Raffi Ahmad Diprotes Peserta Forum Pemuda, Diacungi Tiga Jari Buntut Isu Mahasiswa Bayaran
Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, mendapat protes dari sejumlah peserta dalam forum pemuda di Jakarta pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah peserta terlihat mengacungkan tiga jari sembari berteriak saat Raffi tampil di acara tersebut, buntut dari kontroversi acara deklarasi Sumpah Pemuda sebelumnya yang melibatkan dugaan “mahasiswa bayaran”.
Insiden ini terjadi di tengah rangkaian acara Indonesian Youth Summit (IYS) 2026 yang digelar Kementerian Pemuda dan Olahraga di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Acara tersebut diikuti oleh 160 peserta utama dari seluruh provinsi Indonesia yang telah menjalani pembinaan karakter selama sekitar sepuluh hari.
Buntut Kontroversi Deklarasi Sumpah Pemuda
Protes simbolis dengan acungan tiga jari ini tidak lepas dari kontroversi yang mencuat usai acara deklarasi Sumpah Pemuda ke-98 di Bundaran Hotel Indonesia pada Kamis (29/10/2026), yang juga dihadiri Raffi Ahmad bersama Polda Metro Jaya dan kreator konten Willie Salim. Dalam acara tersebut, seorang peserta yang mengenakan jas almamater kampus mengaku secara terbuka bahwa dirinya bukan mahasiswa dan dibayar untuk menghadiri kegiatan itu.
Pengakuan yang kemudian viral di media sosial ini memunculkan istilah “mahasewa” di kalangan warganet, sebagai sindiran terhadap praktik mobilisasi massa berbayar yang mengatasnamakan partisipasi mahasiswa dalam acara-acara seremonial pemerintah.
Raffi Tetap Ajak Generasi Muda Hadapi Kemajuan AI
Meski diwarnai protes, Raffi dalam kesempatan IYS 2026 tetap menyampaikan pesannya kepada peserta forum pemuda, mengajak mereka untuk tidak takut menghadapi kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI). Ia mencontohkan maraknya film atau series pendek yang kini diperankan oleh figur AI di media sosial sebagai bagian dari perubahan zaman yang harus disikapi secara adaptif oleh generasi muda.
Acara IYS 2026 sendiri merupakan program pembinaan yang mencakup forum diskusi, pameran usaha, eksplorasi teknologi, digitalisasi, kesehatan mental, kompetisi pidato dan debat, hingga panggung ekspresi kreatif bagi para peserta terpilih.
Respons Publik dan Dampak ke Depan
Di media sosial, insiden protes tiga jari ini menambah perbincangan publik soal kredibilitas acara-acara seremonial yang melibatkan pejabat dan figur publik, khususnya terkait dugaan praktik mobilisasi peserta berbayar. Sejumlah warganet menilai pemerintah perlu lebih selektif dan transparan dalam menyelenggarakan kegiatan yang mengatasnamakan partisipasi generasi muda.
Kementerian Pemuda dan Olahraga maupun pihak Raffi Ahmad hingga kini belum memberikan klarifikasi resmi lebih lanjut terkait insiden protes tersebut. Namun, kontroversi berturut-turut dalam rangkaian acara yang melibatkan Raffi dalam beberapa hari terakhir diperkirakan akan terus menjadi perhatian publik, terutama terkait evaluasi mekanisme pelibatan massa dalam acara-acara seremonial pemerintah di masa mendatang.
Pengamat komunikasi publik menilai, insiden semacam ini menjadi pengingat pentingnya verifikasi ketat terhadap peserta acara resmi kenegaraan, agar tidak menimbulkan persepsi negatif yang justru dapat mengaburkan pesan positif yang ingin disampaikan pemerintah kepada generasi muda. Transparansi dalam proses rekrutmen peserta dinilai krusial untuk menjaga kredibilitas acara-acara seremonial ke depan, terutama yang melibatkan isu sensitif seperti nasionalisme dan Sumpah Pemuda.
Beberapa akun media sosial juga menyoroti pola berulang di mana figur publik dan pejabat sering tampil dalam acara seremonial besar tanpa memastikan keabsahan latar belakang peserta yang diundang. Hal ini dinilai berisiko menciptakan citra “acara pencitraan” yang justru kontraproduktif dengan tujuan awal membangun semangat nasionalisme di kalangan generasi muda.
Ke depan, berbagai pihak mendorong agar penyelenggara acara-acara resmi kenegaraan, termasuk yang melibatkan kampus dan organisasi kemahasiswaan, menerapkan sistem verifikasi identitas peserta yang lebih ketat sebelum kegiatan digelar, guna mencegah kontroversi serupa terulang di masa mendatang.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari manajemen Raffi Ahmad maupun Kemenpora terkait rencana evaluasi menyeluruh atas insiden berturut-turut dalam pekan ini.




















Tinggalkan Balasan