Tangerang, EKOIN.CO – Sebuah tragedi maut mengguncang Jalan BSD Raya Utama, tepatnya di perempatan depan Simpang The Icon, Cisauk, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Jumat (19/9/25) siang. Sebuah mobil Isuzu Mu-X, yang dikendalikan oleh seorang remaja berusia 15 tahun, menabrak tiga sepeda motor, mengakibatkan satu orang pengemudi ojek online (ojol) tewas di lokasi. Sementara itu, dua pengendara motor lainnya mengalami luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Menurut saksi mata, Gunawan (41), Isuzu Mu-X berwarna hitam itu melaju dari arah Jalan Tekno Niaga menuju perempatan di Jalan BSD Raya Utama. Tiba-tiba, mobil pesaing Mitsubishi Pajero Sport dan Toyota Fortuner itu oleng, kehilangan kendali, dan menerobos water barrier pembatas jalan. Mobil tersebut kemudian masuk ke lajur sebaliknya, menghantam tiga motor yang sedang melintas, dan menyebabkan para korban terpental keras. Gunawan menjelaskan bahwa salah satu korban yang mengalami luka dilarikan ke Eka Hospital, sementara korban ojol lainnya sempat mendapatkan pertolongan dari rekan-rekannya sebelum akhirnya ambulans datang.
Korban tewas yang merupakan pengemudi ojol diketahui berinisial S (54). Ia mengalami luka serius di bagian kepala dan meninggal dunia di tempat kejadian perkara (TKP). Jasadnya kemudian dievakuasi ke RSUD Kabupaten Tangerang. Dua korban lain yang mengalami luka-luka adalah EAS (34) dan IA (30). EAS menderita luka pada kaki kanan dan langsung dilarikan ke RS Eka Hospital, sementara IA juga mengalami luka dan mendapatkan perawatan medis. Kecelakaan ini menambah daftar panjang tragedi lalu lintas yang melibatkan pengendara di bawah umur.
Hilangnya Kendali dan Respons Cepat Warga
Gunawan, saksi mata di lokasi kejadian, menuturkan kronologi detail dari insiden ini. Ia melihat Isuzu Mu-X melaju dengan kecepatan tinggi dari arah Tekno Niaga. Saat tiba di persimpangan, mobil tersebut tiba-tiba hilang kendali. “Mobilnya lepas kendali. Dia nabrak water barrier, lalu nyebrang ke jalan lain dan kena tiga motor,” beber Gunawan. Tabrakan yang terjadi begitu dahsyat sehingga para korban tidak sempat menghindar.
Respons cepat dari warga sekitar patut diapresiasi. Setelah tragedi terjadi, warga segera mengevakuasi para korban ke tepi jalan untuk menghindari kecelakaan susulan. Mereka juga sigap menghubungi rumah sakit untuk meminta ambulans, yang tiba sekitar 20 menit kemudian. Ambulans membawa korban tewas ke RSUD Kabupaten Tangerang, sementara dua korban luka dilarikan ke RS Eka Hospital. Mobil Isuzu Mu-X yang ringsek juga segera dipindahkan dari tengah jalan untuk mengurai kemacetan.
Pengemudi Isuzu Mu-X yang masih di bawah umur, diketahui berinisial BNA (15), tampak sangat syok setelah kejadian. Warga sempat mengamankan BNA di dalam mobil agar tidak melarikan diri sambil menunggu kedatangan polisi. Menurut Gunawan, pengemudi itu terlihat sangat muda dan tidak mengenakan seragam sekolah. Pihak Polres Tangerang Selatan tiba di lokasi sekitar 10 menit setelah ambulans. Pengemudi dan seluruh kendaraan yang terlibat dalam tragedi ini langsung diamankan untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.
Sorotan Terhadap Pengemudi di Bawah Umur dan Tanggung Jawab Orang Tua
Kecelakaan maut yang melibatkan BNA, seorang remaja berusia 15 tahun, kembali memunculkan perdebatan tentang bahaya mengemudi di bawah umur. Kasus ini menjadi pengingat penting bagi orang tua untuk tidak mengizinkan anak-anak yang belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) untuk mengendarai kendaraan bermotor, terutama mobil. Secara hukum, BNA belum cukup umur untuk mendapatkan SIM, yang mensyaratkan usia minimal 17 tahun. Tanggung jawab hukum atas kelalaian ini akan diselidiki oleh pihak kepolisian, yang kini sedang mendalami penyebab pasti kecelakaan, termasuk status pengemudi di bawah umur.
Kanit Gakkum Satlantas Polres Tangerang Selatan, Inspektur Satu Michael Bagus, memastikan bahwa kasus ini ditangani oleh Unit Gakkum Sat Lantas Polres Tangerang Selatan. Pihak kepolisian akan melakukan olah TKP dan memeriksa saksi-saksi untuk mengungkap seluruh fakta di balik tragedi ini. Kecelakaan ini juga menjadi cerminan betapa rentannya keselamatan di jalan raya jika aturan lalu lintas diabaikan.
Data dari pihak kepolisian menunjukkan bahwa tragedi lalu lintas yang melibatkan remaja di bawah umur sering kali terjadi karena kelalaian dan kurangnya pengalaman mengemudi. Kurangnya pengawasan dari orang tua sering menjadi faktor utama. Oleh karena itu, edukasi tentang keselamatan berkendara dan penegakan hukum yang tegas harus terus dilakukan untuk mencegah insiden serupa terulang di masa depan. Peristiwa tragis di BSD Raya Utama ini menjadi pelajaran pahit yang harus menjadi perhatian serius semua pihak.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





