New Delhi, EKOIN.CO – Kebijakan proteksionis Amerika Serikat yang kembali dikedepankan di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump memicu reaksi keras dari negara-negara BRICS, termasuk India. Pemerintah AS mengumumkan tarif impor sebesar 10% untuk produk dari negara-negara anggota BRICS serta ancaman tarif hingga 200% terhadap produk farmasi. Langkah ini dinilai dapat memperburuk kondisi perdagangan internasional serta memicu ketegangan dagang antara dua kekuatan besar, Amerika dan India.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Menurut data dari Kantor Perwakilan Perdagangan Amerika Serikat (USTR), total impor AS dari negara-negara BRICS mencapai USD886 miliar. Dengan tarif baru yang dikenakan sebesar 10%, nilai tambahan bea masuk diperkirakan akan mencapai lebih dari USD88 miliar. Konsekuensinya, ekspansi ekonomi yang tengah digalakkan oleh negara-negara BRICS bisa terganggu.
India menjadi salah satu negara yang paling terdampak oleh kebijakan ini, terutama dalam sektor ekspor farmasi dan tembaga. Ekspor farmasi India ke AS pada tahun 2024–2025 tercatat mencapai USD9,8 miliar, setara dengan 30% dari total ekspor farmasi India. Jika tarif 200% diterapkan, maka harga obat di pasar AS bisa melonjak drastis.
Negara bagian seperti California, Florida, dan Texas yang selama ini menjadi penerima utama pengiriman obat dari India akan mengalami lonjakan biaya kesehatan. Selain itu, konsumen AS yang bergantung pada program Medicare dan Medicaid dikhawatirkan akan menjadi korban utama dari kebijakan ini.
Sektor lain yang terancam adalah industri tembaga India. Dari total ekspor sebesar USD2 miliar, sekitar USD360 juta ditujukan ke AS. Ancaman tarif 50% terhadap produk ini diperkirakan akan menurunkan daya saing ekspor India secara signifikan, terutama di negara bagian Gujarat dan Tamil Nadu yang menjadi pusat manufaktur tembaga.
India Menolak Tekanan, Desak Perdagangan Adil
Merespons situasi ini, pemerintah India melalui Kementerian Perdagangan menyatakan akan meninjau ulang kebijakan ekspor ke AS dan mendesak solusi yang lebih adil dalam perdagangan internasional. Juru bicara kementerian menyebutkan, “India tidak akan tinggal diam terhadap praktik ekonomi diskriminatif. Kami mendorong dialog yang seimbang.”
Langkah konkret pun mulai disiapkan oleh India, termasuk menggencarkan kerja sama dengan anggota BRICS lain untuk meningkatkan perdagangan intra-blok. Hal ini juga bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan sistem perdagangan berbasis Barat.
India juga tengah menggalakkan penggunaan rupee dalam transaksi internasional serta memperkuat hubungan bilateral dengan Tiongkok, Brasil, Rusia, dan Afrika Selatan. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan sistem keuangan yang lebih inklusif dan seimbang.
Pengamat ekonomi internasional di New Delhi, Rajiv Mehta, mengatakan bahwa tindakan AS berisiko menciptakan fragmentasi baru dalam sistem perdagangan global. “Jika BRICS bersatu memperkuat pasar internal, maka tekanan ekonomi dari AS akan berbalik merugikan mereka sendiri,” ujarnya kepada media lokal.
Kebijakan tarif tinggi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan perubahan arah ekonomi global. BRICS kini dilihat sebagai blok strategis yang tidak hanya berfokus pada ekonomi tetapi juga kebijakan global yang lebih berimbang.
Tarif Tinggi Picu Potensi Perang Dagang
Kekhawatiran utama dari kebijakan ini adalah potensi terjadinya perang dagang yang bisa merugikan kedua pihak. AS selama ini mengandalkan pasokan obat murah dari India, sedangkan India sangat bergantung pada pasar Amerika sebagai tujuan ekspor.
Para pelaku industri farmasi India menyebut bahwa kenaikan tarif akan berdampak besar terhadap sistem logistik dan produksi. Menurut laporan dari Indian Pharmaceutical Alliance, ketidakpastian kebijakan tarif ini dapat membuat perusahaan harus merevisi seluruh strategi ekspor mereka.
Sementara itu, asosiasi industri tembaga di India juga menyampaikan bahwa tarif tambahan dapat mengganggu stabilitas harga dan menurunkan volume pengiriman. Sektor ini berkontribusi signifikan terhadap lapangan kerja dan pendapatan daerah di India bagian selatan.
Pemerintah India pun dilaporkan tengah menyiapkan skema insentif baru bagi eksportir untuk menanggulangi dampak tarif. Selain itu, hubungan bilateral dengan negara-negara lain di Asia dan Afrika juga mulai diperkuat sebagai alternatif pasar ekspor.
Sementara AS menyatakan bahwa kebijakan ini bertujuan melindungi industri dalam negerinya, sejumlah pakar menyebut bahwa langkah tersebut bersifat diskriminatif dan merusak sistem perdagangan multilateral yang sudah dibangun selama puluhan tahun.
Ke depannya, India diperkirakan akan menggencarkan kampanye diplomatik di forum internasional seperti WTO dan G20 untuk menyuarakan keberatannya atas kebijakan tarif AS. Dukungan dari negara-negara berkembang lainnya akan menjadi kunci dalam menyeimbangkan peta perdagangan global.
India juga diyakini akan mempercepat program substitusi impor dan mendukung industri lokal agar tidak terlalu tergantung pada pasar Barat. Strategi ini menjadi bagian dari visi “Atmanirbhar Bharat” atau India mandiri yang dicanangkan Perdana Menteri Narendra Modi.
Kebijakan tarif AS dinilai bukan hanya berdampak terhadap hubungan dagang, tetapi juga bisa merusak kepercayaan global terhadap sistem perdagangan terbuka. Dalam jangka panjang, negara-negara berkembang mungkin akan lebih berhati-hati dalam bermitra dengan kekuatan ekonomi besar seperti AS.
India kini berada di titik krusial untuk menentukan arah kebijakan ekonominya ke depan. Ketegangan dagang dengan AS bisa menjadi momentum bagi India untuk memperkuat kerja sama Selatan-Selatan dan mencari pasar baru yang lebih adil serta berkelanjutan.
meningkatnya proteksionisme dari Amerika Serikat mendorong negara-negara BRICS, khususnya India, untuk mengevaluasi kembali strategi perdagangan mereka. Langkah tarif tinggi bukan hanya berisiko bagi perekonomian global, tetapi juga terhadap stabilitas sektor kesehatan dan manufaktur yang sangat tergantung pada kerja sama internasional.
India tidak hanya bereaksi dengan retorika, tetapi juga dengan strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar AS. Kerja sama multilateral dan diversifikasi pasar menjadi fokus utama pemerintah India dalam menghadapi tekanan tarif ini.
Penting bagi negara-negara berkembang lainnya untuk bersatu dalam menghadapi praktik ekonomi tidak adil dan memperkuat sistem perdagangan yang lebih setara. BRICS dapat menjadi model kolaborasi ekonomi baru yang tidak terlalu terpusat pada kekuatan Barat.
Masyarakat internasional diharapkan dapat mendorong kembalinya perdagangan yang terbuka dan berbasis aturan. Ketergantungan yang berlebihan pada satu pasar atau mata uang bisa menjadi titik lemah dalam sistem perdagangan global.
Dengan memperkuat kemandirian dan kerja sama lintas kawasan, India dan BRICS berpotensi membentuk tatanan ekonomi baru yang lebih seimbang, inklusif, dan tangguh terhadap tekanan eksternal. (*)





