Jakarta, Ekoin.co – Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak melemah saat pembukaan perdagangan pagi ini, Rabu (4/2/2026). Rupiah sedikit alami tekanan. IHSG bisa bangkit lagi.
Tertekannya rupiah mendapat sorotan Ketua Komisi XI DPR Misbakhun. Dia meminta Bank Indonesia (BI) perlu lebih berani dan taktis untuk menjaga stablitas rupiah di tengah volatilitas yang meningkat.
Misbakhun mengatakan, otoritas moneter tidak boleh pasif dan wajib melaksanakan kebijakan moneter yang tak biasa dalam menyikapi kondisi global.
“Bank Indonesia perlu melakukan intervensi yang lebih agresif namun tetap terukur, baik di pasar valas maupun obligasi. Volatilitas yang dibiarkan terlalu liar akan membentuk sentimen negatif di pasar,” ujar Misbakhun dalam siaran pers, Rabu (4/2/2026).
Misbakhun memaparkan, BI punya instrumen yang lengkap dan cadangan devisa yang memadai untuk memastikan rupiah tidak tertekan berlebihan hingga berdampak ke sektor riil dan daya beli masyarakat.
Dengan begitu, stabilisasi nilai tukar bukan semata persoalan pergerakan angka, tetapi juga menjaga kepercayaan investor dan pelaku usaha.
Misbakhun mendorong optimalisasi instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan instrumen pro-market lainnya untuk menarik kembali capital inflow sekaligus menahan capital outflow.
Politikus Partai Golkar ini juga menggarisbawahi kuatnya fundamental ekonomi nasional. Menurut dia, Indonesia menunjukkan ketahanan yang relatif lebih baik dibanding negara-negara peer, tecermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap positif, inflasi yang terjaga dalam sasaran, serta kinerja neraca perdagangan yang solid.
“Fundamental ekonomi kita tidak rapuh. Di tengah ketidakpastian global yang menekan banyak negara, Indonesia menunjukkan resiliensi yang kuat. Ini modal besar yang harus terus dikapitalisasi, sembari BI meredam gejolak nilai tukar agar tidak mengganggu capaian ekonomi yang sudah berada di jalur yang tepat,” kata Misbakhun. (*)





