Istanbul EKOIN.CO – Pemerintah Indonesia resmi menandatangani kontrak pembelian 48 unit jet tempur generasi kelima KAAN buatan Turki dalam pameran pertahanan internasional IDEF 2025 yang digelar di Istanbul, Turki, pada awal Agustus 2025. Keputusan ini mencuat di tengah langkah efisiensi anggaran belanja negara sebesar Rp30 triliun yang sedang diberlakukan oleh pemerintah pusat.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Kontrak pembelian ini menjadi sorotan karena nilainya yang fantastis, yakni sekitar Rp100 triliun. Namun, pemerintah menilai langkah ini sebagai bagian dari upaya strategis dalam memperkuat pertahanan nasional, bukan sekadar pengeluaran besar yang tidak tepat sasaran. Penandatanganan kontrak turut disaksikan langsung oleh Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin, yang menegaskan pentingnya modernisasi alutsista Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global.
Pamer Kekuatan Udara di Tengah Tekanan Fiskal
Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menjelaskan bahwa penguatan sektor pertahanan tidak bisa ditunda hanya karena adanya tekanan anggaran. Menurutnya, keamanan nasional adalah prioritas mutlak. “Pertahanan bukan perkara bisa atau tidak, tapi soal wajib atau tidak. Dan ini adalah keharusan,” ujar Dasco seperti dikutip dari berbagai sumber.
Jet tempur KAAN yang dipesan Indonesia merupakan pesawat tempur generasi kelima yang memiliki fitur canggih setara dengan F-35 milik Amerika Serikat. Pesawat ini dirancang dengan teknologi siluman (stealth), avionik terkini, serta kemampuan tempur yang unggul baik dalam pertempuran udara maupun darat. Turki memproduksi jet ini melalui konsorsium industri pertahanan dalam negeri yang menandai kemajuan signifikan negara tersebut dalam industri militer global.
Kehadiran jet KAAN di Indonesia nantinya tidak hanya meningkatkan kekuatan TNI AU, tetapi juga berfungsi sebagai simbol kebangkitan militer Indonesia di kawasan Indo-Pasifik. Langkah ini sekaligus mempertegas posisi Indonesia dalam percaturan geopolitik yang semakin kompleks, di mana kekuatan udara menjadi salah satu faktor penentu dalam menjaga kedaulatan wilayah.
Kerja Sama Strategis Indonesia–Turki
Pembelian 48 unit jet KAAN ini juga mencerminkan penguatan hubungan bilateral antara Indonesia dan Turki di bidang pertahanan. Sejak Juni 2025, kedua negara telah menjalin kemitraan strategis dalam pengembangan teknologi militer dan transfer teknologi. Kolaborasi ini dipandang saling menguntungkan dan membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan kemandirian industri pertahanannya.
Menurut informasi yang dihimpun dari media Turki, kerja sama ini mencakup pelatihan personel, pertukaran teknologi, serta kemungkinan produksi komponen jet secara lokal di Indonesia. Pemerintah Indonesia juga disebut sedang menjajaki opsi perakitan sebagian jet KAAN di fasilitas industri pertahanan dalam negeri, guna mempercepat penguasaan teknologi militer canggih.
Kebijakan ini memunculkan pro dan kontra di kalangan masyarakat dan pengamat anggaran. Beberapa pihak menilai langkah ini kurang tepat di tengah tekanan fiskal, namun pemerintah menegaskan bahwa ancaman geopolitik tidak bisa diabaikan. Investasi di sektor pertahanan dipandang sebagai langkah jangka panjang yang strategis.
Sementara itu, IDEF 2025 di Istanbul menjadi ajang pamer teknologi militer dari berbagai negara. Indonesia menjadi salah satu negara pembeli terbesar dalam pameran ini, menunjukkan keseriusannya dalam melakukan modernisasi kekuatan militer nasional. Kehadiran Menhan RI juga dipandang sebagai sinyal kuat akan komitmen pemerintah dalam memperkuat TNI.
Indonesia juga telah berkomitmen untuk mengalokasikan anggaran pertahanan secara bertahap, dengan penekanan pada efisiensi dan efektivitas pengeluaran. Langkah ini, menurut pejabat Kementerian Keuangan, tetap sesuai dengan prinsip kehati-hatian fiskal meski jumlahnya tergolong besar.
Pengadaan jet tempur ini direncanakan dilakukan dalam beberapa tahap pengiriman hingga tahun 2030. Dalam tahap awal, Turki akan mengirim 12 unit jet KAAN pada 2027, dan sisanya secara bertahap setiap tahunnya. Pemerintah Indonesia berharap seluruh proses berjalan tepat waktu dan sesuai standar operasional.
Sebagai bagian dari pengadaan ini, Indonesia juga akan menerima paket pelatihan untuk pilot dan teknisi, serta dukungan logistik dan pemeliharaan jangka panjang. Hal ini dinilai krusial agar kemampuan operasional TNI AU dapat segera dioptimalkan begitu jet KAAN mulai dioperasikan.
Selain itu, pengadaan jet KAAN turut mendorong semangat alih teknologi dan peningkatan kapasitas industri pertahanan nasional. Pemerintah berharap kerja sama ini menjadi batu loncatan bagi Indonesia dalam membangun kemandirian teknologi militer di masa mendatang.
Dalam jangka menengah, Indonesia juga disebut sedang menjajaki kemungkinan ekspor bersama jet KAAN ke negara ketiga sebagai bagian dari kolaborasi dengan Turki. Langkah ini akan memberi keuntungan ekonomi tambahan serta memperluas pengaruh geopolitik Indonesia di kawasan.
Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, pemerintah tetap optimistis bahwa pengadaan jet tempur KAAN akan menjadi investasi strategis jangka panjang bagi pertahanan negara. Dengan demikian, Indonesia bisa memperkuat posisi sebagai kekuatan udara regional yang disegani.
Sebagai penutup, langkah Indonesia dalam membeli 48 unit jet tempur KAAN dari Turki merupakan respons atas situasi geopolitik yang dinamis. Pemerintah berusaha menjaga kedaulatan nasional melalui penguatan alutsista, sekaligus menjalin kerja sama strategis yang mendukung kemandirian pertahanan.
Keputusan ini sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah memiliki komitmen tinggi terhadap keamanan nasional, meskipun harus dihadapkan pada tekanan fiskal yang signifikan. Pemerintah juga terus berupaya memastikan bahwa setiap pengeluaran pertahanan membawa manfaat jangka panjang.
Dukungan terhadap industri pertahanan dalam negeri melalui alih teknologi dan kerja sama produksi menjadi salah satu poin penting dari kesepakatan ini. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga bagian dari produsen alutsista modern.
Langkah ini diharapkan membuka jalan bagi penguatan kemampuan TNI AU serta mendorong percepatan transformasi pertahanan nasional secara menyeluruh. Dalam beberapa tahun mendatang, Indonesia ditargetkan mampu mengoperasikan kekuatan udara modern yang kompetitif.
Dengan penguatan pertahanan tersebut, pemerintah berharap Indonesia dapat menjaga stabilitas regional dan meningkatkan daya tawar dalam diplomasi keamanan di kawasan Indo-Pasifik. ( * )





