Jakarta, Ekoin.co – Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 28-29 Januari 2026 pasca-pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) sehari sebelumnya menjadi sorotan banyak pihak.
Dinamika itu memicu trading halt hingga 2 kali, dan berimbas pada mundurnya lima pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 30 Januari 2026.
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rizal Taufikurrahman menilai longsornya IHSG jangan hanya disorot statistiknya. Namun, bagaimana cara pemangku kepentingan, yakni Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan, dalam menjaga kredibilitas dan stabilitas sistem keuangan Indonesia.
“Bagaimana ternyata, selama ini pengelolaan sistem keuangan kita keropos dan harus diperbaiki,” kata Rizal saat berbincang dengan Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 11 Februari 2026.
Seperti diketahui, MSCI dalam laporannya menyebut tiga persoalan di pasar modal Indonesia. Yakni struktur kepemilikan saham yang tidak jelas, rendahnya free float efektif yang sering tidak mencerminkan likuiditas riil, dan indikasi adanya perdagangan saham terkoordinasi yang merusak keadilan pasar.
Ini bukan kali pertama pasar modal Indonesia dihantam sinyal negatif dari lembaga internasional. Selain dari MSCI, tata kelola pasar modal Indonesia juga disoroti negatif oleh Goldman Sachs dan baru-baru ini, oleh lembaga pemeringkat kredit global, Moodys Ratings.
Menurut Rizal, aturan main di pasar modal Indonesia harus ditegakkan. Penyempurnaan tata kelola ini mesti dijalankan oleh meritokrat yang tidak punya kepentingan dalam konteks politik.
“Tata kelola terkait erat dengan orangnya (yang menjalankan). Bukan yang ngetop tapi yang profesional, kuat di teknis, paham praksis, tahan terhadap intervensi, konsisten dengan tupoksi, dan bisa menjaga market,” ujarnya.
Ia juga mengatakan, bahwa yang juga harus dibenahi adalah transparansi pasar modal Indonesia. OJK mesti memastikan praktik industri pasar modal Indonesia sesuai dengan standar Internasional agar menarik investor global. Artinya, praktik manipulasi seperti saham gorengan dan insider trading mesti disapu bersih dari pasar saham.
“Kalau tidak ada transparansi, (guncangan) jangka pendek bisa kambuh lagi karena kondisi di dalamnya (sistem) ternyata masih keropos,” kata Rizal.
Adapun terkait optimisme Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa soal IHSG yang bisa to the moon ke level 10.000, Rizal menilainya sebagai tantangan besar. Apalagi jika pemerintah memilih pejabat yang tidak sesuai harapan pasar.
“Saya kira Pak Purbaya mungkin lupa, pondasi market itu sebenarnya karena kredibilitas. Walau IHSG pelan-pelan naik, tapi kalau faktor-faktor yang mempengaruhi market tidak diperbaiki, maka kondisinya akan sangat berat,” ujarnya.
Rizal menambahkan, ada banyak faktor yang ikut menentukan pasar modal Indonesia. Tak hanya sektor keuangan atau makronya, tapi juga sektor riil yang ikut menjaga kredibilitas pasar modal.
“Amblesnya IHSG sendiri bisa mempengaruhi investasi asing ke sektor riil dalam negeri. Bisa berpeluang begitu kalau tidak segera dibenahi. Karena kalau likuiditas di market berat, perbankan berat, suku bunga tinggi, aksesibilitas investor juga sulit, lama-lama investor (berpikir) mending keluar ke negara lain saja,” ucap dia. (*)





