Jakarta, EKOIN.CO – Kabar membanggakan datang dari dunia riset dan akademik Indonesia. Sebanyak total 42 dosen dari tiga perguruan tinggi terkemuka di tanah air, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), berhasil menorehkan prestasi gemilang di tingkat internasional. Mereka secara resmi tercantum dalam daftar World’s Top 2% Scientists 2025. Daftar prestisius ini disusun dan dirilis oleh Stanford University di Amerika Serikat, bekerja sama dengan penerbit akademik global, Elsevier.
Pencapaian ini tentu saja mengukuhkan posisi Indonesia dalam peta riset dan teknologi global. Daftar World’s Top 2% Scientists atau Ilmuwan Berpengaruh Dunia ini dianggap sebagai salah satu referensi internasional yang paling otoritatif. Daftar ini digunakan untuk menilai kontribusi para ilmuwan terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di seluruh dunia, berdasarkan dampak sitasi karya ilmiah mereka.
Baca juga : Bandung Kota Kreatif: Yovie Widianto Ajak Mahasiswa Berkontribusi
Secara rinci, ITB memimpin dengan menyumbangkan 16 anggota fakultas dalam daftar tersebut. Jumlah ini menjadikan ITB sebagai universitas di Indonesia dengan representasi ilmuwan terbanyak yang masuk dalam pemeringkatan global ini. Ini merupakan peningkatan yang signifikan, mengingat pada daftar tahun sebelumnya, 2024, ITB menyertakan 14 anggota fakultas.
Selanjutnya, UGM juga menunjukkan performa cemerlang dengan menempatkan 14 dosen sebagai Ilmuwan Berpengaruh Dunia. Kontribusi ini menegaskan konsistensi UGM dalam menghasilkan riset berkualitas tinggi yang memiliki dampak luas. Tidak ketinggalan, ITS turut serta menambah daftar panjang prestasi bangsa dengan sejumlah dosennya yang juga diakui dalam pemeringkatan yang sama.
Daftar World’s Top 2% Scientists 2025 ini disusun berdasarkan indikator yang sangat ketat. Beberapa tolok ukur utama yang digunakan mencakup jumlah sitasi, H-index, serta dampak keseluruhan dari publikasi yang dihasilkan oleh para ilmuwan tersebut di tingkat global. Metrik-metrik ini menjadikan pemeringkatan ini valid sebagai rujukan dalam menilai kualitas dan kontribusi ilmiah seseorang.
Peningkatan jumlah ilmuwan Indonesia dalam daftar ini merefleksikan konsistensi lembaga-lembaga pendidikan tinggi dalam menjaga kualitas riset, publikasi, dan kontribusi akademik mereka. Secara kolektif, 42 dosen dari tiga kampus tersebut mewakili berbagai disiplin ilmu, mulai dari teknologi, ilmu alam, teknik, hingga ilmu sosial. Hal ini menunjukkan spektrum riset yang luas di Indonesia.
Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB, Prof. Ir. Lavi Rizki Zuhal, Ph.D., memberikan komentar mengenai pencapaian ini. “Peningkatan jumlah ini mencerminkan konsistensi ITB dalam menjaga kualitas riset, publikasi, dan kontribusi akademik di tingkat global,” ujar Prof. Lavi Rizki Zuhal. Pengakuan ini sekaligus memperkuat reputasi ITB sebagai salah satu institusi riset terdepan di Indonesia.
Prof. Lavi Rizki Zuhal menambahkan bahwa ITB berkomitmen untuk memajukan penelitian berkualitas tinggi, memperluas kolaborasi internasional, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat serta pembangunan nasional. Hal ini menunjukkan bahwa riset bukan hanya sebatas publikasi, melainkan harus menghasilkan manfaat konkret.
Beberapa nama dosen ITB yang masuk dalam daftar Ilmuwan Berpengaruh Dunia tersebut antara lain: Prof. Ir. I Gede Wenten, M.Sc., Ph.D. dari Fakultas Teknologi Industri (FTI ITB); Prof. Dr. Ferry Iskandar, M.Eng. dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA ITB); dan Prof. Tommy Firman, M.Sc., Ph.D. dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK ITB). Nama-nama tersebut adalah representasi dari kepakaran berbagai bidang.

Dampak Publikasi Global dan Peningkatan Kualitas Riset
Kenaikan jumlah ilmuwan Indonesia yang diakui secara global merupakan indikator positif bagi iklim riset dan pengembangan ilmu pengetahuan di dalam negeri. Hal ini menandakan bahwa karya-karya ilmiah yang dihasilkan oleh akademisi Indonesia semakin relevan dan berpengaruh di kancah internasional. Dampak sitasi yang tinggi menunjukkan bahwa riset mereka banyak dirujuk oleh peneliti lain dari berbagai belahan dunia.
Keterlibatan UGM dengan 14 dosennya dan ITS yang juga berpartisipasi dalam daftar ini membuktikan bahwa kualitas riset unggulan tidak hanya terpusat pada satu institusi saja. Ini mencerminkan upaya kolektif perguruan tinggi Indonesia dalam meningkatkan standar akademik dan publikasi mereka. Fokus pada kualitas riset telah menjadi agenda utama.
Daftar yang dirilis oleh Stanford University dan Elsevier ini menggunakan data yang diperbarui secara berkala, dan versi 2025 ini mencakup dampak sitasi selama periode karir dan juga dampak dalam satu tahun terakhir. Metode penilaian yang komprehensif ini menjamin bahwa ilmuwan yang terpilih benar-benar memiliki kontribusi substansial. Mereka diklasifikasikan ke dalam 22 bidang ilmiah dan 174 subbidang, memastikan representasi yang adil dan mendalam.
Para peneliti yang masuk dalam daftar ini diakui atas karya-karya mereka yang berdampak besar dan jangka panjang. Kontribusi tersebut tidak hanya memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan solusi bagi tantangan global dan nasional.

Komitmen Perguruan Tinggi untuk Inovasi Berkelanjutan
Prestasi ini menjadi motivasi bagi seluruh sivitas akademika di ITB, UGM, dan ITS, serta perguruan tinggi lain di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa investasi dalam sumber daya manusia unggul dan fasilitas riset yang memadai akan membuahkan hasil yang diakui secara global. Pihak universitas berkomitmen untuk terus mendorong budaya riset yang inovatif.
Ilmuwan Berpengaruh Dunia ini adalah pahlawan tanpa tanda jasa di bidang ilmu pengetahuan. Karya-karya mereka, mulai dari energi baru terbarukan, rekayasa material, hingga ilmu komputasi, memberikan sumbangsih nyata. Pengakuan internasional ini juga diharapkan dapat menarik lebih banyak kolaborasi riset dengan institusi-institusi asing terkemuka.
Pengembangan kolaborasi riset internasional dan peningkatan dana penelitian menjadi kunci untuk mempertahankan dan bahkan meningkatkan jumlah Ilmuwan Berpengaruh Dunia dari Indonesia di masa mendatang. Keberadaan nama-nama ini di World’s Top 2% Scientists 2025 menjadi modal penting untuk memperkuat daya saing bangsa.
Melalui konsistensi dalam penelitian dan inovasi, perguruan tinggi Indonesia membuktikan bahwa mereka mampu bersaing. Mereka tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten, tetapi juga karya-karya ilmiah yang menjadi rujukan global. Langkah ini sangat vital dalam mewujudkan visi Indonesia Emas yang bertumpu pada ilmu pengetahuan.
Secara keseluruhan, masuknya total 42 dosen dari ITB, UGM, dan ITS dalam daftar Ilmuwan Berpengaruh Dunia adalah pencapaian kolektif yang patut disyukuri dan dijadikan momentum. Kualitas riset yang dihasilkan oleh para akademisi ini, terbukti dari tingginya angka sitasi dan impact factor, menempatkan Indonesia pada posisi terhormat di komunitas ilmiah internasional. Keberhasilan ini seharusnya mendorong alokasi dana dan dukungan kebijakan yang lebih besar untuk riset dan pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.
Untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi ini, perguruan tinggi harus fokus pada keberlanjutan. Ini berarti harus ada sistem insentif yang kuat bagi para peneliti muda, serta penyediaan infrastruktur riset berkelas dunia. Pemerintah dan institusi pendidikan perlu bekerja sama untuk memfasilitasi publikasi ilmiah di jurnal-jurnal bereputasi internasional, sehingga dampak riset dapat terus meluas. Pengakuan sebagai Ilmuwan Berpengaruh Dunia bukan hanya tentang daftar nama, melainkan tentang dampak positif dan solusi yang diberikan untuk kemanusiaan.(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v




