Jakarta EKOIN.CO – Proyek transportasi kereta cepat Whoosh Jakarta–Bandung kembali menjadi sorotan setelah muncul pernyataan bahwa kerugian besar yang ditanggung PT Kereta Api Indonesia (KAI) sudah diprediksi sejak tahap awal pembangunan. Mantan Direktur Utama PT KAI, Didiek Hartantyo, mengungkapkan bahwa sejak pertama kali membaca studi kelayakan (feasibility study/FS), ia meyakini proyek ini akan bermasalah di kemudian hari karena asumsi dasar yang dinilai tidak realistis. WA Channel EKOIN.
Didiek menyampaikan hal tersebut dalam forum diskusi Meet The Leaders di Jakarta, Sabtu (20/9/2025). Ia menegaskan, meski dirinya lama berkecimpung di dunia korporasi dan infrastruktur, hasil studi kelayakan proyek kereta cepat sudah memperlihatkan potensi masalah besar sejak awal. “Itu kereta cepat sudah sejak lama saya kira akan bermasalah, pasti akan ada masalah besar,” ujarnya.
Saat ini, PT KAI harus menanggung beban utang yang membengkak hingga Rp 116 triliun akibat proyek kereta cepat Whoosh. Kondisi tersebut membuat keuangan perseroan semakin tertekan, ditambah dengan belum optimalnya pendapatan dari pengoperasian moda transportasi ini.
Prediksi Kerugian Proyek Whoosh
Didiek menjelaskan bahwa studi kelayakan kereta cepat Whoosh dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama berlangsung sejak 28 Januari 2014 hingga April 2015 dengan fokus pada perencanaan dasar, sementara tahap kedua dilaksanakan dari April 2015 hingga Desember 2015 untuk menyusun kalkulasi detail biaya pembangunan.
Pada awalnya, kebutuhan investasi proyek diperkirakan mencapai Rp 56 triliun. Dana tersebut mencakup pembangunan jalur sepanjang 133 kilometer serta pengadaan rangkaian kereta cepat. Namun, seiring berjalannya waktu, biaya melonjak tajam hingga lebih dari dua kali lipat dari proyeksi awal.
“Begitu baca FS itu, asumsi-asumsi itu sudah langsung saya tangkap kalau ini akan jadi masalah besar,” kata Didiek. Menurutnya, proyek besar dengan kompleksitas tinggi seperti kereta cepat memerlukan perencanaan yang lebih matang agar tidak membebani keuangan negara maupun BUMN.
Kereta cepat Whoosh sendiri resmi beroperasi sejak Oktober 2023 dengan melibatkan enam kontraktor dari China dan satu kontraktor dari Indonesia. Walau berhasil diresmikan, proyek ini tetap menyisakan tantangan besar, terutama dari sisi pembiayaan yang dinilai tidak berkelanjutan.
Utang Membengkak dan Solusi yang Dicari
Direktur Utama KAI saat ini, Bobby Rasyidin, sebelumnya juga mengingatkan bahwa kereta cepat Whoosh bisa menjadi “bom waktu” bagi perseroan. Ia menekankan bahwa pihaknya sedang berupaya menyiapkan langkah penyelamatan dengan melibatkan Badan Pengelola Investasi Daya Anggara Nusantara (BPI Danantara).
“Kami akan koordinasi dengan Danantara untuk masalah KCIC ini, terutama kami dalami juga. Ini bom waktu,” ujar Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/8/2025).
Beban utang yang menumpuk tidak hanya menjadi tanggungan PT KAI, tetapi juga konsorsium BUMN yang turut serta dalam pembangunan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa tanpa solusi cepat, kereta cepat Whoosh bisa terus menekan keuangan negara.
Meski demikian, pemerintah tetap menegaskan bahwa proyek kereta cepat adalah salah satu tonggak pembangunan infrastruktur transportasi nasional. Keberadaannya diharapkan mampu menjadi alternatif mobilitas masyarakat dari Jakarta ke Bandung dengan waktu tempuh yang lebih singkat.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tingkat okupansi penumpang belum sepenuhnya sesuai harapan, sehingga pendapatan operasional masih jauh dari target. Hal inilah yang memperkuat kekhawatiran soal beban keuangan yang harus ditanggung jangka panjang.
Kereta cepat Whoosh yang dibangun dengan investasi besar terbukti menyisakan persoalan serius dalam keuangan PT KAI. Prediksi masalah yang diungkap mantan Dirut KAI, Didiek Hartantyo, kini terbukti dengan utang yang membengkak hingga Rp 116 triliun.
Beban utang yang berat menempatkan kereta cepat Whoosh sebagai salah satu tantangan terbesar dalam sektor transportasi nasional.
Meskipun proyek ini berhasil diresmikan pada 2023, potensi kerugian terus membayang dan menimbulkan risiko jangka panjang bagi keuangan negara.
Langkah penyelamatan melalui koordinasi dengan BPI Danantara menjadi salah satu upaya yang diharapkan mampu meredam dampak kerugian.
Tanpa strategi pembiayaan yang matang, kereta cepat Whoosh berisiko menjadi simbol pembangunan infrastruktur yang justru membebani bangsa. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





