Jakarta, EKOIN.CO – Sebuah laporan terbaru menunjukkan susunan negara-negara termiskin di dunia berdasarkan PDB per kapita, menggambarkan tantangan mendalam yang dihadapi oleh negara-negara tersebut di tengah konflik, kemiskinan, dan beban ekonomi yang berat.
Poorest country di dunia saat ini adalah South Sudan, dengan PDB per kapita hanya sekitar US $960, menurut IMF per Januari 2025, diikuti oleh Burundi (US $1.010) dan Republik Afrika Tengah (US $1.310) .
Negara-negara Afrika mendominasi daftar teratas, termasuk Malawi (US $1.760), Mozambik (US $1.790), Somalia (US $1.900), Republik Demokratik Kongo (US $1.910), Liberia (US $2.000), Madagascar (US $2.060). Sementara di Asia, Yaman tercatat sebagai negara termiskin, dengan PDB per kapita US $2.020.
Secara global, South Sudan dikenal sebagai negara termuda, merdeka sejak 2011, namun menghadapi instabilitas politik, konflik berkelanjutan, dan infrastruktur yang rapuh.
Burundi, walaupun kecil, memiliki kepadatan penduduk tinggi dan sekitar 75 % penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Negara ini masih berjuang pulih dari perang saudara tahun 2005 .
Republik Afrika Tengah (CAR) turut menyandang status sebagai negara termiskin, dengan PDB PPP per kapita di kisaran US $1.300, di tengah konflik berkepanjangan dan ketidakstabilan politik .
Malawi sangat rentan karena ketergantungan pada pertanian hujan dan perubahan iklim, serta tekanan harga pangan yang tinggi dan devaluasi mata uang .
Mozambik menghadapi kemiskinan struktural yang diperparah oleh konflik internal dan kelemahan infrastruktur dasar .
Somalia masih terkena dampak konflik berkepanjangan dan pemerintahan yang lemah, membuat PDB per kapitanya bertahan rendah sekitar US $1.900–2.000.
Republik Demokratik Kongo kaya sumber daya, tetapi dikategorikan “curse of resources” akibat eksploitasi, korupsi, dan konflik berkepanjangan .
Liberia, meski mendapat harapan setelah pemilu 2023, tetap menghadapi inflasi tinggi dan pengangguran, dengan pertumbuhan ekonomi yang mulai pulih .
Madagascar masih menghadapi kemiskinan luas (~75 %), inflasi hampir 8 %, dan rentan bencana alam mulai dari kekeringan hingga angin siklon .
Yaman di Asia Tengah menjadi satu-satunya negara non-Afrika dalam daftar, dengan lebih dari 80 % penduduk hidup di bawah garis kemiskinan akibat perang sejak 2014 dan kehancuran infrastruktur .
Selain itu, laporan World Bank menunjukkan 26 negara termiskin memiliki pendapatan per kapita di bawah US $1.145 dan berada dalam kondisi utang tertinggi sejak 2006, rata-rata rasio utang terhadap PDB mencapai 72 % .
Sebagian besar negara ini tinggal di sub-Sahara Afrika, Afghanistan, dan Yaman, dan menghadapi konflik serta ketidakstabilan institusional yang menekan investasi asing.
Menurut UNDP, sebagian besar negara miskin belum pulih pasca-pandemi, bahkan mengalami kemunduran dibanding era 2019. Chief UNDP Achim Steiner memperingatkan pertumbuhan ketimpangan global .
Steiner menyebut ini sebagai “peringatan kuat” bahwa dunia kaya dan miskin kini terpisah dalam pemulihan, menciptakan situasi rentan bagi negara-negara miskin .
Ia menyoroti ancaman terhadap kolaborasi global dalam menghadapi perubahan iklim, pandemi, dan transformasi digital, serta munculnya populisme yang menghambat kerjasama internasional .
Laporan World Bank menegaskan pentingnya reformasi fiskal dan peningkatan efisiensi belanja publik di negara-negara miskin dengan sistem pajak lemah dan sektor informal besar .
Investasi pada infrastruktur, stabilitas politik, dan diversifikasi ekonomi disebut sebagai kunci untuk mengurangi kemiskinan ekstrim di negara-negara termiskin . Tantangan Konflik dan Ketergantungan Ekonomi
Negara-negara teratas daftar kemiskinan ikut serta dalam konflik internal atau perang sipil, seperti South Sudan, CAR, Somalia, dan Yaman, yang melemahkan pemerintah dan ekonomi .
Kerentanan terhadap Iklim dan Infrastruktur
Afrika dan Madagaskar mengalami bencana alam seperti kekeringan dan banjir yang memicu kehilangan besar terhadap PDB, memperburuk kondisi kemiskinan .
Utang dan Dukungan Internasional
Utang pada negara-negara miskin sedang tinggi–tingkatnya sejak 2006–menyebabkan ketergantungan besar pada hibah dan pinjaman lunak IDA dari Bank Dunia .
Pemulihan Pasca Pandemi Tertinggal
Pemulihan dari pandemi tidak merata; negara kaya cepat pulih, sementara banyak negara termiskin masih di bawah level 2019, menurut UNDP .
Solusi Fiskal dan Kerja Sama Global
Reformasi pajak, efisiensi belanja publik, dan dukungan global diperlukan untuk memperbaiki struktur ekonomi dan mengurangi ketimpangan antarnegara .
Kutipan penting:
“At a time when much of the world simply backed away from the poorest countries, IDA has been their lifeline,” kata Chief Economist World Bank Indermit Gill
“Why does this matter? … growing inequality,” ujar Achim Steiner, kepala UNDP
Saran:
Langkah pertama adalah memperkuat stabilitas politik dan keamanan di negara-negara seperti South Sudan, CAR, dan Somalia agar fondasi pemerintahan dapat kembali.
Pemerintah di negara-negara miskin perlu memperbaiki sistem pajak dan manajemen anggaran agar pendapatan negara tumbuh dan utang berkelanjutan.
Komunitas donatur internasional harus memperluas dukungan hibah dan pinjaman lunak, terutama untuk infrastruktur dan proteksi sosial.
Investasi dalam ketahanan iklim dan pertanian adaptif dapat mengurangi kerentanan terhadap bencana alam yang memperburuk kemiskinan.
Memperkuat kerjasama global melalui badan seperti UNDP dan Bank Dunia sangat penting untuk memastikan pemulihan ekonomi yang merata di semua negara.
Kesimpulan:
Daftar negara termiskin dunia menunjukkan kombinasi dari konflik berkepanjangan, sistem fiskal lemah, dan ketidakmampuan menghadapi guncangan iklim atau pandemi.
Tanpa dukungan global yang konsisten dan reformasi domestik yang berkelanjutan, kemiskinan ekstrim akan terus menjadi tantangan serius di kawasan paling rentan.
Reformasi pajak dan belanja publik yang transparan dapat memberikan sumber daya untuk pembangunan jangka panjang dan menurunkan ketergantungan pada utang.
Kerjasama internasional dan investasi strategis dapat menciptakan momentum positif menuju pemulihan, terutama bagi negara-negara yang tertinggal pasca-pandemi.
Jika langkah-langkah ini dijalankan secara simultan, negara-negara termiskin dunia memiliki peluang untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk dan mengurangi ketimpangan global.(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





