Kiamat Sepak Bola Italia! Tiga Kali Beruntun Absen di Piala Dunia Usai Dipermalukan Bosnia
Jakarta, Ekoin.co – Timnas Italia kembali mencatatkan sejarah kelam dalam dunia sepak bola setelah gagal lolos ke ajang Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Kepastian pahit itu didapat usai Italia tumbang dari Bosnia dan Herzegovina melalui drama adu penalti di babak playoff. Kekalahan tersebut membuat juara dunia empat kali itu harus kembali menjadi penonton di turnamen sepak bola terbesar di dunia.
Kegagalan ini terasa semakin menyakitkan karena terjadi di era baru Piala Dunia dengan format 48 tim. Secara matematis, peluang Italia untuk lolos seharusnya jauh lebih besar. Namun kenyataan berkata lain, Gli Azzurri tetap tersingkir.
Berbagai analisis pun bermunculan. Mulai dari menurunnya kualitas kompetisi domestik Serie A hingga persoalan pembinaan pemain muda. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, akar masalah Italia justru terletak pada kesalahan mereka sendiri sejak fase kualifikasi.
Secara kualitas, Italia sebenarnya masih unggul. Mengacu pada data peringkat FIFA, Italia berada di posisi 13 dunia dan memiliki skuad yang relatif produktif. Dari sebelas pemain inti, hanya satu pemain yang berusia di atas 30 tahun.
Namun di lapangan, situasinya berbeda. Bosnia dan Herzegovina tampil lebih agresif dan penuh determinasi. Bahkan, tim lawan mampu melepaskan sekitar 30 tembakan sepanjang pertandingan.
Kiper Italia, Gianluigi Donnarumma, dipaksa bekerja keras dengan mencatatkan 10 penyelamatan penting. Statistik ini menjadi bukti bahwa Italia berada dalam tekanan besar sepanjang laga.
Pelatih Italia, Gennaro Gattuso, sempat menyoroti aspek mental dan semangat juang timnya. Namun pernyataan tersebut justru menuai kritik, mengingat Bosnia menunjukkan determinasi yang tak kalah tinggi, meski datang dengan kondisi fisik yang lebih terkuras.
Masalah utama Italia sejatinya sudah muncul sejak fase kualifikasi. Kekalahan dari Norwegia menjadi titik krusial yang memaksa mereka masuk jalur playoff—fase yang dikenal sangat berisiko karena hanya mengandalkan satu pertandingan penentuan.
Dalam format hidup-mati seperti itu, satu kesalahan kecil bisa berujung fatal. Dan kali ini, Italia harus kembali membayar mahal kesalahan mereka sendiri.






















Tinggalkan Balasan