NEW DELHI, EKOIN.CO – India memutuskan untuk mengandalkan jet tempur Rafale buatan Prancis sebagai tulang punggung kekuatan udaranya, di tengah meningkatnya ancaman keamanan dari Pakistan dan Tiongkok. Langkah ini diambil setelah pemerintah menilai opsi pengadaan jet tempur lain, termasuk Su-57 buatan Rusia, kurang sesuai dengan kebutuhan strategis saat ini.
[Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v]
Keputusan ini akan berdampak langsung pada program MRFA (Multi Role Fighter Aircraft) yang semula dirancang untuk menambah 114 jet tempur multiperan bagi Angkatan Udara India. Alih-alih membuka tender internasional, New Delhi diperkirakan akan menutup opsi kompetisi dan fokus pada kontrak langsung dengan Dassault Aviation, produsen Rafale.
India Pilih Konsistensi dengan Rafale
Pemilihan Rafale didorong oleh faktor kesiapan operasional dan pengalaman positif pilot India dalam mengoperasikan jet tersebut. Sejak 2020, India telah menerima 36 unit Rafale yang terbukti efektif di berbagai misi, termasuk patroli perbatasan di wilayah Himalaya yang tegang.
Selain keunggulan teknologi avionik, sistem persenjataan Rafale juga kompatibel dengan rudal jarak jauh Meteor dan rudal jelajah SCALP, yang memberi keunggulan signifikan dalam skenario pertempuran modern. Hal ini menjadi pertimbangan utama dibanding Su-57 Rusia yang masih dalam tahap pengembangan untuk beberapa fitur penting.
Sumber militer India menyebut, “Kami tidak punya waktu untuk menunggu pesawat generasi kelima yang belum matang. Rafale memberikan solusi siap tempur sekarang juga.”
Kondisi ini juga dipicu oleh pensiunnya jet MiG-21, yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung armada tempur India. Penggantian yang cepat menjadi prioritas agar tidak terjadi kekosongan kekuatan udara di sektor strategis.
Ancaman Pakistan dan Tiongkok Dorong Keputusan
Tingkat ketegangan militer di Asia Selatan membuat India tidak bisa menunda modernisasi armada tempur. Pakistan terus memperkuat angkatan udara dengan JF-17 Thunder buatan bersama Tiongkok, sementara Beijing memperluas armada J-20 stealth fighter di dekat perbatasan Ladakh.
Dalam konteks ini, Rafale dianggap mampu memberi efek deterensi yang jelas. Kemampuannya untuk beroperasi di ketinggian ekstrem dan lingkungan cuaca berat sesuai dengan kondisi geografis India yang kompleks.
Pemerintah India menilai pengadaan Rafale melalui jalur negosiasi langsung akan memangkas waktu dan mempercepat pengiriman. Proses tender internasional biasanya memakan waktu bertahun-tahun, sementara ancaman keamanan terus meningkat.
Para analis pertahanan menyebut keputusan ini sebagai bentuk realisme strategis. India lebih memilih mengutamakan kesiapan militer ketimbang proses kompetitif yang berisiko memundurkan jadwal pengadaan.
Langkah ini juga menandai pergeseran hubungan strategis India dengan Prancis. Kedua negara telah memperluas kerja sama industri pertahanan, termasuk peluang produksi komponen Rafale di India melalui skema offset industri.
Dalam jangka panjang, fokus pada Rafale akan memudahkan perawatan, pelatihan, dan interoperabilitas antar-skuadron. Penggunaan satu jenis jet utama memungkinkan efisiensi logistik dan pemeliharaan yang lebih baik.
Dengan latar belakang geopolitik yang terus memanas, keputusan ini menegaskan bahwa India memilih stabilitas operasional dan kemitraan jangka panjang sebagai prioritas. Angkatan Udara India diproyeksikan akan mempercepat proses negosiasi agar tambahan armada Rafale dapat tiba sebelum 2030.
- India memutuskan menambah armada Rafale tanpa tender untuk percepatan kesiapan militer.
- Keputusan dipicu oleh pensiunnya MiG-21 dan meningkatnya ancaman dari Pakistan-Tiongkok.
- Rafale dipilih karena kompatibilitas senjata, kemampuan tempur di medan ekstrem, dan kesiapan segera.
- Kerja sama dengan Prancis di bidang pertahanan semakin erat melalui proyek ini.
- Strategi ini diharapkan menjaga keunggulan udara India di kawasan Asia Selatan.
- India perlu memastikan transfer teknologi maksimal dari kontrak Rafale.
- Pelatihan pilot dan kru pemeliharaan harus ditingkatkan seiring penambahan armada.
- Pengadaan suku cadang dalam negeri akan memperkuat kemandirian pertahanan.
- Pemerintah harus tetap memantau perkembangan teknologi jet tempur generasi kelima.
- Integrasi Rafale dengan sistem pertahanan lain perlu dipercepat untuk efektivitas penuh.
(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





