37 Hari Langit Oranye: Palangkaraya Tercekik Asap, Greta Bersuara

Selama 37 hari berturut-turut langit Palangkaraya tertutup kabut asap karhutla. Kualitas udara kategori berbahaya, sekolah diliburkan, Greta Thunberg serukan perhatian dunia.

Kota Palangka Raya, ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah, memasuki hari ke-37 berturut-turut diselimuti kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belum juga padam. Langit yang biasanya biru cerah kini berubah menjadi oranye kemerahan, menciptakan pemandangan apokaliptik yang viral di seluruh dunia dan memicu perhatian internasional, termasuk dari aktivis lingkungan Greta Thunberg.

Berdasarkan pantauan BMKG per Rabu 14 Oktober 2026 pukul 12.00 WIB, kualitas udara di Palangka Raya masuk kategori hitam atau berbahaya — tingkat tertinggi dalam skala pengukuran polusi udara. Jarak pandang menurun hingga kurang dari satu kilometer di sejumlah lokasi, membuat aktivitas warga nyaris lumpuh total.

548 Titik Panas di Palangkaraya, 11.166 di Kalimantan Tengah

Data BMKG dan BPBD menunjukkan skala kebakaran sangat mengkhawatirkan. Tercatat 548 titik panas (hotspot) di Palangka Raya saja, sementara seluruh Kalimantan Tengah mencatat 11.166 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. BPBD mencatat 887 kejadian karhutla di kota ini selama Juni hingga 13 Oktober 2026.

Secara nasional, data BMKG per 11 Oktober 2026 menunjukkan titik panas tersebar di berbagai provinsi: Sumatera Selatan (234 titik), Kalimantan Tengah (213 titik), Papua Selatan (482 titik), Kalimantan Barat (71 titik), Kalimantan Timur (30 titik), Bangka Belitung (23 titik), Lampung (19 titik), Jambi (16 titik). Citra satelit Himawari memperlihatkan sebaran asap mencakup sebagian besar Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Asap telah melintas batas negara hingga Singapura dan Malaysia, memicu protes diplomatik dan mengingatkan krisis kabut asap lintas batas 2015 dan 2019. Negara-negara tetangga mendesak Indonesia mengambil tindakan lebih tegas.

Sekolah Diliburkan, Warga Kesulitan Bernapas

Dampak langsung terhadap kehidupan warga sangat nyata. Dinas Pendidikan memperpanjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi siswa PAUD, SD, dan SMP hingga 17 Oktober 2026. Kualitas udara berbahaya mengancam kesehatan anak-anak jika beraktivitas di luar ruangan.

Warga menghadapi jarak pandang ekstrem dan risiko gangguan pernapasan. Banyak terpaksa mengenakan masker N95 atau lebih tinggi. Rumah sakit melaporkan lonjakan kasus ISPA, terutama pada anak-anak dan lansia. Pedagang pasar tradisional mengalami penurunan omzet karena pembeli enggan keluar rumah.

Penerbangan dari dan menuju Bandara Tjilik Riwut beberapa kali ditunda atau dibatalkan akibat jarak pandang tidak memenuhi standar keselamatan penerbangan. Transportasi darat juga terdampak dengan meningkatnya risiko kecelakaan akibat visibilitas rendah.

Greta Thunberg Angkat Suara, Dunia Mulai Melirik

Perhatian internasional memuncak ketika aktivis lingkungan Greta Thunberg membagikan video warga Palangka Raya melalui Instagram pribadinya yang diikuti puluhan juta orang. Video memperlihatkan suasana kota diselimuti warna oranye pekat, dengan narator mengenakan masker respirator dan kacamata pelindung.

Darurat!! Silakan bagikan pesan ini dari Kalimantan Indonesia, tulis Greta. Krisis kebakaran dan kabut asap masih jauh dari selesai. Seseram rekaman ini, kenyataan di lapangan jauh lebih buruk daripada apa yang Anda lihat di media sosial. Ia menyebut sekitar dua juta hektare hutan rusak, satwa terbakar hidup-hidup, dan warga kesulitan bernapas.

Unggahan Greta viral dan memicu diskusi global. Media internasional BBC, CNN, dan Reuters turut memberitakan fenomena langit oranye Palangkaraya. Video-video langit kemerahan mendapatkan jutaan views di berbagai platform.

Mengapa Langit Berubah Oranye?

Perubahan warna langit berkaitan dengan interaksi cahaya matahari dengan partikel asap di atmosfer. Asap kebakaran mengandung partikel halus (PM2.5 dan PM10), jelaga, dan senyawa pembakaran yang menghamburkan serta menyerap cahaya secara berbeda dari kondisi normal.

Ketika konsentrasi asap sangat pekat, cahaya biru dan hijau berpanjang gelombang pendek tersebar dan terserap partikel ini, sehingga hanya cahaya panjang gelombang lebih panjang yaitu kuning, oranye, dan merah yang mencapai permukaan bumi. Proses ini membuat pemandangan berwarna oranye atau kemerahan, terutama saat matahari posisi rendah pada pagi dan sore hari.

Akar Masalah: Tebang-Bakar Tak Kunjung Diberantas

Pakar UGM menekankan karhutla tidak semata dipicu faktor alam seperti kekeringan. Aktivitas manusia, khususnya praktik slash and burn untuk membuka lahan pertanian dan perkebunan, menjadi penyebab utama yang berulang tiap tahun. Perusahaan besar yang membuka lahan skala komersial seringkali lebih sulit dikendalikan dibandingkan petani kecil.

Pemerintah telah mencabut izin 26 perusahaan yang diduga terkait kebakaran. Presiden Prabowo memprioritaskan uji coba dry ice untuk mengurai kabut asap di Sumatera Selatan. Polri menyiapkan Polisi Khusus Kehutanan dengan target 70 ribu personel.

Namun pengamat lingkungan menilai langkah ini belum cukup. Tanpa penegakan hukum konsisten terhadap pelaku pembakaran, reformasi tata kelola lahan gambut, dan investasi serius dalam pencegahan, krisis asap akan terus berulang setiap musim kemarau. BMKG menunjukkan kekeringan belum berakhir untuk sebagian besar Kalimantan, risiko karhutla masih tinggi hingga awal November 2026. Palangka Raya dan jutaan warganya harus bersiap menghadapi berminggu-minggu lagi dalam kepungan asap yang mencekik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Verified by MonsterInsights