120 Rumah Tenggelam, 498 Jiwa Terdampak: Banjir Bandang Padang Putus Akses Jalan
Padang, Ekoin.co — Banjir bandang menerjang Kota Padang, Sumatera Barat, pada Sabtu (10/10/2026) malam, merendam 120 rumah warga, merusak bendungan, dan memutus akses jalan di sejumlah titik vital. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang mencatat setidaknya 498 jiwa di dua kecamatan terdampak langsung oleh bencana alam ini. Sehari setelah kejadian, tim SAR dan relawan masih berjibaku melakukan evakuasi dan pembersihan material lumpur yang menumpuk di permukiman penduduk.
Kronologi Banjir: Hujan Deras 8 Jam Tanpa Henti
Menurut laporan BPBD Padang, hujan deras yang mengguyur kawasan hulu selama kurang lebih delapan jam berturut-turut menjadi pemicu utama banjir bandang. Air sungai meluap dengan cepat, membawa material lumpur, kayu, dan bebatuan yang menghancurkan infrastruktur di sepanjang aliran sungai. Dua kecamatan yang paling terdampak adalah Kecamatan Koto Tangah dan Kecamatan Pauh, di mana elevasi permukaan tanah relatif rendah sehingga menjadi langganan banjir saat musim hujan.
Warga setempat menuturkan bahwa air datang secara tiba-tiba sekitar pukul 22.00 WIB. Kami sedang tidur, tiba-tiba air sudah masuk rumah setinggi lutut. Dalam hitungan menit naik sampai dada, ujar Syafrizal (47), warga Kelurahan Limau Manis Selatan, Kecamatan Pauh, kepada wartawan di lokasi bencana. Ia terpaksa mengungsikan keluarganya ke rumah tetangga yang berada di dataran lebih tinggi.
Kerusakan Masif: Bendungan Rusak, Jalan Terputus
Data BPBD Padang merinci kerusakan yang ditimbulkan banjir bandang ini cukup signifikan. Sebanyak 120 rumah terendam air dan lumpur, empat rumah mengalami rusak sedang, dan satu rumah rusak berat hingga tidak bisa dihuni. Selain itu, sebuah bendungan irigasi di kawasan hulu juga mengalami kerusakan struktural akibat derasnya arus air dan material yang terbawa.
Yang paling memperparah situasi adalah terputusnya akses jalan di beberapa titik. Jalan penghubung antarkecamatan tertutup material longsor dan lumpur setebal hingga satu meter, membuat kendaraan roda empat tidak bisa melintas. Kondisi ini menyulitkan distribusi bantuan logistik dan evakuasi warga yang masih terjebak di lokasi terdampak.
Kami harus menggunakan perahu karet dan jalur alternatif melalui perbukitan untuk menjangkau warga yang terisolasi, kata Koordinator Tim SAR Padang, Mayor Inf. Hendra Saputra, saat ditemui di posko darurat. Ia menambahkan bahwa setidaknya 15 personel SAR gabungan TNI, Polri, dan BPBD dikerahkan sejak Sabtu malam.
Dampak Ekonomi: Petani dan Pedagang Merugi Ratusan Juta
Banjir bandang tidak hanya menimbulkan kerugian material pada bangunan, tetapi juga berdampak serius terhadap perekonomian warga setempat. Lahan pertanian padi dan sayuran di Kecamatan Koto Tangah yang sedang memasuki masa panen ikut terendam dan rusak. Ketua Kelompok Tani Sejahtera, Pak Rustam, memperkirakan kerugian di sektor pertanian mencapai Rp300 juta hingga Rp500 juta.
Padi kami sudah hampir panen, tinggal 2-3 minggu lagi. Sekarang semuanya rusak terendam lumpur, keluh Rustam. Ia berharap pemerintah daerah segera memberikan bantuan benih dan pupuk agar petani bisa langsung menanam kembali setelah air surut.
Di sektor perdagangan, sejumlah toko dan warung di sepanjang jalan utama Kecamatan Pauh juga mengalami kerugian akibat barang dagangan yang terendam air. Total kerugian ekonomi yang ditimbulkan banjir bandang ini diperkirakan bisa mencapai miliaran rupiah, meskipun angka pastinya masih dalam proses pendataan oleh pemerintah daerah.
Respons Pemerintah dan Potensi Bencana Susulan
Wali Kota Padang segera menginstruksikan seluruh dinas terkait untuk bergerak cepat menangani dampak banjir bandang. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Padang telah mengerahkan alat berat untuk membersihkan material lumpur dan membuka akses jalan yang terputus. Sementara itu, Dinas Sosial mendirikan tiga posko pengungsian dengan kapasitas masing-masing 100 orang.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Padang Pariaman mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan lebat yang masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Masyarakat di daerah rawan banjir dan longsor diminta tetap waspada. Curah hujan tinggi masih berpotensi terjadi hingga pertengahan Oktober, ujar Kepala Stasiun BMKG Padang Pariaman, Dr. Andi Rahman.
Peringatan ini semakin menegaskan pentingnya kesiapsiagaan bencana, terutama di kota-kota yang berada di kawasan rawan seperti Padang. Dengan perubahan iklim yang semakin ekstrem, frekuensi dan intensitas banjir bandang diprediksi akan terus meningkat. Pakar hidrologi dari Universitas Andalas, Prof. Dr. Bambang Istijono, menyarankan agar pemerintah daerah memperkuat sistem peringatan dini berbasis komunitas dan memperbaiki infrastruktur drainase yang sudah menua.
Hingga Minggu (11/10/2026) sore, proses evakuasi dan pembersihan masih terus berlangsung. Sebagian warga sudah mulai kembali ke rumah mereka untuk membersihkan sisa lumpur, sementara yang rumahnya rusak berat masih bertahan di posko pengungsian. Bantuan dari berbagai pihak, termasuk organisasi kemanusiaan dan masyarakat umum, terus mengalir ke lokasi bencana.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v























Tinggalkan Balasan