JAKARTA, EKOIN.CO – Industri tekstil dunia tengah memasuki fase persaingan ketat, dengan sejumlah raksasa global saling bersaing merebut pangsa pasar. Namun, di tengah gejolak itu, Indonesia justru mengalami tekanan besar dan tertinggal dari negara pesaing utama seperti China, Bangladesh, Vietnam, Turki, dan India. (Baca Juga : Industri Tekstil Indonesia Terpuruk)
Sektor tekstil, yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung perdagangan internasional, kini menghadapi tantangan berlapis mulai dari persaingan harga, banjir impor, hingga gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang meluas.
Persaingan Tekstil Global Menguat
China tetap memimpin sebagai penguasa pasar tekstil dunia dengan nilai penjualan tahunan lebih dari US$300 miliar. Negeri Tirai Bambu ini memproduksi berbagai jenis kain dan serat, mengekspor ke hampir seluruh negara dengan dukungan teknologi canggih dan biaya produksi murah. (Baca Juga : China Kuasai Pasar Tekstil Global)
Bangladesh membuntuti dengan nilai ekspor US$40-50 miliar per tahun, menjadi pemasok utama merek ternama seperti Walmart, Zara, dan H&M. Sementara itu, Vietnam mengandalkan perjanjian perdagangan bebas dan pabrik ramah lingkungan untuk menembus pasar Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa.
Turki memanfaatkan lokasi strategis dekat Eropa untuk mengirim produk denim, handuk, dan pakaian katun premium senilai US$35-38 miliar per tahun. India pun tampil sebagai pemain besar dengan keragaman produk, mulai dari kapas dan sutra hingga kain sintetis, mengekspor ke berbagai negara besar di dunia.
Sayangnya, tren positif di negara-negara tersebut tidak selaras dengan kondisi Indonesia. Nilai ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia turun 20,5% dari puncaknya US$4,56 miliar pada 2021 menjadi US$3,63 miliar pada 2024. (Baca Juga : Ekspor Tekstil Indonesia Turun)
Dampak Serius Bagi Tenaga Kerja
Penurunan kinerja industri TPT berdampak langsung pada pasar tenaga kerja. Menurut Ketua Bidang Teknologi Industri Tekstil Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI) Cecep Daryus, PHK tidak hanya menimpa buruh pabrik tetapi juga menyasar manajemen.
“Anggota kami yang merupakan profesional tekstil di level manajemen turut terdampak dari PHK dan penurunan kinerja industri, meskipun tidak terlalu signifikan,” ungkap Cecep, Selasa (5/8/2025).
Gelombang PHK ini bahkan memicu tren baru: banyak profesional tekstil Indonesia hijrah ke negara tetangga seperti Vietnam, Kamboja, dan Malaysia, di mana permintaan terhadap tenaga kerja manajerial justru meningkat. (Baca Juga : Profesional Tekstil Hijrah ke Luar Negeri)
Di tengah situasi sulit ini, investasi di sektor TPT justru melonjak. Data Kementerian Perindustrian mencatat kenaikan 124,9% pada 2024 menjadi Rp4,53 triliun, menyerap 1.907 tenaga kerja. Namun, efeknya belum cukup menahan gelombang PHK.
Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB) Nandi Herdiaman menyebut utilisasi industri garmen skala kecil dan menengah yang fokus pada pasar domestik masih rendah, di bawah 50%. “Kita bisa lihat baik di toko offline maupun online, dipenuhi barang impor,” katanya.
Tantangan Pasar Domestik dan Impor
Banyak pekerja yang terkena PHK banting setir menjadi pengusaha konveksi, namun pesanan tetap minim. Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Farhan Aqil Syauqi menegaskan perlunya jaminan pasar untuk menjaga keberlanjutan investasi.
“Jangankan pasar ekspor yang banyak tantangan, pasar dalam negeri pun dibanjiri produk impor,” tegas Farhan. (Baca Juga : Pasar Domestik Dibanjiri Impor)
Para pelaku industri menilai bahwa tanpa penguatan proteksi terhadap produk lokal, sektor TPT akan terus tergerus oleh gempuran barang dari luar negeri, terlebih dengan adanya kesepakatan dagang seperti tarif resiprokal dan IEU-CEPA.
Industri tekstil global tengah berada di titik persaingan paling sengit, dan Indonesia belum mampu bangkit dari tekanan yang terjadi.
Ekspor menurun, pasar domestik dibanjiri impor, dan PHK meluas.
Lonjakan investasi belum cukup memberi dampak positif signifikan pada tenaga kerja dan utilisasi industri.
Persaingan negara-negara besar menuntut Indonesia melakukan pembenahan besar-besaran.
Proteksi pasar dan strategi industri menjadi kunci agar tekstil Indonesia kembali berdaya saing. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





