Jakarta, EKOIN.CO – Australia dikabarkan akan mengakui kedaulatan Palestina paling cepat pada Senin ini, mengikuti jejak negara-negara seperti Prancis, Inggris, dan Kanada. Kabar ini dilaporkan oleh Sydney Morning Herald (SMH), yang mengutip sumber anonim dari pemerintahan Australia.
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, disebut dapat memberikan persetujuan setelah rapat kabinet rutin yang diadakan pada hari yang sama. Akan tetapi, hingga berita ini diturunkan, kantor PM belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut.
Langkah ini mencerminkan komitmen pemerintahannya pada solusi dua negara. Albanese sebelumnya menegaskan posisi pemerintahnya dalam sebuah pernyataan di Selandia Baru pada Sabtu, 9 Agustus 2025. “Ini masalah waktu, bukan apakah,” ujar Albanese. Ia menambahkan bahwa “Untuk jangka waktu yang lama, ada posisi bipartisan di Australia yang mendukung dua negara,” seperti dikutip oleh Reuters.
Di sisi lain, respons dari pihak Israel cukup keras. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengecam rencana tersebut. Ia berpendapat bahwa pengakuan terhadap negara Palestina justru akan menguntungkan Hamas. Pernyataan Netanyahu pada Minggu, 10 Agustus 2025, mencerminkan ketidaksetujuannya. “Melihat negara-negara Eropa dan Australia masuk ke lubang kelinci begitu saja, ini mengecewakan dan memalukan, tetapi tidak akan mengubah posisi kami,” tegasnya.
Netanyahu juga menambahkan bahwa sebagian besar warga Israel menolak pembentukan negara Palestina. Menurutnya, hal tersebut tidak akan membawa perdamaian, melainkan peperangan. Sikap pemerintah kiri-tengah Albanese selama ini konsisten mendukung hak Israel untuk hidup dengan aman di dalam perbatasannya, sambil juga mengakui hak Palestina untuk memiliki negara merdeka.





