Trump Buka Peluang AS Serang Houthi Setelah 12 Orang Tewas dalam Serangan Bandara Arab Saudi
Ekoin.co – Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka peluang negaranya untuk bergabung dengan Arab Saudi melancarkan serangan militer terhadap kelompok Houthi di Yaman.. Pernyataan ini muncul setelah serangan rudal dan drone Houthi menghantam bandara utama di Riyadh yang menewaskan setidaknya 12 orang dan melukai puluhan lainnya pada akhir pekan lalu.
Serangan Houthi ke Bandara Riyadh
Serangan yang terjadi pada Sabtu (10/10/2026) malam waktu setempat menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, ibu kota Arab Saudi. Kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, menyatakan bahwa aksi mereka merupakan respons terhadap operasi militer koalisi pimpinan Saudi di Yaman yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Berdasarkan laporan BBC Indonesia pada Minggu (11/10/2026), serangan tersebut menggunakan kombinasi rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) yang diluncurkan dari wilayah yang dikuasai Houthi di Yaman utara. Sistem pertahanan udara Saudi berhasil mengintersep sebagian besar proyektil, namun beberapa di antaranya lolos dan mengenai area terminal bandara yang saat itu masih beroperasi.
Respons Donald Trump dan Ancaman Militer
Dalam pernyataan dari Gedung Putih, Presiden Trump menyebut serangan Houthi sebagai tindakan terorisme yang tidak bisa ditoleransi. Trump mengisyaratkan bahwa AS siap menggunakan kekuatan militer secara langsung untuk membantu Arab Saudi menghadapi ancaman Houthi, termasuk kemungkinan pengerahan aset militer tambahan di kawasan Teluk.
Pernyataan Trump ini merupakan eskalasi signifikan dari posisi AS sebelumnya yang lebih bersifat defensif dalam menghadapi ancaman Houthi. Selama ini, keterlibatan militer AS di kawasan tersebut terbatas pada perlindungan jalur pelayaran internasional di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb dari serangan Houthi terhadap kapal-kapal komersial.
Kecaman Internasional dan Dukungan untuk Saudi
Sejumlah negara termasuk Pakistan, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kuwait mengecam keras serangan Houthi terhadap bandara sipil di Riyadh. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar sidang darurat untuk membahas eskalasi konflik ini. Sekretaris Jenderal PBB menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan.
Uni Eropa juga mengeluarkan pernyataan kecaman dan menyerukan penghentian segera serangan terhadap infrastruktur sipil. Beberapa negara Eropa menyatakan kesiapan untuk mendukup upaya diplomatik guna mencegah eskalasi konflik lebih lanjut di kawasan Timur Tengah yang sudah bergejolak.
Dampak terhadap Harga Minyak dan Ekonomi Global
Serangan terhadap bandara Riyadh langsung memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak Brent naik lebih dari 3 persen dalam perdagangan Senin pagi menjadi di atas 85 dolar per barel. Para analis memperingatkan bahwa eskalasi konflik di kawasan penghasil minyak terbesar dunia ini dapat mendorong harga minyak melampaui 90 dolar per barel dalam waktu dekat.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dalam APBN 2026. Pemerintah Indonesia yang merupakan importir neto minyak mentah harus mewaspadai dampak eskalasi geopolitik ini terhadap stabilitas harga BBM domestik dan inflasi. Bank Indonesia juga perlu memantau dampaknya terhadap nilai tukar rupiah yang sensitif terhadap perubahan harga komoditas energi global.
Prospek Perdamaian Yaman Semakin Suram
Serangan terbaru ini semakin memupus harapan tercapainya perjanjian damai di Yaman. Upaya mediasi yang dipimpin PBB dan Oman selama beberapa bulan terakhir kini terancam gagal total. Para pengamat konflik memperkirakan bahwa keterlibatan langsung AS dalam operasi militer terhadap Houthi justru akan memperpanjang konflik dan meningkatkan penderitaan rakyat Yaman yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.























Tinggalkan Balasan