Ekoin.co – Pemerintah mengakui pemulihan pascabencana di Aceh menjadi tantangan paling berat dalam operasi rehabilitasi di Sumatera.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyebut skala kerusakan dan keterpencilan wilayah membuat proses pemulihan berjalan jauh lebih kompleks dibanding provinsi lain.
Di balik angka-angka resmi, situasi di lapangan menggambarkan tekanan kemanusiaan yang masih terasa.
Banjir lumpur yang menimbun permukiman di Aceh Tamiang, misalnya, sempat melumpuhkan aktivitas pemerintahan dan memaksa warga hidup dalam kondisi darurat berhari-hari.
Data pemerintah menunjukkan besarnya beban yang ditanggung Aceh. Dari sekitar 1.564 desa terdampak bencana di tiga provinsi, sebanyak 1.455 desa berada di Aceh — angka yang memperlihatkan magnitude kerusakan paling besar di wilayah tersebut.
Sebaliknya, pemulihan di Sumatera Barat berjalan relatif cepat. Dari 16 daerah terdampak, 12 telah dinyatakan kembali normal. Di Sumatera Utara, 14 dari 18 wilayah terdampak juga mulai pulih, meski sejumlah daerah masih menghadapi persoalan lumpur dan pengungsi.
Enam wilayah Aceh kini menjadi prioritas penanganan intensif: Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Pidie Jaya, dan Aceh Tengah.
Di lokasi-lokasi ini, warga masih berjuang membersihkan rumah, memulihkan layanan dasar, dan menghidupkan kembali aktivitas ekonomi.
Pemerintah menerapkan strategi penanganan terpadu dengan mengerahkan lebih dari 88 ribu personel gabungan, ribuan alat berat, serta dukungan armada udara.
Namun Tito menegaskan bahwa skala bencana di Aceh menjadikan proses pemulihan bukan sekadar persoalan teknis, melainkan ujian kemanusiaan yang membutuhkan kerja jangka panjang.





