Jakarta, Ekoin.co — Pasar kripto sempat diguncang koreksi tajam setelah Bitcoin anjlok hingga menyentuh kisaran US$60.000 pada perdagangan Kamis (5/2/2026).
Penurunan tersebut memicu tekanan jual besar-besaran dan meningkatkan volatilitas di pasar aset digital.
Meski demikian, tekanan mulai mereda dalam waktu singkat.
Aksi beli kembali muncul seiring sinyal teknikal yang menunjukkan kondisi jenuh jual.
Dampaknya, harga Bitcoin berbalik arah dan menembus kembali level psikologis penting.
Pada Jumat pagi waktu Amerika Serikat, Bitcoin sudah pulih ke atas US$68.000 — mencerminkan lonjakan hampir 17 persen dari titik terendah sebelumnya.
Tren penguatan berlanjut hingga awal pekan kedua Februari. Hingga Senin (9/2/2026) pukul 11.54 WIB, Bitcoin tercatat naik 2,47 persen dalam 24 jam dan diperdagangkan di sekitar US$70.945.
Sentimen positif turut mengangkat aset kripto utama lainnya. Ethereum menguat tipis ke kisaran US$2.087, sementara Solana naik ke sekitar US$86.
XRP juga menunjukkan perbaikan dengan kenaikan harian mendekati 2 persen, menandakan meningkatnya minat spekulatif pelaku pasar terhadap aset berisiko.
Pemulihan kripto ikut merembet ke saham perusahaan yang memiliki eksposur terhadap aset digital.
Saham Strategy melonjak dua digit meskipun kinerja tahunan masih tertekan. Galaxy Digital dan MARA Holdings juga mencatat kenaikan signifikan, sementara IREN justru terkoreksi setelah laporan keuangan yang kurang memuaskan.
Dari perspektif teknikal, pelaku industri menilai Bitcoin berada di area jenuh jual ekstrem. Indikator momentum seperti RSI menunjukkan peluang pemantulan jangka pendek.
Volume transaksi Bitcoin dan Ethereum bahkan tercatat mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua tahun — sinyal bahwa aktivitas pasar kembali meningkat.
Pergerakan ini memperlihatkan bahwa volatilitas tetap menjadi karakter utama pasar kripto, namun peluang rebound masih terbuka selama sentimen teknikal dan minat beli bertahan.





