Rupiah ‘Kritis’ di Rp16.995: Konflik Timur Tengah Lebih Berpengaruh daripada Janji Manis The Fed!
Jakarta, Ekoin.co – Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Selasa (31/3/2026). Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.05 WIB, rupiah turun 0,04% ke level Rp16.995 per dolar AS.
Di saat yang sama, indeks dolar Amerika Serikat justru tercatat melemah 0,10% ke posisi 100,40. Mayoritas mata uang Asia lainnya menunjukkan penguatan terhadap dolar AS, seperti dolar Singapura yang naik 0,02%, peso Filipina 0,04%, yuan China 0,10%, serta ringgit Malaysia 0,08%.
Sebaliknya, sejumlah mata uang kawasan justru ikut tertekan. Yen Jepang melemah 0,04%, dolar Hong Kong turun 0,02%, sementara won Korea Selatan dan baht Thailand masing-masing terkoreksi 0,50% dan 0,09%.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah masih berpeluang menguat terbatas, didorong sentimen dovish dari bank sentral Amerika Serikat.
Pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, yang mengisyaratkan kebijakan moneter lebih longgar ke depan, menjadi sentimen positif bagi mata uang emerging markets, termasuk rupiah. Hal ini diperkuat oleh komentar pejabat The Fed, Christopher Waller, yang membuka peluang penyesuaian kebijakan jika tekanan ekonomi meningkat.
Meski demikian, penguatan rupiah diperkirakan tidak akan signifikan. Tekanan eksternal masih membayangi, terutama akibat kenaikan harga minyak dunia yang dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah.
“Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.950 hingga Rp17.050 per dolar AS,” ujar Lukman.
Sementara itu, sejumlah bank besar di Indonesia menetapkan kurs jual beli dolar AS pada kisaran yang relatif stabil. PT Bank Central Asia Tbk (BCA), misalnya, menetapkan harga beli di Rp16.990 dan jual Rp17.010 untuk e-rate.
Bank Rakyat Indonesia (BRI) menetapkan kisaran serupa, sementara Bank Mandiri dan BNI juga berada dalam rentang Rp16.970 hingga Rp17.019 untuk special rate.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun ada peluang penguatan, rupiah masih berada dalam tekanan kuat akibat dinamika global yang belum stabil.






















Tinggalkan Balasan