EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
Beranda EKOBIS
Birokrasi Hambat Pangan, Dirut Agrinas Angkat Bicara

Birokrasi Hambat Pangan, Dirut Agrinas Angkat Bicara

Joao Angelo mengundurkan diri dari jabatan Dirut Agrinas karena menilai birokrasi Danantara menghambat progres sektor pangan. Ia berharap pemerintah memotong rantai birokrasi agar petani lebih produktif dan harga pangan tetap terjangkau.

Akmal Solihannoer oleh Akmal Solihannoer
14 Agustus 2025
Kategori EKOBIS, EKONOMI
0
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

 

JAKARTA, EKOIN.CO – Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, resmi mengundurkan diri pada Senin, 11 Agustus 2025, setelah enam bulan memimpin perusahaan yang bergerak di sektor pangan. Keputusan ini ia ambil karena menilai tantangan birokrasi dan minimnya dukungan anggaran membuat dirinya belum mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional dan kesejahteraan petani.
Gabung WA Channel EKOIN di sini

Dalam pernyataannya, Joao menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh warga, khususnya petani, serta kepada Presiden yang telah menunjuknya. “Dengan sangat menyesal, saya memohon maaf kepada seluruh warga negara, khususnya kepada petani, kepada negara dan Presiden yang sudah menunjuk kami untuk mengemban jabatan ini. Jadi perkenankan saya menyampaikan pengunduran diri saya, dan izinkan saya untuk meminta maaf,” ujar Joao.

Birokrasi Dinilai Hambat Progres Perusahaan

Joao mengungkap bahwa masalah pangan di Indonesia membutuhkan langkah cepat, namun terhambat oleh birokrasi yang rumit di Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Menurutnya, proses administrasi yang panjang membuat pengambilan keputusan berjalan lambat.

Ia mencontohkan, untuk satu proyek, PT Agrinas Pangan harus tiga kali menyerahkan studi kelayakan (feasibility study) sebelum mendapat persetujuan. Pola kerja yang terlalu administratif ini dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan dunia bisnis yang mengutamakan kecepatan dan hasil.

Berita Menarik Pilihan

Demi Pertamax Green, Pertamina Lobi Kemenkeu Hapus Cukai Etanol di 120 Terminal BBM

IHSG Kembali Tersungkur di Zona Merah pada Sesi Penutupan Pekan ini, ini Penyebabnya

“Kebetulan dari sektor swasta murni di mana saya biasa bekerja dengan cepat, singkat, dengan prosedur-prosedur yang berpihak kepada bagaimana bisa mempercepat suatu kegiatan, dan berorientasi dengan profit,” tegas Joao.

Dalam pandangannya, pola seperti itu hanya menghambat inovasi dan efektivitas program. Ia menilai sistem di BPI Danantara belum bertransformasi untuk menghadapi tantangan pangan nasional.

Sentilan untuk Kinerja Pembantu Presiden Terpilih

Joao juga menyoroti perbedaan antara semangat Presiden terpilih Prabowo Subianto dengan kinerja para pembantunya. Ia menilai niat kuat Prabowo memajukan sektor pangan tidak sepenuhnya diimbangi oleh tim yang berada di bawahnya.

“Budaya ini ternyata sangat jauh daripada yang kami praktekan selama ini sehingga saya melihat semangat dan keseriusan Pak Prabowo yang luar biasa tidak didukung oleh pembantu-pembantunya termasuk teman-teman di Danantara masih terbelenggu dengan administrasi yang sangat panjang, bertumpang tindih, dan tidak pernah selesai,” jelasnya.

Pernyataan ini menjadi sorotan publik karena menyinggung langsung peran pejabat di sekitar presiden terpilih. Menurut Joao, jika birokrasi tidak disederhanakan, program pangan strategis akan sulit tercapai.

Meski telah menyerahkan surat pengunduran diri kepada Danantara Indonesia dan diterima staf manajer, Joao masih akan menjabat selama 30 hari ke depan. Namun, ia menegaskan sudah tidak memiliki wewenang untuk menandatangani dokumen perusahaan.

Di sisa masa jabatannya, Joao berjanji tetap menjalankan tugas transisi secara profesional. Ia berharap penggantinya kelak bisa mendapat dukungan lebih besar, baik dari sisi anggaran maupun kebijakan.

Menurutnya, keberhasilan sektor pangan tidak hanya diukur dari volume produksi, tetapi juga dari kelancaran distribusi dan kestabilan harga di pasar. Tanpa dukungan kebijakan yang cepat dan tepat, tujuan tersebut sulit tercapai.

Joao menekankan perlunya sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan petani. Ia menilai, jika hambatan birokrasi dipangkas, peluang untuk meningkatkan produktivitas pertanian akan terbuka lebar.

Selain itu, ia mendorong agar petani mendapat akses lebih mudah terhadap teknologi, bibit unggul, dan pasar. Menurutnya, ketiga faktor tersebut adalah kunci untuk meningkatkan daya saing pangan Indonesia di pasar global.

Joao juga berharap harga beras dan komoditas pangan strategis lainnya tetap terjangkau bagi masyarakat, meski di tengah gejolak harga internasional. Ia menilai, keberhasilan mengendalikan harga pangan akan berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat.

Kepergian Joao dari Agrinas Pangan memunculkan pertanyaan publik tentang kesiapan pemerintah dalam menangani hambatan struktural di sektor pangan. Banyak pihak menilai, tantangan utama bukan hanya anggaran, tetapi juga reformasi birokrasi yang selama ini menghambat eksekusi program.

Ke depan, pemerintah diharapkan mampu mempercepat pengambilan keputusan dan mengurangi tumpang tindih administrasi, sehingga target swasembada pangan bisa tercapai. Tanpa perubahan mendasar, upaya memperkuat ketahanan pangan dikhawatirkan akan berjalan lambat.

(*)

Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v


 

Tags: Agrinas PanganbirokrasiDanantaraJoao AngelopanganPrabowo Subianto
Post Sebelumnya

Ekspor Kapal Selam Jerman Picu Kontroversi Politik

Post Selanjutnya

Danantara Ubah Wajah Promosi Indonesia Lebih Percaya Diri Gaet Investasi Asing

Akmal Solihannoer

Akmal Solihannoer

Berita Terkait

Pertamina mendesak percepatan izin pembebasan cukai di 120 terminal BBM guna mendukung ekspansi produk Pertamax Green yang lebih kompetitif. (Foto: Istimewa/Ekoin.co)

Demi Pertamax Green, Pertamina Lobi Kemenkeu Hapus Cukai Etanol di 120 Terminal BBM

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

Pertamina saat ini memiliki ratusan titik distribusi yang berpotensi mengadopsi skema serupa apabila regulasi cukai disederhanakan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Jumat, 6 Februari 2026, ditutup anjlok signifikan di zona merah.

IHSG Kembali Tersungkur di Zona Merah pada Sesi Penutupan Pekan ini, ini Penyebabnya

oleh Ainurrahman
6 Februari 2026
0

Namun tenaga itu tak bertahan lama. Tekanan jual kembali datang hingga indeks terperosok ke level terendah 7.888,17. Memasuki sesi berjalan,...

Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Capai 5,21 Persen, Lebih Tinggi dari Pemerintah Pusat

Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Capai 5,21 Persen, Lebih Tinggi dari Pemerintah Pusat

oleh Ridwansyah
6 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Pertumbuhan ekonomi di Jakarta dipastikan melebih pemerintah pusat. Pasalnya berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik perekonomian Jakarta pada...

Akibat Gejolak Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Januari 2026 Tekor Jadi Rp2.596,66 Triliun

Akibat Gejolak Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Januari 2026 Tekor Jadi Rp2.596,66 Triliun

oleh Ainurrahman
6 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tetap tinggi sebesar 154,6 miliar...

Post Selanjutnya
Danantara Ubah Wajah Promosi Indonesia  Lebih Percaya Diri Gaet Investasi Asing

Danantara Ubah Wajah Promosi Indonesia Lebih Percaya Diri Gaet Investasi Asing

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKOIN.CO

EKOIN.CO - Media Ekonomi Nomor 1 di Indonesia

  • REDAKSI
  • IKLAN
  • MEDIA CYBER
  • PETA SITUS
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • PERSYARATAN LAYANAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.