh Akmal Solihannoer
16 Juli 2025
Kategori INTERNASIONAL, PERISTIWA
0
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Moskow ,EKOIN.CO – Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, menyatakan bahwa Rusia tidak akan menggubris ultimatum Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang diumumkan pada Senin, 15 Juli 2025. Medvedev menyebut pernyataan Trump sebagai “ultimatum teatrikal” yang tidak memengaruhi sikap Moskow dalam konflik Ukraina.

Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v

Pernyataan keras tersebut diungkapkan Medvedev melalui unggahan berbahasa Inggris di platform sosial X, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita TASS. Ia menekankan bahwa Kremlin tidak akan terpengaruh oleh tekanan dari pihak manapun, termasuk Amerika Serikat dan sekutunya di Eropa.

“Trump mengeluarkan ultimatum teatrikal kepada Kremlin. Dunia bergidik, mengantisipasi konsekuensinya. Eropa yang agresif kecewa. Rusia tidak peduli,” tulis Medvedev dalam unggahan tersebut.

Pernyataan tersebut menjadi tanggapan resmi pertama dari jajaran pejabat tinggi Rusia atas ancaman Trump yang disampaikan dalam konferensi pers bersama Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Gedung Putih.

Berita Menarik Pilihan

Pramono Terbitkan Pergub Efisiensi Energi dan Air Hadapi Perubahan Iklim

Belasan Tahun Mangkrak, Tiang Beton Monorel di Jantung Jakarta Akhirnya Mulai Dibersihkan

Dalam kesempatan itu, Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan kembali mengirimkan bantuan senjata dan perlengkapan militer ke Ukraina. Ia juga menyatakan bahwa Uni Eropa akan berbagi tanggung jawab pembiayaan, sementara NATO akan mengoordinasikan pengirimannya.

Trump menegaskan bahwa jika Rusia tidak menyepakati pengakhiran perang Ukraina dalam waktu 50 hari, ia akan memberlakukan tarif sekunder sebesar 100 persen terhadap Moskow. Ancaman tersebut dikatakannya dengan nada tegas di hadapan media.

“Kami akan menerapkan tarif sekunder jika tidak ada kesepakatan dalam 50 hari. Sangat mudah, dan tarifnya akan 100 persen,” ucap Trump seperti dikutip dari The National.

Trump menambahkan bahwa dirinya menggunakan kebijakan perdagangan untuk berbagai tujuan, termasuk sebagai sarana penyelesaian konflik. “Perdagangan juga sangat baik untuk menyelesaikan perang,” katanya.

Sementara itu, Medvedev dalam pernyataan terpisah di Telegram menyindir inkonsistensi kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang menurutnya selalu berubah berdasarkan kepentingan politik dalam negeri.

“Amerika sekali lagi menyeimbangkan pilihan politik favoritnya,” tulis Medvedev, merujuk pada sikap Trump terkait Ukraina dan hubungannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Respons Tegas Rusia atas Ancaman AS

Menanggapi pernyataan Trump, Medvedev menegaskan bahwa Rusia tidak akan berubah arah dalam operasinya di Ukraina. Ia mengatakan bahwa pendekatan militer Rusia akan terus dilanjutkan seperti sebelumnya.

“Bagaimana kita akan menghadapinya? Cara yang telah kita lakukan. Cara yang dilakukan tentara kita. Cara yang dilakukan panglima tertinggi kita,” kata Medvedev menegaskan.

Ia menambahkan bahwa Rusia tidak memerlukan pendekatan baru untuk menanggapi tekanan eksternal, dan menyebut bahwa tidak ada reaksi khusus terhadap ancaman tersebut.

“Artinya tidak menghadapinya dengan cara apa pun,” lanjut Medvedev. Ia juga menegaskan bahwa fokus utama Rusia adalah pencapaian tujuan militer dalam operasi khusus yang sedang berlangsung.

“Kita perlu terus mencapai tujuan operasi militer khusus,” tandasnya. Pernyataan ini mempertegas komitmen Rusia untuk melanjutkan serangan di wilayah Ukraina meski mendapat tekanan dari Barat.

NATO dan Eropa Terlibat Aktif

Dalam pertemuan di Gedung Putih, Trump menyatakan bahwa NATO akan memainkan peran utama dalam pengiriman bantuan militer ke Ukraina. Ia juga menekankan bahwa Uni Eropa harus turut menanggung beban biaya yang muncul.

Koordinasi antara Amerika Serikat, Uni Eropa, dan NATO ini dinilai sebagai bentuk solidaritas terhadap Ukraina, yang hingga kini masih menghadapi serangan dari pasukan Rusia di sejumlah wilayah timur dan selatan.

Meski demikian, Trump menyatakan kekecewaannya terhadap Presiden Vladimir Putin karena konflik masih terus berlangsung. Ia mengatakan telah mencoba mengupayakan dialog namun tidak membuahkan hasil yang diharapkan.

Medvedev tidak menanggapi secara langsung pernyataan kekecewaan tersebut. Namun sikapnya yang menyebut ultimatum Trump sebagai “teatrikal” memperlihatkan bahwa Rusia tidak berniat merespons secara diplomatik.

Ketegangan antara Moskow dan Washington terus meningkat seiring intensifikasi konflik di Ukraina. Saling balas pernyataan di ruang publik menunjukkan bahwa jalur dialog antara kedua negara masih sangat buntu.

Trump diketahui sering menggunakan pendekatan ekonomi dalam kebijakan luar negerinya. Ancaman tarif menjadi salah satu strategi utamanya saat menjabat, dan kini kembali digunakan untuk menekan Rusia.

Namun, Rusia tampak tidak terpengaruh oleh pendekatan tersebut. Penolakan Medvedev atas ultimatum tersebut mencerminkan kepercayaan diri Rusia bahwa tekanan ekonomi dari Barat tidak akan mengubah kebijakan militer Kremlin.

Sementara itu, situasi di lapangan di Ukraina belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Konflik bersenjata masih terjadi di beberapa kota besar seperti Kharkiv dan Donetsk, dengan jumlah korban terus bertambah.

Masyarakat internasional terus menyerukan penghentian perang dan mendorong dialog damai. Namun hingga kini belum ada kemajuan berarti dalam upaya mediasi internasional.

Pemerintah Ukraina sendiri menyambut baik dukungan baru dari Amerika Serikat dan NATO. Namun mereka juga menyadari bahwa tekanan terhadap Rusia harus disertai dengan diplomasi yang kuat agar hasilnya efektif.

konflik antara Rusia dan Ukraina kini kembali menjadi titik panas dalam diplomasi global, dengan Amerika Serikat memainkan peran sentral. Ancaman tarif dari Trump menjadi perhatian dunia, namun tidak direspons serius oleh Moskow. Medvedev menegaskan bahwa Rusia akan tetap pada jalur militernya, tanpa memperhatikan tekanan eksternal.

Langkah Trump memberikan batas waktu 50 hari bisa saja memicu eskalasi lebih lanjut jika tidak diiringi dengan langkah diplomatik. Posisi Eropa yang mendukung Ukraina memperkuat isolasi terhadap Rusia, namun belum terbukti mampu menghentikan invasi.

Peran NATO dalam distribusi bantuan memperlihatkan soliditas Barat dalam menghadapi Rusia. Namun tanpa solusi politik yang konkret, bantuan militer hanya memperpanjang konflik tanpa penyelesaian.

Pernyataan Medvedev mengisyaratkan bahwa Rusia telah mengantisipasi sanksi atau tekanan ekonomi lebih lanjut dari Barat. Oleh karena itu, diplomasi dan negosiasi tetap menjadi opsi paling masuk akal untuk meredakan ketegangan.

Penting bagi komunitas internasional untuk terus menekan kedua belah pihak agar menghentikan konflik yang telah menimbulkan korban jiwa besar. Hanya pendekatan damai yang dapat menghasilkan penyelesaian jangka panjang dalam perang ini. (*)


 

Tags: MedvedevNATORusiatrumpUkrainaultimatum
Post Sebelumnya

Konflik Ukraina, Trump Ultimatum Gencatan Segera Situasi Akan Buruk Jika Tak Damai

Post Selanjutnya

Gubernur Jakarta Hadiri Forum SDGs PBB di New York

Akmal Solihannoer

Akmal Solihannoer

Berita Terkait

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung bersama Inspektorat DKI Jakarta Dhany Sukma. (Foto: Ridwansyah/ekoin.co)

Pramono Terbitkan Pergub Efisiensi Energi dan Air Hadapi Perubahan Iklim

oleh Noval Verdian
7 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 5 Tahun 2026 tentang Efisiensi Energi dan...

Proses pembongkaran salah satu struktur beton tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta. Gubernur Pramono Anung menargetkan percepatan pengerjaan guna segera memulai penataan pedestrian dan taman di kawasan strategis Kuningan. (Foto: Istimewa)

Belasan Tahun Mangkrak, Tiang Beton Monorel di Jantung Jakarta Akhirnya Mulai Dibersihkan

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

“Setelah melihat kondisi lapangan, pengerjaan harus dipercepat. Sekarang bisa empat hingga lima tiang sehari,” kata Pramono di Hotel Aryaduta Menteng,...

DPRD mendorong Pemprov DKI untuk tetap fokus pada pengentasan kemiskinan dan layanan dasar meski tengah menghadapi tantangan stabilitas fiskal daerah. (Foto: Humas DPRD DKI/Ekoin.co)

Jakarta Membaik tapi Masih Timpang, Yuke Yurike Soroti Kesenjangan Antargenerasi yang Lebar

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

Ia menilai perencanaan program daerah tidak bisa berjalan parsial, melainkan harus dikunci agar sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional...

Ilustrasi pertemuan diplomatik tingkat tinggi antara AS dan Iran di Oman. Perundingan yang dimulai Jumat (6/2/2026)

Diplomasi di Ujung Tanduk: AS-Iran Bertemu di Oman, Trump Tebar Ancaman Jika Negosiasi Nuklir Gagal

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

Bagi Iran, perundingan kali ini disebut sebagai upaya mempertahankan hak nasional sekaligus membuka ruang kesepahaman baru.

Post Selanjutnya
Gubernur Jakarta Hadiri Forum SDGs PBB di New York

Gubernur Jakarta Hadiri Forum SDGs PBB di New York

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKOIN.CO

EKOIN.CO - Media Ekonomi Nomor 1 di Indonesia

  • REDAKSI
  • IKLAN
  • MEDIA CYBER
  • PETA SITUS
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • PERSYARATAN LAYANAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.