Jakarta, Ekoin.co – Keputusan Iman Rachman mundur dari jabatan Direktur Utama (Dirut) Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai sebagai bentuk tanggung jawab atas gejolak di pasar modal.
Gejolak IHSG dalam dua hari dipicu oleh pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait evaluasi metodologi free float di pasar saham Indonesia. MSCI memutuskan untuk menghentikan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), Number of Shares (NOS), serta penambahan konstituen dan pergerakan indeks antar-segmen hingga Februari 2026.
Jika tidak ada perbaikan yang signifikan, Indonesia berpotensi mengalami penurunan bobot di Indeks MSCI Emerging Markets, bahkan risiko reklasifikasi ke pasar frontier.
IHSG anjlok tajam pada Rabu (28/1) dan Kamis (29/1) hingga menembus batas trading halt 8%. Dalam dua hari itu, indeks sempat terperosok ke level 7.000-an sebelum kembali ke kisaran 8.000-an.
“Tanggapan saya itu, saya pikir sih positif sebagai bentuk tanggung jawab dia terhadap masalah yang di bursa kemarin,” kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui di Menara Danantara, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Menurut Purbaya, pengunduran diri tersebut merupakan bentuk tanggung jawab atas gejolak di pasar modal beberapa hari terakhir.
Purbaya menyebut salah satu kesalahan fatal manajemen BEI adalah tidak menindaklanjuti masukan dan pertanyaan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang kemudian memengaruhi persepsi pasar.
“Karena dia kan tidak nge-follow-up masukan atau pertanyaan dari MSCI. Itu kesalahan dia yang fatal disitu, sehingga kita mengalami koreksi yang dalam kemarin. Yang kalau nggak cepat dibetulin kan bisa mengganggu yang lain-lain,” tutur Purbaya.
Kondisi ini disebutnya sempat menimbulkan anggapan bahwa ekonomi Indonesia tidak stabil, padahal pemerintah tengah melakukan perbaikan ekonomi secara serius dan menyeluruh.
Pemerintah menegaskan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pasca kebijakan pembekuan rebalancing oleh MSCI Inc. pada 28 Januari 2026 bukan cerminan rapuhnya fundamental ekonomi nasional.
Tekanan pasar yang terjadi dinilai bersifat sementara dan lebih dipicu sentimen global serta penyesuaian teknis lembaga pemeringkat internasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, hingga saat ini fondasi perekonomian Indonesia tetap solid, ditopang koordinasi fiskal–moneter yang kuat, stabilitas makroekonomi yang terjaga, serta kinerja korporasi yang secara umum masih resilien.
“Pemerintah terus melakukan pemantauan mendalam terhadap dinamika pasar modal. Tekanan pada IHSG tidak mencerminkan kualitas emiten maupun fundamental ekonomi nasional,” ujar Airlangga. (*)





