5 Bulan Disandera Somalia: Kisah Kapten Kapal RI yang Merinding

Kapten kapal MT Honour 25 Ashari Samadikun ungkap kisah 5 bulan disandera perompak Somalia. 22 kru termasuk 8 WNI akhirnya berhasil dibebaskan.
Kapten kapal MT Honour 25 Ashari Samadikun ungkap kisah 5 bulan disandera perompak Somalia. 22 kru termasuk 8 WNI akhirnya selamat dipulangkan.(foto:istimewa)

Jakarta, Ekoin.co — Kapten kapal MT Honour 25, Ashari Samadikun, untuk pertama kalinya membuka suara tentang pengalaman mengerikan selama lima bulan menjadi sandera perompak Somalia. Dalam wawancara eksklusif dengan BBC Indonesia, Ashari menangis saat mengingat detik-detik kru kapalnya berjongkok dengan senjata tertodong di kepala mereka. Kisah ini bukan hanya cerita kepahlawanan seorang pelaut, tetapi juga pengingat bahwa ancaman perompakan di perairan internasional masih sangat nyata dan warga Indonesia menjadi salah satu korbannya.

Detik-Detik Pembajakan: Senjata Api dan Teriakan

Pembajakan terjadi pada Mei 2026 ketika MT Honour 25, kapal tanker berbendera Kamerun yang mengangkut minyak mentah, melintas di Teluk Aden — jalur pelayaran paling berbahaya di dunia yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia. Ashari mengisahkan bahwa serangan terjadi dini hari saat sebagian besar kru sedang beristirahat.

Saya mendengar tembakan dan teriakan. Saat saya keluar dari kabin, saya melihat sekitar 8-10 orang bersenjata sudah naik ke kapal melalui tali dan tangga darurat. Mereka menembakkan senjata ke udara sambil berteriak dalam bahasa yang tidak saya mengerti, kenang Ashari dengan suara bergetar. Seluruh 22 awak kapal, termasuk 8 WNI, segera dikumpulkan di dek utama dan dipaksa berjongkok dengan tangan di belakang kepala.

Para perompak mengambil alih kemudi kapal dan mengarahkannya ke pantai timur Somalia. Selama perjalanan yang memakan waktu tiga hari, awak kapal tidak diberi makan dan hanya mendapat air minum terbatas. Kru saya berjongkok dan ditodong senjata. Saya sebagai kapten merasa gagal melindungi mereka. Itu perasaan paling menyakitkan yang pernah saya rasakan, kata Ashari sambil menahan tangis.

Lima Bulan di Daratan Somalia: Bertahan Hidup

Setelah tiba di pantai Somalia, para sandera dipindahkan ke sebuah kompleks bangunan tua di pedalaman. Kondisi penahanan sangat memprihatinkan: ruangan sempit tanpa ventilasi yang layak, makanan berupa nasi dan ikan kering sekali sehari, dan akses ke air bersih yang sangat terbatas.

Ashari menceritakan bahwa tekanan psikologis jauh lebih berat daripada penderitaan fisik. Para perompak secara berkala mengancam akan membunuh sandera jika tuntutan tebusan tidak dipenuhi. Mereka juga membuat video ancaman yang dikirim ke perusahaan pemilik kapal dan kedutaan besar negara-negara asal awak kapal.

Setiap hari kami tidak tahu apakah itu hari terakhir kami. Mereka kadang membangunkan kami tengah malam, menodongkan senjata, dan bertanya kapan uang tebusan datang. Saya harus tetap tenang di depan kru padahal dalam hati saya juga ketakutan, ungkap Ashari. Sebagai kapten, ia merasa bertanggung jawab menjaga moral dan kesehatan mental seluruh awak kapal.

Untuk menjaga semangat, Ashari mengorganisir rutinitas harian bagi para sandera: olahraga ringan di pagi hari, sesi cerita dan diskusi di siang hari, serta doa bersama di malam hari. Ia juga membagi jatah makanan secara adil dan memastikan anggota kru yang sakit mendapat perhatian khusus. Beberapa kru mengalami disentri dan infeksi kulit akibat kondisi sanitasi yang buruk.

Negosiasi dan Operasi Pembebasan

Proses negosiasi pembebasan melibatkan beberapa pihak: perusahaan pemilik kapal, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri, serta mediator internasional yang berpengalaman dalam kasus penyanderaan maritim. Negosiasi berlangsung alot karena perompak awalnya meminta tebusan 5 juta dolar AS — angka yang jauh di atas kemampuan perusahaan pemilik kapal.

Kementerian Luar Negeri Indonesia aktif terlibat melalui jalur diplomatik dengan pemerintah Somalia dan organisasi internasional. KBRI Nairobi, Kenya, menjadi pos koordinasi utama mengingat tidak ada perwakilan diplomatik Indonesia di Somalia. Kami melakukan segala upaya diplomatik yang memungkinkan. Keselamatan WNI adalah prioritas utama, kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri.

Setelah lima bulan negosiasi yang melelahkan, operasi pembebasan akhirnya berhasil dilakukan pada Oktober 2026 dengan keterlibatan pasukan khusus maritim internasional. Detail operasi masih dirahasiakan, namun Ashari mengonfirmasi bahwa pembebasan berlangsung cepat dan tanpa korban jiwa di pihak sandera. Saat saya melihat tentara masuk dan mengatakan kami selamat, saya langsung jatuh terduduk dan menangis. Lima bulan beban itu akhirnya terangkat, kenangnya.

Dampak dan Pelajaran: Keamanan Maritim Harus Diperkuat

Kasus MT Honour 25 menyoroti kerentanan pelaut Indonesia yang bekerja di jalur pelayaran berbahaya. Data Kementerian Perhubungan menunjukkan lebih dari 250.000 pelaut Indonesia aktif bekerja di kapal-kapal berbendera asing, banyak di antaranya melintas di perairan rawan perompakan seperti Teluk Aden, Selat Malaka, dan Teluk Guinea.

International Maritime Bureau (IMB) mencatat bahwa insiden perompakan di perairan Somalia meningkat 35 persen pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, dipicu oleh ketidakstabilan politik dan konflik bersenjata di kawasan Tanduk Afrika. Peningkatan ini terjadi setelah beberapa tahun penurunan yang membuat banyak pihak lengah terhadap ancaman perompakan Somalia.

Pakar keamanan maritim dari Universitas Pertahanan, Laksamana (Purn) Marsetio, menekankan perlunya peningkatan perlindungan bagi pelaut Indonesia. Kita perlu memastikan bahwa setiap pelaut Indonesia yang bekerja di kapal asing mendapat perlindungan asuransi yang memadai dan pelatihan keamanan maritim. Selain itu, diplomasi maritim Indonesia harus diperkuat untuk mengadvokasi keamanan pelaut kita di forum internasional, tegasnya. Kisah Ashari Samadikun adalah pengingat bahwa di balik perdagangan global yang mengandalkan jalur laut, ada manusia-manusia pemberani yang mempertaruhkan nyawa setiap hari dan mereka layak mendapat perlindungan yang jauh lebih baik dari negara dan dunia internasional.

Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Verified by MonsterInsights