Yogyakarta EKOIN.CO – Aktivitas Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan signifikan dalam sepekan terakhir. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat status gunung api ini kini berada pada Level III atau Siaga, menyusul kenaikan jumlah gempa vulkanik sejak 19 hingga 25 September 2025. Fenomena ini menandakan adanya pergerakan magma yang perlu diwaspadai masyarakat di sekitar lereng Merapi.
Ikuti kabar terbaru lainnya lewat WA Channel EKOIN
BNPB melaporkan terjadi gempa vulkanik dangkal, multifase, hingga longsoran dalam periode tersebut. Meski deformasi gunung masih relatif stabil, potensi bahaya seperti aliran lava pijar maupun awan panas guguran tetap bisa terjadi sewaktu-waktu.
Peningkatan Aktivitas Gunung Merapi
Kepala BNPB, Mayjen TNI Suharyanto, menegaskan bahwa masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan tanpa perlu panik. “Kami mengimbau warga agar tetap tenang, namun selalu mengikuti arahan dari BPPTKG maupun pemerintah daerah terkait potensi bahaya Gunung Merapi,” ujarnya.
BPPTKG mencatat adanya guguran lava ke arah Kali Bebeng dan Kali Boyong yang masih dalam jarak aman. Namun, potensi letusan eksplosif tetap tidak dapat diabaikan. Warga diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 7 kilometer dari puncak.
Selain itu, BNPB juga memperingatkan adanya potensi bahaya sekunder berupa lahar hujan. Curah hujan tinggi dapat membawa material vulkanik dari lereng gunung, sehingga aliran lahar dingin bisa mengancam pemukiman di bantaran sungai.
Upaya Mitigasi dan Edukasi Masyarakat
Sejumlah langkah mitigasi telah disiapkan, termasuk penyediaan jalur evakuasi, tempat pengungsian, hingga stok logistik dasar. Pemerintah daerah bekerja sama dengan relawan untuk memastikan kesiapan menghadapi kemungkinan erupsi.
Sosialisasi kepada masyarakat juga terus digencarkan. Petugas lapangan memberikan edukasi terkait tanda-tanda aktivitas vulkanik dan prosedur evakuasi darurat. Hal ini dilakukan agar warga dapat lebih sigap saat kondisi darurat terjadi.
BNPB menegaskan, teknologi pemantauan modern terus digunakan untuk membaca perkembangan kondisi Gunung Merapi. Data dari seismograf, deformasi, serta citra satelit dipakai untuk memprediksi kemungkinan erupsi lebih dini.
Meski belum ada tanda letusan besar, kewaspadaan tetap harus dijaga. BNPB menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, hingga masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana ini.
Di sisi lain, aktivitas ekonomi warga masih berjalan normal. Namun, sejumlah kelompok tani sudah mulai menyesuaikan jadwal panen dan distribusi hasil bumi untuk mengantisipasi kemungkinan terganggunya akses jalan akibat aktivitas vulkanik.
Sejumlah relawan juga sudah bersiaga di pos pantau dengan peralatan darurat. Kehadiran mereka diharapkan dapat mempercepat proses evakuasi apabila status Merapi meningkat lebih lanjut.
Dengan segala potensi ancaman yang ada, masyarakat diminta tidak hanya mengandalkan informasi dari media sosial. Laporan resmi dari BPPTKG dan BNPB tetap menjadi acuan utama dalam menentukan langkah keamanan.
Para peneliti menilai, meski deformasi tubuh gunung masih stabil, peningkatan gempa vulkanik merupakan indikator jelas adanya suplai magma baru. Kondisi ini bisa memicu aktivitas erupsi jika tekanan dalam dapur magma terus meningkat.
Ke depan, pemerintah akan terus memperkuat jalur komunikasi darurat, termasuk melalui sistem peringatan dini berbasis SMS dan aplikasi mobile. Langkah ini diambil agar informasi terkait kondisi Gunung Merapi dapat diterima warga secara cepat dan akurat.
Aktivitas Gunung Merapi yang meningkat menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam. Dengan koordinasi yang baik, dampak kerugian bisa ditekan seminimal mungkin.
Aktivitas Gunung Merapi yang meningkat dengan status Siaga menunjukkan adanya potensi bahaya serius, baik berupa awan panas maupun lava pijar. BNPB menegaskan perlunya kewaspadaan masyarakat.
Masyarakat diimbau untuk tidak mendekati radius berbahaya, terutama di jalur aliran sungai yang rawan terkena guguran lava dan lahar hujan. Potensi sekunder ini bisa lebih berbahaya saat curah hujan meningkat.
Koordinasi antara pemerintah, relawan, dan warga menjadi faktor kunci untuk mengurangi risiko bencana. Semua pihak harus tetap berkomunikasi intensif dalam menyikapi perkembangan terbaru.
Kesiapsiagaan harus dilakukan sejak dini, termasuk penyediaan logistik, evakuasi mandiri, dan pemantauan terus menerus. Upaya ini akan meminimalisasi dampak jika erupsi besar benar-benar terjadi.
Dengan langkah pencegahan dan informasi yang akurat, masyarakat diharapkan dapat hidup berdampingan dengan ancaman Gunung Merapi secara lebih aman dan terkendali. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





