Singapura Gelap Diselimuti Asap, Prosedur Darurat Disiagakan
Singapura mengalami krisis kualitas udara terburuk sepanjang 2026 setelah kabut asap tebal dari kebakaran hutan dan lahan di Sumatra Selatan serta Kalimantan menyelimuti negara kota tersebut. Indeks standar pencemar udara (PSI) 24 jam mencatatkan angka tertinggi 192 di wilayah tengah pada Jumat (9/10), melampaui batas aman 100 di seluruh area.
PSI Tembus 192, Semua Wilayah Tidak Sehat
Berdasarkan data Badan Lingkungan Hidup Nasional (NEA) Singapura pada Sabtu (10/10) pukul 07.00 waktu setempat, PSI masih berada pada level tidak sehat: 176 di wilayah tengah, 162 di barat, 157 di timur, 141 di selatan, dan 125 di utara. Meski sedikit menurun dari puncak Jumat sore, seluruh kawasan Singapura tetap melampaui ambang batas aman.
Channel News Asia melaporkan titik panas kebakaran hutan terdeteksi di Sumatra bagian selatan dan Kalimantan. Angin membawa partikel asap melintasi Selat Malaka hingga menyelimuti Singapura dengan kabut abu-abu tebal yang membuat jarak pandang menurun drastis.
Tim Darurat 28 Lembaga Disiagakan
Tim Tugas Haze Singapura yang melibatkan 28 lembaga pemerintah telah disiagakan untuk meluncurkan serangkaian prosedur darurat jika PSI melampaui angka 200. Langkah yang disiapkan meliputi pembagian masker N95 kepada warga, pembukaan posko perlindungan ber-AC di seluruh distrik, serta penghentian aktivitas luar ruangan untuk anak-anak dan pekerja lapangan.
Situasi ini terjadi bersamaan dengan gelaran F1 Singapore Grand Prix di Sirkuit Marina Bay. Pebalap Williams Carlos Sainz Jr. menyuarakan kekhawatiran terkait kesehatan para pebalap yang tetap harus beraktivitas fisik berat di luar ruangan.
Pebalap F1 Khawatirkan Kualitas Udara
Sainz mengaku memantau cermat kualitas udara dan menyebut Singapura saat ini bukan tempat paling sehat untuk bernapas mengingat polusi akibat kebakaran di Indonesia, seperti diberitakan CNBC Indonesia.
Pihak F1 dan penyelenggara lokal memastikan terus memantau situasi dan menyiapkan langkah antisipasi darurat. Hingga saat ini belum ada indikasi penundaan atau pembatalan sesi balapan.
Dampak bagi Indonesia dan ASEAN
Krisis asap lintas batas ini kembali menyoroti lemahnya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Asap dari karhutla tidak hanya mencemari udara domestik tetapi juga menjadi masalah diplomatik dengan negara tetangga. Malaysia dan Singapura secara konsisten mendesak Indonesia mengambil langkah lebih tegas mencegah kebakaran lahan.
Pemerintah Indonesia melalui BNPB sebelumnya menyatakan status siaga di beberapa provinsi di Sumatra dan Kalimantan. Namun upaya pemadaman dinilai masih belum memadai mengingat dampaknya meluas ke negara tetangga.
Situasi diproyeksikan belum akan membaik dalam beberapa hari ke depan karena musim kemarau masih berlangsung dan titik panas terus terdeteksi. Warga Singapura dan wilayah terdampak diimbau membatasi aktivitas luar ruangan dan menggunakan masker saat keluar rumah.










Tinggalkan Balasan